Esai Kontemplatif: Harri Safiari
Porosmedia.com – Setelah berbagai persoalan yang membelit pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), muncul lagi fenomena yang membuat Korupsinikus mengelus dada. Sejumlah pihak yang mengaku sebagai investor pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melakukan aksi protes keras di kantor Badan Gizi Nasional (BGN). Mereka menuntut kepastian dan pertanggungjawaban atas pembangunan dapur MBG yang diklaim belum memperoleh penyelesaian pembayaran sebagaimana diharapkan.
“Nah loh,” ujar Korupsinikus sambil membetulkan kacamatanya yang sebenarnya tidak berlensa, “katanya program MBG ini sangat mulia. Tetapi di dalam praktiknya melibatkan investor yang tentu saja memiliki orientasi keuntungan. Kalau begitu, di mana letak batas antara pengabdian dan perhitungan laba?”
Pernyataan itu disampaikan Korupsinikus saat menjadi pembicara dalam sebuah sarasehan bertajuk, Dunia Kagum Hingga Berguling-guling sambil Terbengong-bengong Melihat Kesuksesan MBG. Sebuah tema yang, menurutnya, terlalu optimistis untuk ukuran Negeri Konoha Raya (NKR).
Kepada sejumlah pewarta investigatif, tokoh jadi-jadian yang konon turun ke bumi demi mengurai benang kusut korupsi itu mengatakan, gelombang “amok” para investor sebaiknya segera mendapat perhatian serius.
“Saya berharap kegaduhan ini tidak berlarut-larut. Jangan sampai yang akhirnya menjadi korban adalah mereka yang seharusnya menerima manfaat, yakni anak-anak dan masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Korupsinikus kemudian membuka buku catatan lusuhnya. “Anggaran MBG yang nilainya mencapai puluhan triliun rupiah tentu menuntut tata kelola yang luar biasa baik. Jika di lapangan justru bermunculan persoalan dan ketidakpastian, maka wajar bila publik mempertanyakan apakah fondasi program ini sudah benar-benar kokoh.”
Menurutnya, inilah saat yang tepat untuk melakukan pembenahan menyeluruh.
“Kalau perlu, berhenti sejenak untuk merapikan tata kelola. Program yang baik tidak akan kehilangan kemuliaannya hanya karena diberi waktu untuk memperbaiki diri.”
Korupsinikus bahkan mengusulkan agar prioritas pelaksanaan MBG difokuskan terlebih dahulu pada wilayah 3T: tertinggal, terdepan, dan terluar.
“Di sanalah negara seharusnya hadir lebih dulu. Jangan sampai program yang dirancang untuk mengatasi ketimpangan justru tersandung persoalan administratif dan tata kelola yang membuat semua pihak saling menagih.”
Di penghujung diskusi, seorang wartawan bertanya,
“Masihkah Anda percaya semua keruwetan ini bisa dibenahi dan MBG dapat berjalan baik, setidaknya dimulai dari wilayah 3T?”
Korupsinikus tersenyum tipis.
“Jawaban saya sama sulitnya dengan mencari berita korupsi yang tidak membuat rakyat mengelus dada. Bukan karena cita-citanya keliru, tetapi karena di Negeri Konoha Raya, sering kali yang paling berat bukan membangun program besar, melainkan menjaga agar niat baik tidak berubah menjadi ladang rebutan.”
Sesaat kemudian ia terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca.
“Karena sesungguhnya, setiap butir nasi yang diperebutkan oleh kepentingan, bisa saja adalah harapan seorang anak yang sedang menunggu masa depan. Dan sebuah bangsa yang gagal menjaga harapan anak-anaknya, lambat laun akan kenyang oleh laporan, tetapi lapar akan masa depan.”
(Selesai)







