Cerpen  

Cerpen : Penghuni Gelap

Cerpen Penghuni Gelap

Poros Media, Cerpen Penghuni Gelap – Tuk..tuk..tuk..tuk.. suara dari arah pintu di kamar kosong. Suara itu terdengar lagi, hampir tiap malam suara itu terdengar dari kamar kosong di depan kamarku.

Sebenarnya aku penasaran, ingin sekali aku mengintip ke balik pintu itu. Tapi nyaliku ciut, aku takut.

Mama dan papaku sering bepergian keluar kota untuk urusan pekerjaan. Sudah satu Minggu mereka ada di pulau Kalimantan, aku menginap di rumah nenek.

“Neng Nadia ayo bangun! udah siang, nanti terlambat ke sekolah.”  ucap Bi Marni.

Bi Marni bertugas beberes dan memasak di rumah nenek. Ia akan pulang pada pukul 3 sore dan kembali keesokan harinya pukul 6 pagi.

“Iya Bi,” ucap Nadia sambil menarik kembali selimut nya.

Semalam Nadia kurang tidur, karena terganggu suara berisik itu.

Sesampainya di sekolah Nadia bercerita kepada Amira sahabatnya.

“Setiap malam aku tak bisa tidur, aku terganggu dengan suara berisik di balik pintu kamar kosong depan kamarku,” ucapnya.

“Suara apa itu?” Ucap Amira .

“Aku tak tahu, aku tak berani membuka pintu itu.” ujar Nadia.

Baca juga:  Markotop dan Kemetak: Ayam Pulang ke Kandang Ayam

Sepulang sekolah, Amira main ke rumah Nadia.  Mereka ingin tau ada apa di kamar kosong itu.

Sesampainya di rumah Nadia, mereka mencoba membuka pintu kamar itu.

“Krekk..” suara pintu berderit. Lampu di kamar itu gelap, Nadia  menekan saklar lampu. Ah, ternyata lampunya mati. Penerangan hanya dari balik  jendela yang tertutup gorden.

Amira mengikuti langkah kaki Nadia. Ruangan itu pengap dan berdebu. Baru beberapa langkah, tiba-tiba ada yang menepuk punggung Amira.  Amira meloncat karena kaget. Mereka menutup mata, tak berani melihat ke belakang.

Mereka berteriak, “aaaaaa…”
“Nadiaaaa… Ini nenek,” terdengar suara nenek. Nadia dan Amira membuka mata.

“Oh nenek bikin kaget aja,” kata Nadia kesal.

“Kalian sedang apa di sini?” Ujar nenek.

Mereka pun keluar dari kamar itu, kemudian duduk di meja makan. Bi Marni menyajikan Sup daging dan perkedel kentang kesukaan Nadia. Mereka melingkar di meja makan.

Sambil makan nenek bercerita, bawa kamar itu dulunya adalah ruangan tempat kakek melukis. Kakek Nadia adalah seorang seniman Lukis. Di kamar kosong itu masing tersimpan sebagian karya lukis kakek.

Baca juga:  Markotop dan Kemetak: Biar Tidak Repot, Kawin Lagi

Nadia bercerita jika sudah beberapa hari ini ia mendengar suara berisik dari kamar itu. Pintu kamar itu tidak pernah dibuka lagi sejak Kakek meninggal dunia beberapa tahun lalu. Nenek mengajak Bi Marni, Nadia dan Amira untuk membersihkan kamar itu pada hari Minggu pagi.

Hari Sabtu Mama dan Papa Nadia pulang dari Kalimantan. Kepada mama papa Nadia menceritakan rencananya bersama nenek untuk membuka kamar itu pada esok hari.

Hari Minggu yang cerah, Nenek, Nadia, Amira, Mama dan Papa ikut serta membuka kamar kosong itu. Pintu dan jendela dibuka agar udara segar bisa masuk. Papa memasang lampu baru, ruangan menjadi terang.

Ruangan itu cukup besar. Tampak kanvas dengan berbagai ukuran, juga aneka lukisan karya kakek yang ditutup kain putih. Debu berterbangan, bau lembab menyengat. Kami terbatuk-batuk.

Amira dan Nadia masih penasaran dengan suara berisik itu.

“dari mana asal suara itu?” bisik Amira pada Nadia.

Mereka membereskan barang kakek satu per satu, menyimpannya di halaman rumah nenek yang luas. Ruangan itu akan dikosongkan sementara dan Papa akan memanggil tukang untuk merenovasi ruangan itu.

Baca juga:  Revolusi Pola Pikir: Kunci Keberhasilan Hidup

Amira melihat sebuah peti besar. Ia mengajak Nadia untuk membukanya.

Amira dan Nadia membuka peti itu. Setelah dibuka, mereka menjerit “aaaaaaaa…..”

Berhamburan makhluk hitam meloncat keluar dari peti itu, makhluk hitam ada yang besar dan kecil, makhluk itu berbulu dan berkumis.

Yaaa, mereka tikus-tikus yang bersarang di ruangan itu. Bau menyengat tikus menyeruak di ruangan itu.

Nadia dan Amira rasanya ingin muntah. Mereka keluar dari ruangan Itu dan mereka tertawa.

“hahha.. ternyata suara berisik itu berasal dari keluarga tikus yang menumpang di kamar itu..” ujar Amira.

Nadia dan Amira kini tak perlu takut lagi, karena ternyata itu bukan suara hantu, seperti di dalam novel-novel misteri.

👣👣
Beberapa waktu kemudian, ketika Amira dan Nadia berkunjung kembali ke rumah nenek. Kamar itu sudah bersih.

Berjejer hasil karya lukisan  kakek yang indah. Ruangan itu telah menjadi sebuah galeri seni lukis. Penikmat karya seni lukisan boleh berkunjung kapan saja untuk menikmati lukisan hasil karya kakek.

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *