Porosmedia.com – Narasi pertumbuhan ekonomi makro yang kerap dipuja-puji dalam angka statistik, sebuah pertanyaan getir terus bergema di gang-gang sempit dan pasar tradisional: Mengapa kesejahteraan terasa seperti barang mewah yang hanya bisa dibeli segelintir orang?
Ketika angka PDB meningkat namun piring makan rakyat tak kunjung penuh, kita perlu berani jujur bahwa ada yang salah dalam distribusi “pulih”. Indonesia saat ini berada di persimpangan antara amarah yang dipendam, kepasrahan yang bermartabat, dan upaya mandiri yang berdarah-darah.
Sulitnya masyarakat untuk bangkit bukan karena kurangnya kemauan, melainkan karena fasilitas pemulihan sering kali terbentur tembok, bukan pintu. Birokrasi kita, meski telah menyentuh ranah digital, acap kali masih terjebak dalam mentalitas “kalau bisa dipersulit, mengapa dipermudah?”.
Bantuan Sosial (Bansos) pun sering kali hanya menjadi obat pereda nyeri sesaat, bukan antibiotik yang menyembuhkan akar kemiskinan. Tanpa integrasi pada akses modal dan pasar, rakyat hanya difasilitasi untuk “makan hari ini”, bukan untuk “mandiri besok hari”. Akibatnya, biaya untuk menjadi sejahtera di Indonesia menjadi sangat mahal secara operasional dan mental.
Namun, di balik kegagalan sistemik tersebut, bangsa ini memiliki satu harta karun yang jarang masuk dalam hitungan neraca ekonomi: Family Heritage atau Warisan Kekeluargaan. Inilah kekayaan hakiki yang membuat Indonesia tidak hancur lebur saat krisis menghantam.
Ketika negara belum hadir sepenuhnya sebagai jaring pengaman, “keluarga besar” mengambil alih peran tersebut. Sistem “numpang hidup” sementara di rumah saudara atau modal usaha dari pinjaman tanpa bunga antar-kerabat adalah bentuk asuransi sosial alami yang tidak dimiliki bangsa Barat yang individualis. Inilah yang mencegah depresi massal dan kerusuhan di tengah sulitnya mencari uang.
Respons masyarakat kita terhadap kesulitan ekonomi sangatlah unik. Alih-alih meledak dalam amarah yang destruktif, rakyat Indonesia cenderung mengubah frustrasi menjadi energi bertahan hidup (survival mode).
|
Spektrum Respons |
Manifestasi Sosial |
|---|---|
|
Nrimo (Adaptatif) |
Menekan pengeluaran secara ekstrem demi kelangsungan hidup keluarga. |
|
Kritik Digital |
Penyaluran amarah melalui media sosial sebagai bentuk katarsis kolektif. |
|
Hustle Culture Rakyat |
Mengambil |
Fenomena ini bukanlah “mengalah pada nasib”, melainkan sebuah perlawanan sunyi. Rakyat menciptakan ekosistemnya sendiri melalui komunitas dan gotong royong sebagai bentuk Self-Help di tengah minimnya fasilitas negara.
Maju dengan konsep sendiri di Indonesia memang terasa seperti melawan arus. Tekanan sosial untuk “seragam” dan sulitnya akses pendanaan formal sering kali membuat mimpi-mimpi inovasi lokal terasa seperti khayalan.
Namun, sejarah membuktikan bahwa mereka yang berani memodernisasi kearifan lokal—dengan memanfaatkan internet sebagai great equalizer—adalah mereka yang akan memimpin di masa depan. Kita tidak perlu meniru mentah-mentah konsep kemajuan luar negeri jika kita punya modal sosial dan nilai kekeluargaan yang begitu kuat.
Sejahtera mungkin mahal, tapi ketangguhan bangsa ini jauh lebih berharga. Sudah saatnya kebijakan publik tidak hanya membangun fisik, tapi juga memfasilitasi kapasitas manusia dan melindungi aset terbesar kita: jaring pengaman sosial berbasis keluarga.
Sudrajat







