Porosmedia.com, Bandung – Di balik kemeriahan seremoni peringatan Hari Krida Pertanian (HKP) ke-54 tingkat Kota Bandung, tersimpan tantangan struktural yang krusial bagi keberlangsungan pangan lokal. Di tengah selebrasi dan pembagian insentif seremonial bagi ratusan kelompok tani, sektor pertanian perkotaan di wilayah metropolitan ini justru langsung dihadapkan pada ancaman nyata musim kemarau yang mulai mengeringkan pasokan air di sejumlah lumbung sawah produktif.
Berdasarkan rilis resmi Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bandung, Kamis (25/6/2026), Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) saat ini tengah bersiaga memetakan wilayah rawan kekeringan kronis. Kawasan Bandung Timur, meliputi Gedebage, Cibiru, Ujungberung, Buahbatu, hingga Mandalajati, masuk dalam daftar zona merah yang paling rentan terdampak fluktuasi iklim ekstrem.
Bahkan, kedaruratan air dilaporkan telah mulai dirasakan secara riil oleh para petani di kawasan Rancasari. Penurunan debit air permukaan yang drastis memaksa para petani mengandalkan intervensi mekanis eksternal agar lahan mereka tidak mengalami gagal panen (puso).
Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, membenarkan situasi tersebut saat memberikan keterangan di Jalan Arjuna, Kamis (25/6/2026). Ia mengakui bahwa karakteristik pertanian di Kota Bandung memiliki kelemahan mendasar dalam hal infrastruktur pasokan air.
”Kota Bandung memang tidak memiliki irigasi teknis seperti daerah pertanian besar lainnya. Karena itu persoalan air menjadi tantangan sehari-hari bagi petani. Saat kemarau datang, upaya yang harus dilakukan tentu lebih besar lagi,” ungkap Gin Gin.
Ketergantungan yang masif pada sistem pertanian tadah hujan tanpa topangan jaringan irigasi teknis primer ini memicu pertanyaan kritis mengenai efektivitas mitigasi jangka panjang pemerintah daerah. Guna membendung risiko gagal pangan, DKPP mengklaim telah menyiapkan strategi operasional berupa penyediaan pompa air, optimalisasi sumur dangkal (pantek), edukasi varietas benih genjah yang tahan kekeringan, hingga pemantauan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang kerap meledak populasinya saat kemarau.
Kendati demikian, alokasi sarana yang tersedia saat ini terlihat sangat terbatas jika dibandingkan dengan luasan wilayah yang harus dilayani. DKPP mencatat saat ini hanya mengelola sekitar 30 unit pompa air yang disebar melalui kelompok tani dan Brigade Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan).
Meskipun fasilitas peminjaman pompa tersebut dinyatakan gratis, para petani di lapangan tetap dibebani biaya operasional mandiri, terutama untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM). Keterbatasan jumlah armada pompa ini juga diakui oleh pihak dinas, yang menyatakan masih harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mengajukan tambahan bantuan akibat tingginya permintaan riil di lapangan.
Keterbatasan infrastruktur ini terasa ironis mengingat Kota Bandung sejatinya masih memikul beban ketahanan pangan yang cukup besar. Berdasarkan data pemetaan DKPP, kota metropolitan ini masih memiliki bentangan lahan sawah aktif seluas 699 hektare yang didominasi oleh komoditas padi dan hortikultura, dengan pergerakan sekitar 45 kelompok tani konvensional serta 555 kelompok program urban farming ‘Buruan Sae’.
Lahan-lahan produktif yang tersisa di tengah kepungan beton perkotaan inilah yang kini dipertaruhkan produktivitasnya di tengah cekaman kemarau panjang tanpa sistem irigasi permanen yang memadai.
Di sisi lain, dalam momentum peringatan HKP ke-54 bertajuk “Petani Keren, Petani Hebat” tersebut, Pemerintah Kota Bandung tetap berupaya menjaga moralitas kerja para pelaku sektor agraria melalui penyerahan bantuan stimulan. Bantuan yang dialokasikan mencakup sarana produksi pertanian, benih, pupuk, pestisida, serta sarana pendukung Buruan Sae di 30 kecamatan.
Gin Gin menegaskan bahwa momentum tahunan ini tetap krusial sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras para petani yang bertahan di tengah himpitan keterbatasan lahan perkotaan.
”Hari Krida Pertanian ini menjadi hari apresiasi atau penghargaan untuk para petani yang selama ini sudah bekerja keras membangun ketahanan pangan dan mempertahankan pertanian berkelanjutan… Kami berharap petani Kota Bandung tetap produktif dan mampu menghasilkan produk pertanian yang baik. Pemerintah akan terus mendukung melalui pendampingan, penyuluhan dan bantuan yang dibutuhkan,” tuturnya.
Kini, tantangan terbesar berada pada konsistensi eksekusi di lapangan. Publik dan para pelaku sektor agraria menanti apakah langkah taktis penyediaan 30 unit pompa serta ketergantungan pada bantuan darurat pusat mampu menyelamatkan sisa 699 hektare sawah aktif Bandung, ataukah sektor pertanian kota ini akan terus terjebak dalam siklus kerentanan klasik setiap kali musim kemarau tiba. (porosmedia/red)







