Shūji, Bunkasai, dan Jejak Sunyi Budaya Jepang di Jawa Barat

Avatar photo

Oleh: Nuning Hallet (Alumni Sastra Jepang & Ketua Ika Sadaya Universitas Padjadjaran)

​Porosmedia.com, Bandung – Di tengah hiruk-pikuk popularitas budaya modern Jepang—seperti anime, manga, cosplay, hingga kuliner ramen—terdapat satu warisan tradisi yang kerap luput dari sorotan generasi muda. Tradisi tersebut adalah Shūji, seni menulis aksara Jepang menggunakan kuas dan tinta. Secara visual, shūji tampak begitu bersahaja: hanya melibatkan kuas, tinta hitam, dan lembaran kertas putih. Namun di balik kesederhanaan itu, shūji sejatinya merupakan sebuah bentuk latihan kesabaran, ketelitian, sekaligus disiplin batin yang mendalam.

​Dalam tatanan tradisi Jepang, shūji memiliki distingsi tersendiri dari Shodō. Jika shodō dimaknai sebagai “jalan seni menulis”, maka shūji secara harfiah adalah “jalan belajar menulis”. Aktivitas ini mengajarkan satu filosofi penting: bahwa keindahan yang hakiki lahir dari sebuah ketekunan yang konsisten.

​Di lingkungan Universitas Padjadjaran (Unpad), khususnya pada Program Studi Sastra Jepang, semangat filosofis tersebut terus dirawat melalui penyelenggaraan Bunkasai. Festival budaya Jepang tahunan ini menjadi panggung akademis sekaligus ruang apresiasi bagi mahasiswa untuk menjaga kedekatan interaksi dengan kebudayaan Negeri Sakura.

​Laboratorium Budaya dan Pembentukan Karakter

Bunkasai bukan sekadar pergelaran kostum atau pasar malam kuliner. Lebih dari itu, festival ini berfungsi sebagai laboratorium budaya. Melalui ruang ini, mahasiswa belajar memahami bahwa esensi Jepang tidak terbatas pada industri hiburan modern, melainkan juga berakar kuat pada nilai-nilai luhur: penghormatan terhadap tradisi, kedisiplinan yang tinggi, serta apresiasi terhadap detail.

Baca juga:  Ika Sadaya Unpad Gelar Charity Night: Tebar Kebaikan Bersama Siswa SLB Karya Bakti

​Salah satu agenda yang selalu menarik perhatian dalam Bunkasai adalah perlombaan dan demonstrasi Shūji. Akkar Pujangga, mahasiswa tingkat akhir Sastra Jepang Unpad yang juga seorang praktisi dan pemburu prestasi di bidang shūji, menggambarkan bagaimana atmosfer sunyi menyelimuti kompetisi tersebut.

​Di dalam ruangan yang tenang, peserta berdiri tegap di hadapan kertas putih. Kuas mulai dicelupkan ke dalam tinta, lalu sapuan pertama ditorehkan.

​”Di dalam shūji, tidak ada tombol undo maupun penghapus. Sekali goresan dibuat, maka selesailah prosesnya. Di situlah shūji mengajarkan filosofi kehidupan masyarakat Jepang. Hidup pun demikian—sekali dijalani, tidak bisa diulang,” ujar Akkar.

Nuning Hallet (kedua dari kiri) Alumni Sastra Jepang /Ketua Ika Sadaya Unpad

Konsistensi Menolak Instan

​Ketertarikan Akkar terhadap shūji bukan bakat yang tumbuh semalam. Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), ia telah aktif mengikuti berbagai kompetisi untuk mengasah hobi dan dorongan seninya. Dedikasi tersebut membuahkan berbagai apresiasi, mulai dari peringkat tiga, dua, hingga juara pertama di tingkat Jawa Barat.

​Pencapaian tertingginya diraih saat menyabet Trofi Juara 1 dalam rangkaian Shūji Contest pada BUNKASAI 48 (2023), sebuah kompetisi antar-perguruan tinggi berskala nasional yang diselenggarakan di Fakultas Ilmu Budaya Unpad. Baginya, deretan trofi tersebut bukanlah titik akhir. Target utamanya adalah terus mendalami dan mengimplementasikan filosofi hidup yang terkandung di dalam shūji.

Baca juga:  PHK dan Upah Rendah Masih Mendera Pekerja Media

​”Shūji adalah jalan belajar menulis. Seni ini mengajarkan satu hal fundamental: bahwa keindahan sejati selalu dilahirkan dari ketekunan,” ungkap mahasiswa semester akhir ini.

Di wilayah Jawa Barat, ekosistem kompetisi shūji terus tumbuh secara bertahap. Institusi pendidikan seperti Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Kristen Maranatha, serta berbagai komunitas bahasa Jepang di Bandung secara konsisten menggelar kompetisi, baik berskala internal maupun terbuka.

​Catatan historis menunjukkan bahwa Fakultas Sastra U.K. Maranatha pernah menyelenggarakan Shodo Contest pada tahun 2018, dan SMA Negeri 3 Bandung juga sukses menggelar Nihongo Kurabu 3 pada periode 2017–2018. Meskipun ceruk peminatnya belum searsip lomba debat atau parade cosplay, kuantitas peminat shūji tercatat terus mengalami tren kenaikan.

​Ruang Dialog dan Kelambatan yang Bermakna

​Di tengah dinamika zaman yang menuntut serba cepat, kehadiran shūji justru menawarkan sebuah “kelambatan yang bermakna.” Generasi muda Jawa Barat saat ini tumbuh dalam ekosistem digital layar sentuh dengan mobilitas jari yang sangat cepat. Namun, ketika jemari mereka beralih memegang kuas shūji, mereka dikondisikan untuk memperlambat ritme. Mereka dituntut mengatur napas, menekan ego, dan menyadari bahwa setiap guratan huruf bukan sekadar simbol komunikasi, melainkan representasi dari kondisi jiwa penulismu.

Baca juga:  Wali Kota Depok Lantik 360 PPPK: Janji Perkuat Layanan Publik, Tantangan Masih Panjang

​Di tengah masifnya pelestarian festival budaya lokal Sunda di Jawa Barat, eksistensi Bunkasai tetap menemukan relevansinya. Festival ini tidak hadir sebagai bentuk infiltrasi budaya asing, melainkan berfungsi sebagai ruang dialog lintas budaya: menjembatani Bandung dan Tokyo, mempertemukan modernitas dengan tradisi, serta menghubungkan mahasiswa masa kini dengan nilai-nilai klasik yang mulai tergerus zaman.

​Di atas hamparan selembar kertas putih tersebut, para mahasiswa Sastra Jepang Unpad tidak sekadar menorehkan aksara kanji. Secara tidak langsung, mereka sedang mengukir dan membentuk karakter diri mereka sendiri.

​Menutup refleksi ini, pernyataan dari Akkar Pujangga selaku peraih trofi utama Shūji Contest BUNKASAI Unpad menjadi sangat relevan:

​”Esensi shūji yang sesungguhnya bukanlah tentang bagaimana menghasilkan tulisan yang indah, melainkan tentang proses manusia yang sedang belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.”

(NH/Berbagai Sumber)

Foto Unggulan: Akkar Pujangga Ramadhan, Mahasiswa Sastra Jepang Unpad peraih tropy pertama Shūji Contest BUNKASAI 48 Antar Perguruan Tinggi se-Indonesia.