Oleh :
Singky Soewadji
Porosmedia.com – Kematian gembong kartel Meksiko seperti El Mencho selalu menjadi sorotan dunia. Namun sejarah menunjukkan, tumbangnya satu bos narkoba tidak serta merta mengakhiri perang. Di Meksiko, setiap kali satu pemimpin kartel jatuh, kekerasan justru meledak. Perebutan wilayah, perang antar faksi, hingga teror terhadap aparat dan warga sipil menjadi siklus yang terus berulang.
Pelajaran terpenting dari Meksiko bukan sekadar soal kartel yang kuat. Masalah utamanya adalah ketika jaringan narkoba tumbuh lebih cepat daripada kemampuan negara mengendalikan dan membersihkannya dari dalam.
Indonesia memang belum berada di titik itu. Tidak ada baku tembak kartel bersenjata berat di jalanan kota besar. Tidak ada kota yang lumpuh karena blokade sindikat. Namun ancaman tidak selalu datang dengan suara tembakan. Ia sering bergerak sunyi, rapi, dan sistematis.
Dan tanda-tanda itu mulai terlihat.
Lonjakan Peredaran dalam Skala Ton
Data penindakan menunjukkan bahwa peredaran narkoba di Indonesia bukan lagi dalam hitungan kilogram, melainkan ton. Dalam beberapa operasi besar, aparat berhasil menyita sabu hingga lebih dari tiga ton dalam satu periode penindakan. Di tingkat regional Asia Tenggara, ratusan ton methamphetamine disita setiap tahun, menunjukkan besarnya arus barang haram yang beredar di kawasan ini.
Angka penyitaan yang fantastis sering dipersepsikan sebagai keberhasilan. Namun di sisi lain, ia juga menjadi indikator betapa masifnya suplai yang berhasil masuk. Logikanya sederhana. Jika yang tertangkap saja sudah mencapai ton, berapa besar yang lolos tanpa terdeteksi.
Indonesia memiliki posisi geografis yang strategis sekaligus rawan. Ribuan pulau dan jalur laut yang luas menjadikan pengawasan tidak pernah mudah. Negara ini bukan hanya pasar besar, tetapi juga jalur transit bagi jaringan internasional.
Di sinilah ujian sebenarnya dimulai.
Ketika Aparat Ikut Terseret
Persoalan paling mengkhawatirkan bukan hanya jumlah narkoba yang masuk. Yang lebih berbahaya adalah ketika aparat penegak hukum mulai terseret, baik sebagai pengguna, pelindung, maupun bagian dari jaringan.
Dalam beberapa tahun terakhir, publik berkali kali dikejutkan oleh kasus oknum aparat yang terlibat narkoba. Ada yang tertangkap sebagai pengguna. Ada yang terbukti menerima suap untuk meloloskan barang. Bahkan ada kasus yang menyeret perwira tinggi dalam dugaan pengamanan distribusi sabu dalam jumlah besar.
Ini bukan sekadar pelanggaran individu. Ini adalah celah struktural.
Meksiko memberi pelajaran pahit tentang bagaimana kartel bisa mengakar kuat. Uang narkoba yang begitu besar mampu membeli perlindungan, membungkam pengawasan, dan merusak institusi dari dalam. Ketika aparat yang seharusnya menjadi benteng terakhir justru retak, maka negara kehilangan fondasi moral dan operasionalnya.
Indonesia belum sampai ke titik kartel menguasai wilayah. Namun pembiaran terhadap keterlibatan oknum adalah pintu awal menuju krisis yang lebih besar.
Penindakan Tidak Cukup
Indonesia dikenal memiliki hukuman keras terhadap kejahatan narkoba. Vonis berat bahkan hukuman mati telah dijatuhkan kepada sejumlah bandar. Operasi besar terus dilakukan dan ratusan jaringan dibongkar setiap tahun.
Namun perang narkoba tidak cukup dimenangkan dengan pendekatan represif semata.
Penindakan harus diiringi reformasi internal yang serius. Pengawasan terhadap aparat harus transparan dan independen. Hukuman terhadap oknum harus tegas tanpa pandang jabatan. Integritas lembaga penegak hukum harus dijaga sebagai prioritas utama.
Selain itu pendekatan pencegahan dan rehabilitasi tidak boleh diabaikan. Jaringan narkoba tumbuh subur di ruang sosial yang rapuh. Kemiskinan, pengangguran, dan minimnya edukasi menjadi lahan subur perekrutan kurir dan pengguna baru. Selama akar sosial tidak disentuh, siklus ini akan terus berulang.
Indonesia Masih Punya Waktu
Apakah Indonesia akan menjadi seperti Meksiko.
Jawabannya belum. Tetapi risiko itu ada jika negara lengah.
Perbedaan Indonesia dan Meksiko hari ini terletak pada kesempatan. Indonesia masih memiliki ruang untuk memperbaiki sistem sebelum krisis menjadi sistemik. Negara masih punya otoritas penuh. Institusi masih bisa dibenahi. Kepercayaan publik masih bisa dijaga.
Kuncinya sederhana namun berat. Bersihkan aparat. Perkuat pengawasan. Tegakkan hukum tanpa kompromi. Bangun masyarakat yang lebih tahan terhadap godaan ekonomi gelap.
Meksiko adalah cermin masa depan yang bisa dihindari.
Indonesia tidak perlu menunggu suara tembakan di jalanan untuk menyadari bahayanya. Alarm itu sudah berbunyi dalam bentuk yang lebih sunyi. Pertanyaannya bukan apakah ancaman itu ada, melainkan seberapa serius kita meresponsnya hari ini.
Satu Bandar Narkoba mati, satu keluarga berduka cita
Satu Bandar Narkoba hidup, ribuan keluarga berduka cita
Delapan Satu Kosong (810) tembak mati Bandar Narkoba, tunggu apa lagi ?
Kalau tidak sekarang, kapan lagi ?
Penulis adalah :
Mantan Sekretaris Umum (Sekum) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Jawa Timur.







