Preservasi Budaya Lokal: Komunitas Not So Morning Club Kampanyekan Tradisi Berkain di Kota Bandung

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Komunitas jalan kaki Not So Morning Club menggelar aksi jalan pagi bertajuk “Agustusan di Belitung” di kawasan Belitung, Kota Bandung, Minggu (16/8/2026). Inisiatif ini memadukan olahraga ringan, perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan RI, serta gerakan sosial pelestarian kain dan batik tradisional sebagai busana harian.

​Langkah tersebut diambil sebagai respon atas semakin terpinggirkannya identitas kedaerahan di era modernisasi, sekaligus sebagai upaya rekontekstualisasi penggunaan kain tradisional di luar batasan acara formal.

​Respon Positif Generasi Muda

​Penggunaan batik dan kain tradisional yang dipadukan dengan konsep santai dinilai efektif mengikis resistensi dan rasa canggung di kalangan generasi muda.

​Salah seorang peserta, Rizki, mengungkapkan bahwa pendekatan ini memberi warna baru dalam memahami tradisi lokal. Menurutnya, kecenderungan pemuda yang selama ini enggan mengenakan kain karena terbentur stigma formalitas mulai bergeser.

​”Sangat menarik dan unik. Di masa remaja kita jarang banget pakai kain, bahkan malu. Konsep seperti ini membuat kita lebih tertarik pada budaya Indonesia,” tuturnya.

​Inisiatif ini juga mendapat dukungan dari peserta lain, Rija. Ia menyoroti pentingnya normalisasi budaya berkain agar tidak tergerus oleh ekspansi tren busana asing.

​”Budaya berkain hampir redup oleh budaya luar. Lebih baik kita normalisasikan. Berkain itu tetap bisa stylish dan keren untuk bermain atau jalan-jalan,” tegas Rija.

​Senada dengan hal tersebut, Andi menegaskan bahwa diplomasi kebudayaan paling efektif justru bermula dari kebiasaan sederhana yang konsisten. “Kita diingatkan lagi bahwa kebudayaan kita yang sebenarnya adalah berkain,” ujarnya.

​Integrasi Olahraga Komunitas dan Tradisi

​Selain menyoroti aspek pakaian tradisional, perhelatan ini juga diisi dengan interaksi sosial berupa beragam perlombaan khas 17 Agustus.

​Perwakilan komunitas Not So Morning Club, Azhar, menjelaskan bahwa fokus utama gerakan mereka tetap berlandaskan pada olahraga jalan pagi (morning walk) rutin, yang kemudian diselaraskan dengan momentum peringatan kemerdekaan.

​”Karena temanya Agustusan, kegiatan yang biasanya fun games kita buat menyerupai lomba. Namun, core event-nya tetap morning walk sebagai rutinitas akhir pekan kami,” terang Azhar.

​Melalui kegiatan ini, komunitas tersebut membuktikan bahwa penguatan nilai-nilai kebudayaan dan nasionalisme tidak harus selalu bersandarkan pada seremoni kaku. Pendekatan berbasis komunitas dan aktivitas inklusif terbukti menjadi media yang relevan dalam merawat identitas budaya di ruang publik.