Porosmedia.com, Kab. Bandung – National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Bandung terus mematangkan persiapan menjelang Pekan Paralympic Daerah (Peparda) Jawa Barat 2026 yang akan digelar di Kota Bandung. Meski menghadapi tantangan pemotongan anggaran yang signifikan, komitmen pembinaan atlet tetap menjadi prioritas utama.
Ketua NPCI Kabupaten Bandung, Seni Aprilianty, S.Pd.I., mengungkapkan bahwa pihaknya telah memulai program Training Center (TC) sejak Maret 2026. Langkah ini diambil untuk menjaga konsistensi performa atlet, mengingat karakteristik pembinaan atlet disabilitas yang memerlukan pendampingan berkelanjutan.
”TC adalah kunci. Tanpa latihan terpusat, atlet-atlet kami akan sulit berkembang karena adanya berbagai faktor kendala, mulai dari kondisi fisik hingga aksesibilitas. Maka dari itu, meskipun kepastian anggaran baru muncul belakangan, kami memutuskan untuk tetap tancap gas sejak Maret,” ujar Seni saat ditemui di Sekretariat NPCI Kabupaten Bandung, kawasan Stadion Si Jalak Harupat.
Seni tidak menampik bahwa kondisi anggaran tahun ini cukup menantang. Dari pengajuan sebesar Rp15 miliar, anggaran yang disetujui saat ini berkisar di angka Rp1,6 miliar. Hal ini memaksa NPCI Kabupaten Bandung melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk penyesuaian jumlah kontingen.
”Awalnya dengan skema tuan rumah di Indramayu (Plan A), kami hanya sanggup memberangkatkan sekitar 30 atlet. Namun, dengan kepastian Peparda dilaksanakan di Kota Bandung (Plan B), beban akomodasi menjadi lebih ringan sehingga kami bisa memaksimalkan hingga 100 atlet,” jelasnya.
Satu hal yang menjadi kebanggaan NPCI Kabupaten Bandung adalah kemandirian dalam pembinaan. Sekitar 60% atlet yang akan diturunkan merupakan hasil pembinaan dari nol, bukan hasil mutasi instan dari daerah lain.
”Kami memiliki keuntungan dengan program TC sepanjang tahun yang didukung penuh oleh Pak Bupati Dadang Supriatna dan Dispora. Fokus kami adalah progres jangka panjang, bukan sekadar mengejar prestasi sesaat,” tambah Seni.
Mengenai target medali, Seni bersikap realistis. Adanya aturan baru yang membatasi nomor pertandingan bagi atlet elit (eks-Peparnas) serta ditiadakannya kategori tuna rungu wicara pada Peparda kali ini diprediksi akan menurunkan perolehan medali secara umum di seluruh Jawa Barat.
”Kabupaten Bandung sangat terdampak karena kontribusi medali dari tuna rungu wicara di Peparda sebelumnya mencapai 30%. Untuk saat ini, kami menargetkan di bawah 50 medali emas. Ini angka yang realistis dengan kondisi regulasi yang ada sekarang,” tuturnya.
Di bawah kepemimpinan Seni Aprilianty, NPCI Kabupaten Bandung menunjukkan sinergi yang solid dengan KONI dan Pemerintah Daerah. Seni menegaskan bahwa di Kabupaten Bandung tidak ada lagi dikotomi antara olahraga umum dan olahraga disabilitas.
Menutup keterangannya, Seni menyampaikan harapan besar bagi masa depan olahraga prestasi di Jawa Barat.
“Olahraga prestasi, baik KONI maupun NPCI, memerlukan perhatian, fasilitas, dan biaya yang tidak sedikit. Kami berharap pemerintah provinsi terus menjadikan olahraga prestasi sebagai prioritas, karena bangsa yang besar tercermin dari prestasi olahraganya yang tinggi,” pungkasnya.







