Inovasi Ketahanan Pangan, Yayasan Sari Manah Hadirkan Pupuk Organik Berbasis Bahan Herbal

Avatar photo

Porosmedia.com, Kab. Cianjur – Dalam upaya mendukung program ketahanan pangan nasional dan meningkatkan produktivitas sektor pertanian, Yayasan Sari Manah secara resmi memperkenalkan lini produk pupuk organik multifungsi. Inovasi ini hadir dalam dua bentuk utama: Pupuk Hayati Cair (PHC) dan Pupuk Organik Padat hasil fermentasi kotoran hewan (kohe) domba.

​Ketua Yayasan Sari Manah, Iwan Warman Bin Candra, menyatakan bahwa produk ini dikembangkan sebagai solusi alternatif bagi petani yang menginginkan hasil panen melimpah tanpa bergantung pada bahan kimia sintetis.

​”Kami memproduksi pupuk serbaguna yang telah melalui rangkaian uji coba dengan hasil yang sangat memuaskan. Keunggulan utama produk kami adalah komposisinya yang 100% menggunakan bahan herbal dan organik, tanpa campuran bahan kimia dasar,” ujar Iwan Warman dalam keterangannya, Minggu (10/5).

Efisiensi dan Peningkatan Hasil Panen

Iwan menjelaskan, penggunaan integrasi antara pupuk padat dan cair miliknya diproyeksikan mampu meningkatkan hasil produksi gabah secara signifikan. Berdasarkan pemantauan teknis di lapangan, pola pemupukan yang tepat berpotensi menghasilkan hingga 15 ton gabah per hektar.

Baca juga:  Mencari 3 Deputy Badan Pangan Nasional!

​”Satu galon kemasan 5 liter Pupuk Hayati Cair kami memiliki konsentrasi tinggi. Dengan perbandingan 1 liter pupuk berbanding 200 liter air, satu kemasan 5 liter bisa menghasilkan 1.000 liter pupuk siap pakai yang cukup untuk meng-cover satu hektar lahan sawah,” tambahnya.

Metode Pengaplikasian Tepat Guna

Secara teknis, Yayasan Sari Manah memberikan panduan bagi para petani untuk mendapatkan hasil optimal. Pada minggu pertama penanaman padi, lahan diberikan Pupuk Organik Padat (Fermentasi Kohe Domba) sebagai dasar nutrisi tanah pengganti pupuk urea atau NPK kimia.

​Selanjutnya, perawatan dilakukan menggunakan Pupuk Hayati Cair secara berkala hingga usia tanaman mencapai 50 hari. Metode ini diklaim mampu mempercepat masa tunggu panen hingga sekitar 25 hari setelah masa pemupukan cair berakhir.

Ekonomis dan Ramah Lingkungan

Selain keunggulan pada hasil panen, sisi ekonomis juga menjadi perhatian Yayasan Sari Manah. Pupuk Organik Padat kemasan 5 kg dibanderol dengan harga Rp15.000, sementara Pupuk Hayati Cair kemasan 5 liter yang mampu menjangkau satu hektar lahan dipasarkan seharga Rp500.000.

Baca juga:  Manajemen Hotel Bumi Wiyata sampaikan Klarifikasi terkait tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan

​Langkah Yayasan Sari Manah ini diharapkan tidak hanya membantu kesejahteraan petani dari sisi biaya produksi, tetapi juga menjaga ekosistem tanah agar tetap sehat dan berkelanjutan untuk masa depan pertanian Indonesia.

​”Ini adalah wujud komitmen kami dalam menyediakan input pertanian yang alami, sehat, dan bermanfaat bagi mahluk hidup maupun lingkungan,” tutup Iwan. (red)

Salinan dari PPT kaju organik