Porosmedia.com, Bandung, 30 Mei 2025 – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Kang Yayan, menyampaikan keprihatinan sekaligus ajakan moral kepada masyarakat agar tidak menyerah dalam menghadapi persoalan pengelolaan sampah. Ia menegaskan pentingnya menjaga lingkungan dengan cara yang beradab dan ramah terhadap anak-anak serta generasi mendatang.
“Itikad baik kami adalah mengelola sampah secara bertanggung jawab—tanpa dibakar, tanpa merugikan masyarakat, dan tetap mengedepankan kepentingan anak-anak serta lingkungan sekitar,” tegas Kang Yayan.
Ia mengkritisi fenomena maraknya promosi teknologi pembakaran sampah (incinerator) oleh kalangan akademisi yang datang membawa label perguruan tinggi ternama. Menurutnya, tawaran-tawaran tersebut seringkali mengabaikan aspek adab dan dampak kesehatan jangka panjang.
“Belum saatnya kita menyerah pada kebingungan dan frustrasi. Kita masih punya adab—rasa karunya (belas kasih) terhadap anak-anak yang tidak kuat menghirup asap pembakaran. Uangnya diambil, asapnya untuk orang lain. Siapa yang bilang itu solusi?” sindirnya, mengutip petuah sepuh: “Tahu Cibuntu, tahu yang kasih tahu.”
Kang Yayan juga menyoroti pengalaman pribadinya saat melewati flyover Pasupati pada pukul enam pagi. Ia mendapati udara dipenuhi kabut yang menyengat, aroma khas dari pembakaran sampah liar di berbagai titik.
“Bayangkan, aroma sampah terbakar menusuk hidung sejak pagi. Itu bukan kabut alam, melainkan kabut asap pembakaran yang brutal. Jika ini dibiarkan, puskesmas dan balai kesehatan akan penuh dengan pasien ISPA. Masihkah kita tega pada anak-anak, dan ruang ibadah kita yang harus tercemar oleh asap ini?” ujarnya prihatin.
Melalui pesannya, Kang Yayan mengajak semua pihak untuk tidak ikut-ikutan frustrasi. Menurutnya, masih ada jalan untuk mengelola sampah dengan baik, beradab, dan berkelanjutan.
“Belum saatnya kita hijrah ke solusi instan yang penuh risiko. Tetap istiqomah. Jangan biarkan pembakaran sampah menjadi solusi dari keputusasaan. Mari hormati anak-anak kita, dan ruang-ruang sujud yang kita cintai. Duitna dicokot, haseupna keur batur—ulah kitu.”







