Negara dan Kelola Sampah ala Primitif, Korupsinikus: Gagal Dipikirkan

Avatar photo

Oleh: Harri Safiari

Porosmedia.com – Di Negeri Konoha Raya, sampah selalu dikelola bak aib keluarga: cepat disembunyikan, dipindahkan, lalu pura-pura dilupakan.
Setiap hari kota-kota memproduksi gunungan limbah. Plastik, sisa makanan, popok, limbah elektronik, hingga residu industri bercampur menjadi satu nasib: diangkut, dibuang, ditimbun, selesai.
Atau setidaknya dianggap selesai.
Padahal yang disebut selesai itu sebenarnya hanyalah perpindahan masalah dari halaman rumah warga menuju halaman penderitaan bersama.
Aneh memang.

Kita hidup di zaman kecerdasan buatan, satelit, kendaraan listrik, dan transaksi digital supercepat. Tetapi urusan sampah masih ditangani dengan imajinasi abad pertengahan: bakar, timbun, pindahkan.
Sungguh ironis.

Peradaban modern mestinya diukur bukan dari tingginya gedung pencakar langit atau banyaknya jalan tol, melainkan dari bagaimana sebuah bangsa memperlakukan limbah yang dihasilkannya sendiri.

Dan dalam hal ini, Negeri Konoha Raya tampaknya masih tertatih-tatih sambil membawa karung kebiasaan kuno di punggungnya.
Sampah dibakar.
Udara tercemar.
Warga batuk-batuk.
Sampah ditimbun di sanitary landfill.
Gas metana mengendap.
Air lindi merembes.

Gunungan TPA menjelma monster ekologis yang sewaktu-waktu bisa longsor, meledak, atau mencemari kehidupan generasi berikutnya.
Lalu semuanya disebut “pengelolaan”.
Betapa murah definisi kemajuan di negeri ini.

Baca juga:  Bayang-bayang Bencana Sampah Bandung: Pemkot Desak Pergeseran Anggaran Rp90 Miliar

Padahal sanitary landfill, yang kini sering dipuja sebagai solusi modern, pada hakikatnya tetaplah kuburan sampah. Ia hanya versi lebih rapi dari kebiasaan lama: menimbun masalah sambil berharap waktu akan melupakannya.
Tetapi bumi tidak pernah benar-benar lupa.
Sungai mengingat.
Laut mengingat.
Udara mengingat.
Paru-paru anak-anak mengingat.
Yang tidak mau mengingat biasanya hanya para pembuat keputusan.

Mereka datang silih berganti dengan jargon hijau yang terdengar futuristik: waste to energy, ekonomi sirkular, kota berkelanjutan, nol emisi, dan entah apa lagi istilah hasil seminar hotel berbintang.
Namun praktik di lapangan tetap saja primitif.
Pemilahan sampah rumah tangga tidak disiplin.
Daur ulang industri minim.

Pendidikan lingkungan setengah hati.
Bank sampah lebih sering menjadi bahan laporan proyek ketimbang perubahan budaya.
Dan seperti biasa, solusi diperlakukan sebagai acara seremoni, bukan desain peradaban jangka panjang.

Di tengah semua itu, Korupsinikus pernah berujar dengan nada getir:
“Sampah di Indonesia bukan gagal diangkut. Ia gagal dipikirkan.”
Kalimat itu terasa menampar karena benar.

Problem terbesar negeri ini bukan kurang teknologi, melainkan terlalu pendek umur berpikirnya. Semua ingin hasil cepat. Semua ingin kota tampak bersih menjelang kunjungan pejabat.

Baca juga:  Prioritas Musrenbang Kelurahan Cibeber Utamakan Lahan Untuk SMP 15 Cibeber

Semua ingin proyek terlihat bekerja sebelum masa jabatan berakhir.
Akibatnya, kita terus memindahkan sampah tanpa pernah menyelesaikan filsafat dasarnya.

Padahal bangsa-bangsa maju sudah bergerak jauh: membatasi produksi plastik dari hulunya, mewajibkan desain produk ramah daur ulang, mengembangkan energi berbasis residu secara ketat, membangun budaya memilah sejak usia dini, hingga menjadikan sampah sebagai bagian dari ekonomi sirkular nasional.

Sementara di sini, masyarakat masih diajarkan bahwa tugas utama terhadap sampah hanyalah: “buang pada tempatnya.”

Sesudah itu, urusan negara.
Dan negara sendiri tampak kebingungan menghadapi gunungan limbah yang diproduksi oleh gaya hidup modern, tetapi dikelola dengan mentalitas abad pertengahan.

Kita ini bangsa yang aneh.
Mampu membangun pusat perbelanjaan mewah dalam hitungan bulan, tetapi tak kunjung mampu membangun disiplin pemilahan sampah selama puluhan tahun.

Mungkin sebab sampah memang bukan sekadar urusan kebersihan.
Ia adalah cermin budaya.
Cermin pendidikan.
Cermin visi politik.
Sekaligus cermin seberapa jauh sebuah bangsa menghargai masa depannya sendiri.

Dan selama para pengambil keputusan masih menganggap urusan sampah cukup diselesaikan dengan membakar, menimbun, lalu membuat pidato peringatan Hari Lingkungan Hidup, maka Negeri Konoha Raya sesungguhnya belum bergerak maju.

Baca juga:  Sekda Garut Ajak ASN Luruskan Niat dan Prioritaskan Pelayanan Publik

Ia hanya sedang memperindah cara menumpuk kegagalannya sendiri.
Seperti kata Korupsinikus pada suatu malam yang pengap oleh bau pembakaran liar: “TPA terus penuh, sebab yang dibuang bukan cuma plastik—tapi juga akal sehat perencanaan.”

Kalimat itu terasa pahit karena mungkin terlalu dekat dengan kenyataan.
Bahwa di negeri ini, sampah akhirnya bukan sekadar limbah rumah tangga.
Ia telah berubah menjadi monumen kegagalan berpikir panjang. (Selesai).