Belajar dari Jepang, Bergerak di Cicadas: Misi Kemanusiaan PERWASI IWS untuk Disabilitas

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Di sebuah sudut sempit kawasan Cicadas, Kota Bandung, cahaya matahari seolah berebut masuk di antara celah bangunan. Di sana, seorang warga terduduk di kursi roda, menatap kosong ke arah pintu yang terbuka. Namun hari itu, sunyinya pecah oleh kedatangan sekelompok orang yang membawa lebih dari sekadar makanan—mereka membawa harapan dan pengakuan akan harkat hidup.

​Aksi berbagi ini digerakkan oleh Ketua Divisi Peranan Wanita Ikatan Warga Satya (IWS) Indonesia, Lisnawati, bersama tokoh penggerak seperti Bapak Toemin, Bapak Rohel, Ibu Devi, serta pegiat stunting Kang Ify. Mereka tidak datang untuk seremoni, melainkan menjalankan amanah kemanusiaan yang terinspirasi dari gerakan global.

​Inspirasi dari Negeri Sakura

​Semangat gerakan ini tak lepas dari rekam jejak Kadota Shunji, sosok asal Jepang yang kiprah internasionalnya telah diakui dunia. Di Jepang, dedikasi Shunji dan komunitas disabilitas berhasil mendesak lahirnya berbagai Peraturan Pemerintah yang revolusioner. Kini, Jepang dikenal sebagai salah satu negara paling ramah disabilitas, di mana pengguna kursi roda mendapatkan dukungan penuh, mulai dari aksesibilitas transportasi hingga kemandirian ekonomi.

Baca juga:  Pangdam I/BB Ucapkan Terima Kasih dan Apresiasi Tinggi untuk Prajurit Korem 022/PT dan Rindam I/BB

​”Komunitas pemakai kursi roda bisa kita tingkatkan kebahagiaannya,” ujar Toemin dari IWS, menekankan bahwa kebahagiaan adalah hak dasar, bukan kemewahan yang hanya dimiliki mereka yang sehat secara fisik.

​Menembus Batas di Cicadas

​Meski PERWASI IWS-Indonesia kini mulai melebarkan sayap dan berkiprah di kancah internasional berkat peran aktif divisi wanitanya, mereka tidak melupakan akar rumput. Cicadas, salah satu wilayah padat di Ibukota Jawa Barat, menjadi saksi bisu betapa masih banyaknya warga yang memerlukan pendampingan.

​Bagi Lisnawati, melihat kondisi masyarakat yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan pangan dan papan di tengah gemerlapnya Kota Bandung adalah sebuah ironi yang menyayat hati. “Sangat miris, di Ibukota Jawa Barat ini, masih ada masyarakat yang butuh pendampingan untuk kebutuhan sandang, pangan, bahkan papan,” ungkapnya dengan nada getir.

​Menanti Ketegasan Negara

​Aksi pemberian bantuan makanan dan pendampingan ekonomi yang dilakukan IWS dan para donatur diharapkan menjadi pemantik bagi lembaga lain maupun lintas partai. Lisnawati secara tegas menitipkan harapan besar kepada kepemimpinan nasional di bawah Presiden Prabowo Subianto.

Baca juga:  Atasi Longsor Villa Pertiwi, Wali Kota Depok Tegaskan Evaluasi Bangunan di Sempadan Kali

​Ia menekankan bahwa Indonesia harus bertransformasi menjadi negara yang benar-benar layak bagi perempuan dan anak, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan. Negara tidak boleh hanya hadir dalam statistik, tapi harus hadir dalam denyut nadi kehidupan warga di gang-gang sempit seperti Cicadas.

​”Sudah saatnya bangsa ini pulih dari rasa butuh uang untuk sekadar makan. Rakyat butuh keteduhan rumah dan hidup layak di negerinya sendiri,” tegas Lisnawati.

​Melalui kolaborasi yang penuh kebahagiaan ini, PERWASI IWS membuktikan bahwa langkah kecil di Cicadas adalah bagian dari gerak besar dunia untuk memuliakan manusia. Kursi roda mungkin membatasi gerak kaki, namun tidak boleh membatasi martabat dan mimpi para penggunanya.

Catatan Redaksi:

Tulisan ini disusun berdasarkan laporan kegiatan lapangan dan referensi kebijakan disabilitas internasional sebagai bahan perbandingan untuk mendorong kebijakan publik yang lebih inklusif di Indonesia.