Porosmedia.com, Bandung – Di sudut Ciparay, Kabupaten Bandung, tepat pada 29 April 1947, seorang bayi laki-laki lahir dari pasangan Abas Totong dan Oyeh. Tak ada yang menyangka bahwa kelak, sang bocah bernama Dada Rosada itu akan memegang tongkat estafet kepemimpinan di salah satu kota paling dinamis di Indonesia: Kota Kembang, Bandung.
Namun, perjalanan Dada menuju kursi “Bandung 1” bukanlah sebuah lompatan instan. Ia adalah potret nyata dari seorang birokrat yang meniti tangga dari anak tangga terbawah.
Jika kita melihat riwayat hidupnya, Dada Rosada adalah definisi dari “pria di balik angka.” Mengawali karier di Badan Penanaman Modal pada 1973, ia menghabiskan hampir dua dekade mengelola urusan keuangan dan ekonomi daerah. Dari bendaharawan hingga menjadi Kepala Dinas Pendapatan Daerah, Dada memahami denyut nadi pembangunan Bandung bukan melalui retorika, melainkan melalui data dan keringat kerja lapangan.
Ketelitiannya dalam mengelola anggaran inilah yang membawanya dipercaya menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) pada tahun 2000. Posisi ini adalah “mesin” bagi pemerintahan kota, dan Dada membuktikan bahwa pengalaman teknisnya mampu menjaga stabilitas birokrasi Bandung di masa transisi politik.
Selama sepuluh tahun (2003–2013), Dada Rosada mengemban amanah sebagai Wali Kota Bandung ke-19. Dalam ingatannya, Bandung bukan sekadar wilayah administratif, melainkan rumah yang harus dirawat kebersihannya. Slogannya yang populer kala itu, “Bersih, Bagian dari Budaya,” mencerminkan kegelisahannya akan jati diri warga Bandung yang seharusnya luhur dan tertib.
Meskipun ia berangkat dari latar belakang birokrat murni, Dada menunjukkan keluwesan politik. Kemenangan mutlak di atas 60% pada periode kedua (2008) bersama Ayi Vivananda menjadi bukti otentik bahwa ia memiliki ikatan emosional yang kuat dengan masyarakatnya. Ia dipandang sebagai figur “bapak” yang mampu merangkul berbagai golongan, sebelum akhirnya tongkat kepemimpinan beralih ke tangan Ridwan Kamil pada 2013.
Di luar sorotan kamera dan urusan kedinasan, Dada adalah sosok keluarga yang didampingi setia oleh istrinya, Nani Suryani Rosada. Kehidupan pribadinya relatif jauh dari gemerlap, mencerminkan akar nilai-nilai Sunda yang mengedepankan kesantunan (someah) dan kebersahajaan.
Sebagai seorang Doktor dan Magister Sains, ia tetap memandang pendidikan sebagai fondasi utama. Baginya, politik mungkin adalah jalan pengabdian, namun ilmu pengetahuan adalah alat untuk mempertajam nurani dalam mengambil keputusan.
Kini, di usianya yang menginjak 78 tahun, Dada Rosada tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah modern Bandung. Seperti setiap pemimpin, ia melalui musim-musim yang penuh tantangan dan dinamika hukum yang menjadi catatan sejarah perjalanannya. Namun, kontribusinya dalam membangun fondasi birokrasi di Kota Bandung selama empat dekade adalah fakta yang tak bisa dihapus dari memori kota.
Ia bukan sekadar nama dalam daftar Wali Kota; ia adalah seorang saksi dan pelaku sejarah yang ikut membentuk wajah Bandung yang kita kenal hari ini—sebuah kota yang terus berupaya mempercantik diri, berawal dari kerja keras seorang putra daerah dari Ciparay.







