Mengetuk Pintu Langit di Usia Senja: Kisah Pak Maman Mencari Keadilan untuk Sang Anak

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Di sebuah sudut pemukiman di Kota Bandung, hidup seorang pria sepuh berusia 75 tahun bernama Pak Maman (nama samaran). Raut wajahnya yang tenang menyimpan beban batin yang teramat dalam. Sebagai purnabakti PT Dirgantara Indonesia yang kini hidup menyendiri setelah istrinya berpulang pada 2017, hari-hari Pak Maman kini tak lagi soal menikmati masa pensiun, melainkan tentang sebuah ikhtiar terakhir bagi putranya.

​Kisah pilu ini bermula beberapa tahun lalu. Putranya, sebut saja Iwan, yang saat itu sedang menganggur selama enam bulan dan mengalami tekanan ekonomi hebat hingga keretakan rumah tangga, mencoba mencari peruntungan sebagai kurir paket.

​Namun, paket yang ia terima di wilayah Cibogo ternyata menjadi pintu masuk menuju jeruji besi. Tanpa mengetahui isi di dalamnya, Iwan diamankan oleh pihak berwajib. Pak Maman mengenang malam itu dengan getir; bagaimana sang anak yang hanya berniat mencari nafkah jujur, justru terjerat kasus hukum yang berat.

​”Waktu itu Iwan cuma bilang, ‘Pa, doakan Iwan mau wawancara kerja jadi tukang antar paket.’ Saya tidak menyangka itu akan menjadi awal dari perpisahan kami,” kenang Pak Maman dengan suara bergetar.

Baca juga:  Skandal Satelit Kemenhan: Potret Buram Tata Kelola Pertahanan Nasional

​Kegetiran Pak Maman memuncak saat proses persidangan. Sebagai orang awam yang buta hukum dan tidak memiliki biaya, ia menyaksikan putranya divonis 7 tahun 2 bulan penjara tanpa adanya pendampingan kuasa hukum yang maksimal atau pembelaan yang berarti.

​”Saya lemas keluar dari pengadilan. Berjalan sendirian dengan rasa bingung, bagaimana mungkin anak saya yang diduga dijebak harus menanggung beban seberat itu tanpa ada yang membela,” ungkapnya.

​Yang membuat kisah ini semakin menyesakkan adalah posisi Pak Maman yang harus menjaga nama baik keluarga besar. Di satu sisi, ia ingin berteriak meminta tolong. Di sisi lain, ia harus menutupi kenyataan pahit ini dari kerabatnya yang banyak mengabdi sebagai perwira di kepolisian dan TNI demi menjaga kehormatan keluarga besar dan besannya.

​Selama bertahun-tahun, rahasia ini ia simpan rapat. Namun, kasih sayang seorang ayah mengalahkan rasa malunya. Di usia yang sudah mencapai “bonus umur” dari Sang Pencipta, Pak Maman memiliki satu keinginan terakhir: Menemui tokoh kemanusiaan, Kang Dedi Mulyadi (KDM).

Baca juga:  Guru Bahasa yang Serba Bisa: Dari Ruang Kelas hingga Panggung Besar, Ketika Keberanian Jadi Jalan Hidup

​Pak Maman berharap bisa menyampaikan curahan hatinya langsung kepada Kang Dedi Mulyadi di Lembur Pakuan. Ia tidak meminta sesuatu yang muluk, ia hanya mendambakan secercah keadilan, bantuan hukum, atau sekadar arahan bagaimana seorang ayah yang sudah renta bisa memulihkan nama baik dan nasib anaknya.

​”Saya hanya ingin Husnul Khotimah. Sebelum mata ini tertutup, saya ingin melihat ada keadilan bagi anak saya. Saya percaya Kang Dedi punya hati untuk mendengar rakyat kecil seperti saya,” pungkasnya.

​Kisah Pak Maman adalah pengingat bagi kita semua, bahwa di balik dinding penjara dan prosedur hukum yang kaku, ada hati seorang ayah yang terus berdenyut, berharap pada mukjizat dan kebaikan hati sesama manusia.