​Dari Sembako ke “Sepbako”: Ketika Uang Menjadi Oksigen Baru dalam Ekonomi Global

Avatar photo

Porosmedia.com – ​Dulu, grup musik legendaris Koes Plus pernah mendendangkan lirik ikonik: “Hati senang walaupun tak punya uang.” Di era Orde Baru, lirik itu mungkin terasa seperti oase kesederhanaan. Namun, melompat ke tahun 2026, lirik tersebut kini terdengar seperti romantisasi masa lalu yang sulit diaplikasikan.

​Hari ini, realitas berbicara lain. Kita tidak lagi sekadar hidup dalam ruang sosial, melainkan dalam ruang transaksi. Jika dulu kita mengenal sembilan bahan pokok (Sembako), mungkin kini sudah saatnya istilah itu berevolusi menjadi “Sepbako” (Sepuluh Bahan Pokok), di mana variabel kesepuluh—sekaligus yang utama—adalah Uang.

​Filsafat ekonomi klasik menyebutkan “There’s no such thing as a free lunch” (tidak ada makan siang gratis). Di era globalisasi yang kian agresif, adagium ini mencapai titik ekstremnya.

​Ambil contoh paling sederhana: Wudu. Secara spiritual, air adalah rahmat Tuhan. Namun, secara mekanis di tengah krisis lingkungan dan modernisasi, air untuk wudu tidak lagi turun begitu saja dari langit ke tangan kita. Ada biaya listrik untuk pompa, biaya perawatan pipa, hingga pajak air tanah. Di sungai-sungai besar, polusi telah merampas hak warga atas air gratis yang layak. Artinya, bahkan untuk bersuci menghadap Sang Pencipta pun, uang menjadi perantara teknis yang tak terelakkan.

Baca juga:  Inilah Sanksi Melanggar Perda Kota Bandung No. 9 Tahun 2019

​Dalam diskusi publik, sering kali kita terjebak pada gejala, bukan akar. Namun, secara jujur harus diakui bahwa uang telah menjadi “pikiran bawah sadar” kolektif kita. Mengapa? Karena uang bukan lagi sekadar alat tukar, melainkan instrumen kelangsungan hidup (survival tool).

Era Inpres dan Efisiensi: Di bawah arahan kebijakan pemerintah saat ini, termasuk Instruksi Presiden (Inpres) Presiden Prabowo yang menekankan pada efisiensi dan penguatan ekonomi domestik, perputaran uang menjadi napas utama pembangunan.

Ketergantungan Global: Kita berada di era di mana rantai pasok global membuat harga cabai di pasar lokal bisa dipengaruhi oleh harga minyak dunia atau fluktuasi kurs. Tanpa daya beli (uang), akses terhadap gizi dan kesehatan menjadi tertutup.

​Menempatkan uang sebagai kebutuhan pokok kesepuluh bukanlah bentuk materialisme buta, melainkan sebuah kejujuran sosiologis. Ketika uang absen, layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, hingga sanitasi dasar menjadi lumpuh.

​Kita harus berhenti berpura-pura bahwa ekonomi bisa berjalan hanya dengan semangat. Opini kritisnya adalah: Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa meskipun uang adalah kebutuhan pokok, akses untuk mendapatkannya harus setara dan berkeadilan. Jangan sampai “Sepbako” ini hanya menjadi milik segelintir orang, sementara sisanya hanya bisa mengenang lagu Koes Plus sambil menatap dompet yang kosong.

Baca juga:  GKR Hemas: Harmonisasi Legislasi Jadi Fondasi Kemandirian Daerah yang Efektif

​Uang memang menjadi nomor satu dalam kebutuhan fisik di era global, namun ia tidak boleh menjadi nomor satu dalam nilai kemanusiaan. Vitalitas uang dalam kehidupan modern adalah fakta yang tak terbantahkan—sebuah mesin yang menggerakkan peradaban. Tugas kita sekarang adalah memastikan mesin itu bekerja untuk menyejahterakan semua, bukan justru mematikan kemanusiaan kita.

Irwan Nurwansyah