Bencana Banjir Dan Longsor Jangan Salahkan Alam

Avatar photo

Porosmedia.com – Banjir bandang yang melanda Sumatera Barat sepanjang November–Desember 2025 ini bukan sekadar efek cuaca ekstrem.

Kenapa terjadi cuaca ekstrem dan kenapa terjadi perubahan cuaca ?

Ini adalah peringatan keras dari alam setelah hutan di kawasan Solok dan Pesisir Selatan digerogoti secara brutal oleh pembalakan liar.

Dua wilayah ini adalah titik krusial, hulu dan hilir dari aliran sungai yang menghidupi banyak kecamatan.

Ketika hutan hilang, tanah terbuka, dan lereng dibiarkan telanjang, jalur bencana tercipta tanpa kompromi.

Pembangunan jalan baru Solok–Bayang memang membawa manfaat besar.

Akses ekonomi, mobilitas warga, dan konektivitas antarwilayah semakin kuat.

Tetapi masalahnya tidak berada pada jalan itu. Masalahnya ada pada pihak yang memanfaatkan proyek tersebut sebagai tameng untuk menjarah kayu.

Di balik alat berat yang bekerja resmi, ada tangan-tangan gelap yang menebang pohon di luar jalur proyek, membuka lahan secara liar, dan membawa kayu keluar ketika malam turun.

Begitu hujan deras mengguyur, seluruh bukit dari Solok sampai Bayang menjadi rapuh.

Baca juga:  Satgas Yonif 323 Buaya Putih Berkontribusi Bantu Bangun Honai Masyarakat

Air tak lagi tertahan akar. Tanah longsor, sungai meluap, lumpur turun tanpa hambatan.

Rumah hanyut, tubuh hilang terbawa arus, jalan putus, sawah rata. Warga kembali menjadi korban dari ulah segelintir orang yang menganggap hutan sebagai komoditas cepat, bukan sebagai penopang hidup ribuan keluarga.

Pembalakan liar ini kejahatan terhadap keselamatan publik. Mereka merusak ekosistem yang menjadi penahan banjir, lalu masyarakat di bawah yang harus membayar dengan kerugian, trauma, bahkan nyawa. Setiap pohon yang ditebang tanpa izin di hulu adalah ancaman langsung bagi warga di hilir.

Kita tidak bisa lagi diam. Tidak cukup hanya menunggu pemerintah bertindak.

Kita harus melihat persoalan ini apa adanya, banjir bandang tahun ini bukan sekadar bencana alam, ini akibat langsung dari kerakusan manusia.

Kita harus mengecam keras pelaku pembalakan liar perusahaan, cukong, atau perorangan yang selama ini beroperasi tanpa rasa bersalah.

Hutan di Solok dan Pesisir Selatan bukan ladang bisnis mereka. Itu benteng terakhir yang menjaga hidup masyarakat.

Baca juga:  Pos Teluk Etna Bersama Warga Bantu Pembuatan Rumah Warga di Kampung Rurumo

Selama pembalakan liar masih dibiarkan, Sumbar akan terus membayar mahal. Dan harga itu terlalu besar untuk diterima.

Hutan adalah sumber kehidupan, ada nyawa satwa liar yang menghuni.

Jangan salahkan fenomena alam, karena alam hanya bereaksi atas ulah manusia yang serakah, ada sebab, ada akibat.

Kau Peduli, Aku Lestari.
Salam Lestari !

Singky Soewadji | Porosmedia.com