Urgensi Integrasi Karakter dalam Pembelajaran: Mengapa Karakter Sulit Terbentuk di Lembaga Pendidikan?

Avatar photo

Oleh: Prof. Dr. Toto Sutarto Gani Utari, M.Pd. (Akademisi dan Pengamat Pendidikan)

Porosmedia.com – ​Hakekat mendidik adalah upaya sadar untuk membangun dan membentuk perilaku positif pada peserta didik. Secara konseptual, apabila perilaku yang terbentuk justru bersifat negatif, maka sejatinya proses pendidikan belum terjadi. Mengajar pun pada dasarnya membentuk perilaku; perbedaannya terletak pada kompleksitas luaran perilaku yang dihasilkan, yang sering kali mencampuradukkan aspek kognitif dengan kecenderungan perilaku tertentu.

​Perilaku yang terbentuk secara menetap dan konsisten inilah yang kita sebut sebagai karakter. Dengan demikian, aktivitas mendidik maupun mengajar seharusnya bermuara pada pembentukan karakter. Namun, dalam implementasinya, sering terjadi kerancuan. Banyak praktisi pendidikan yang terjebak pada aktivitas “mengajar” (transfer pengetahuan) sementara mereka meyakini sedang “mendidik”. Akibatnya, munculnya perilaku negatif di kalangan lulusan sering kali salah kaprah dianggap sebagai hasil pendidikan, padahal hal tersebut merupakan dampak dari ketidakpahaman pendidik terhadap esensi pendidikan itu sendiri.

​Membangun karakter peserta didik di lingkungan sekolah idealnya tidak boleh terfragmentasi dari mata pelajaran. Karakter harus diintegrasikan ke dalam substansi setiap mata pelajaran (interdisipliner). Apabila pembangunan karakter dipisahkan dari proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) reguler, ia akan menjadi nilai-nilai yang berdiri sendiri di luar struktur kurikulum inti.

Baca juga:  Dandim 0601/Pandeglang Hadiri Grand Launching SPPG Cahaya Baru Bangkonol, Upaya Bersama Wujudkan Generasi Sehat dan Cerdas

​Fenomena saat ini menunjukkan adanya kecenderungan membangun karakter hanya melalui kegiatan di luar jam pelajaran (ekstrakurikuler). Meskipun kegiatan tersebut dapat memberikan hasil positif, luaran karakternya sering kali terlepas dari nilai-nilai substantif yang seharusnya muncul dari pembelajaran di kelas. Hal ini memicu stigma keliru bahwa sekolah dianggap gagal membentuk karakter jika tidak memiliki program ekstrakurikuler yang masif, padahal inti karakter seharusnya ditanamkan oleh setiap guru mata pelajaran.

​Apakah program ekstrakurikuler itu baik? Tentu saja, dengan syarat mutlak:

  1. Pengawasan Ketat: Harus berada di bawah supervisi langsung pimpinan sekolah.
  2. Internalisasi Institusi: Pembina idealnya berasal dari unsur internal sekolah guna menjamin keselarasan visi.

​Manfaat utama ekstrakurikuler adalah penguatan soft skill dan pembentukan karakter spesifik yang tidak terakomodasi sepenuhnya dalam kurikulum reguler, seperti bakat olahraga atau seni. Namun, karakter fundamental lainnya sebenarnya dapat dibentuk melalui pelajaran reguler jika setiap guru memahami metodologi pembentukan karakter.

​Kegiatan seperti Pramuka merupakan sarana pembentukan karakter sebagai bekal hidup. Namun, program semacam ini harus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan menghindari pola rutinitas yang monoton. Kejenuhan pada peserta didik maupun pembina berisiko memicu perilaku menyimpang yang justru memanfaatkan momentum kegiatan tersebut untuk hal-hal negatif.

Baca juga:  Calon Pengantin di Cimahi Akan dapat Pembinaan untuk Hindari Stunting

​Perilaku menyimpang yang dilakukan oleh pembina maupun peserta didik—jika dibiarkan—akan mengkristal menjadi karakter permanen yang sangat sulit diperbaiki. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama sinergis antara pihak sekolah dengan organisasi induk ekstrakurikuler terkait untuk memastikan standar etika dan keamanan terjaga.

​Salah satu langkah strategis yang perlu ditempuh adalah mengupayakan agar nilai-nilai dalam ekstrakurikuler dapat terinternalisasi ke dalam pembelajaran reguler. Kendala utama saat ini adalah masih banyak guru mata pelajaran yang belum sepenuhnya memahami konsep pembentukan karakter, sehingga peserta didik kesulitan mengaplikasikan hasil belajarnya dalam kehidupan sehari-hari.

​Masalah ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah program luar kelas. Solusi fundamentalnya adalah melalui pembinaan berkelanjutan bagi tenaga pendidik agar memiliki kompetensi pedagogis dalam membangun karakter. Sangat ironis jika seorang pembina yang seharusnya menjadi teladan justru memiliki perilaku menyimpang. Hal ini merupakan persoalan serius yang memerlukan perhatian kolektif dan tindakan tegas demi masa depan generasi bangsa.