Esai Dark Satire Kontemplatif : Harri Safiari
Porosmedia.com – Tarik napas perlahan. Bila perlu sambil memeriksa isi dapur: minyak goreng masih ada atau tinggal bayangan? Gula masih tersisa atau tinggal semut yang mengenang? Beras masih cukup atau mulai dihitung per butir?
Sebab penghujung April 2026 datang bukan hanya membawa pergantian kalender, tetapi juga kecemasan lama: harga kebutuhan pokok yang kembali bergerak naik dengan langkah kecil, licin, dan sering terlambat disadari.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 224 kabupaten/kota mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) minyak goreng pada pekan keempat April 2026. Secara nasional, rata-rata harga minyak goreng naik 1,50 persen, dari Rp19.358 menjadi Rp19.648 per liter.
Kecil di angka. Besar di penggorengan.
Korupsinikus, pemikir jalanan yang paham filsafat gorengan hangat, langsung berkomentar:
“Kalau minyak goreng merangkak, biasanya gula ikut menoleh, beras mulai berdeham, lalu dompet rakyat mendadak sesak napas.”
Namun kali ini pembicaraan tak berhenti di pasar. Ia melompat ke peta dunia.
Koresponden khusus BBC, Orla Guerin, baru-baru ini turun menggunakan perahu kecil menyusuri Selat Hormuz, wilayah sempit namun menentukan nasib banyak negara. Dari sana dilaporkan, jalur tanker yang biasanya menjadi nadi perdagangan energi dunia tampak jauh lebih sepi.
Padahal, sedikitnya 130-an kapal tanker biasa lalu-lalang setiap hari di kawasan itu. Selat sempit tersebut menopang sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Bila jalur ini tersumbat, dunia bukan hanya tegang—dunia berkeringat dingin.
Rubi, sobat dalit Korupsinikus yang setengah serius setengah cicilan, menimpali:
“Lihat tuh. Laut jauh sana sepi, tapi dapur sini bisa gaduh.”
Memang begitulah dunia modern bekerja. Kapal berhenti di satu titik, harga meloncat di titik lain. Rudal dibahas di televisi, ibu-ibu mengencangkan pengeluaran di rumah.
Satu selat terganggu, satu negeri mulai menghitung ulang belanja bulanan.
Selama beberapa minggu terakhir hingga akhir April 2026, dunia dibuat deg-degan: apakah gencatan senjata ini akan menjelma perdamaian panjang, atau cuma jeda untuk mengisi ulang masalah?
Jika damai bertahan, mungkin kapal tanker kembali ramai, pasar lebih tenang, dan harga komoditas sedikit bernapas lega.
Tetapi jika sebaliknya…
Korupsinikus menatap bala-bala haneut di atas piring dengan mata berkabut.
“Kalau konflik kembali meledak, entah harga bala-bala akan bagaimana. Bisa naik, bisa mengecil, bisa tinggal kenangan.”
Rubi menambahkan dengan nada ilmiah palsu: “Bukan cuma harga. Kualitas juga. Hari ini isi kolnya padat, besok tinggal aroma.”
Di situlah letak tragedi kecil sebuah bangsa: perang di tempat jauh, tapi dampaknya datang ke meja makan. Selat Hormuz yang sunyi bisa membuat warung ramai keluhan. Tanker yang tak lewat bisa membuat minyak goreng lewat batas nalar.
Karena itu, ketahanan pangan bukan slogan rapat ber-AC. Ia adalah pagar terakhir agar rakyat tak panik hanya karena rak dapur mulai kosong.
Minyak goreng, gula, beras—semuanya kini harus diamati dari detik ke detik. Sebab denyut dunia sudah saling kait-mengkait. Ombak di Timur Tengah bisa menjadi gelombang tagihan di Asia Tenggara.
Korupsinikus pun menutup percakapan sambil menggigit bala-bala yang masih hangat:
“Kadang ancaman terbesar bukan suara ledakan. Tapi suara pedagang bilang: naik lagi, Pak.”
Duh…
(Selesai)







