Porosmedia.com, Bandung – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan refleksi menarik tentang perjalanan hidup dan filosofi kepemimpinannya saat berbicara di Pendopo Kota Bandung, dalam kegiatan silaturahmi bersama para ustaz senior dan komunitas pemikir muda “Nasir Muda”, Selasa, (14/10/2025) malam.
Dalam suasana akrab dan penuh semangat, Farhan menuturkan bahwa kepulangannya ke Bandung setelah berkarier di Jakarta merupakan bentuk kebahagiaan tersendiri. “Karena masa di Jakarta jauh lebih ribet dari perasaan Saribanya. Jadi saya alhamdulillah bisa pulang kampung lagi. Nah, inilah yang membuat saya bahagia,” ujarnya disambut tepuk tangan hangat.

Menurut Farhan, pembentukan komunitas Nasir Muda bukan sekadar ajang formalitas, tetapi sebuah “kristalisasi semangat” bagi generasi muda untuk tetap teguh terhadap tujuan, tanpa kehilangan keterbukaan terhadap perubahan zaman.
“Seorang nasir itu teguh terhadap niat awal dan tujuan akhir, tapi tidak menutup diri dari pergaulan,” ucap Farhan menegaskan.
Ia juga menyinggung pengalamannya pribadi yang dianggap sebagai fase pembelajaran berharga. “Saya sama Erwin ini termasuk yang beruntung. Karena akhirnya diberi hidayah. Kalau tidak, mungkin sudah ke mana-mana arahnya,” kata Farhan sambil tersenyum.
Dalam kesempatan itu, Farhan turut menyinggung perhatiannya terhadap tata ruang dan perilaku sosial masyarakat di Kota Bandung. Ia menuturkan bahwa sejak awal menjabat, dirinya menutup titik-titik rawan seperti lokasi prostitusi ilegal, peredaran obat terlarang, dan minuman keras ilegal.
Namun di balik itu, ia juga menemukan fenomena positif yang khas Bandung: munculnya ekosistem nongkrong sehat.
“Ada tempat ngopi buka 24 jam. Nggak ada yang mabuk, nggak ada alkohol, tapi ramai. Isinya anak-anak muda, buka laptop, kerja, diskusi. Ini keren!,” ujarnya antusias.
Farhan menyebut fenomena tersebut sebagai bentuk perubahan ekosistem sosial yang selaras dengan semangat Bandung kreatif dan beradab.
“Sekarang ngopi sampai jam 4 pagi tidak melanggar hukum agama maupun hukum negara. Tapi kalau minum alkohol jam 7 pagi, jelas banyak hukum yang dilanggar,” tambahnya disambut tawa hadirin.
Di akhir sambutannya, Farhan mengajak para peserta untuk terus menghidupkan kegiatan-kegiatan rutin di Pendopo Bandung sebagai ruang berpikir dan berkolaborasi.
“Silakan manfaatkan Pendopo ini. Ini bukan rumah saya, saya cuma ngontrak lima tahun, boleh diperpanjang sekali. Jadi, mumpung masih ada waktu, gunakan sebaik-baiknya,” tuturnya disambut aplaus.
Acara tersebut menjadi momentum kebersamaan antara pemimpin, ulama, dan kaum muda Bandung untuk memperkuat semangat kolaborasi dalam membangun kota yang religius, kreatif, dan terbuka terhadap kemajuan zaman — sesuai dengan ruh Nasir Muda yang digaungkan malam itu.







