Abu Hurairah, Sang Bapak Kucing, Lembutnya Hati dan Abadinya Ilmu

Porosmedia.com | Tasikmalaya Dia adalah perbendaharaan hadis Nabi. Namanya terukir dalam ribuan riwayat, menjadi jembatan utama antara Rasulullah ﷺ dan umat setelahnya. Namun, di balik kedalaman ilmunya yang samudera, terselip sebuah panggilan yang justru mengungkapkan jati dirinya yang paling hakiki, Abu Hurairah, sang Bapak Kucing.

Sebelum menjadi legenda periwayatan Islam, dia adalah Abdurrahman bin Shakhr, seorang pemuda dari suku Daus, Yaman, yang hijrah dengan penuh kerinduan untuk memeluk Islam dan menemui Sang Nabi. Dunia mengenalnya bukan dengan nama aslinya, melainkan dengan julukan yang lahir dari sebuah adegan sederhana nan menyentuh, seorang lelaki dewasa dengan anak kucing kecil yang selalu menemaninya.

Sang Penyayang dari Negeri Yaman

Sejak muda, jiwa Abdurrahman telah dihiasi dengan kelembutan yang luar biasa terhadap makhluk yang lemah. Dalam kesendirian maupun keramaian, ia sering terlihat dengan seekor hurairah—anak kucing kecil dalam logat Arab—yang ia rawat dengan penuh kasih. Kucing itu tidur di sudut selendangnya, ia beri makan dari jatahnya yang sederhana, dan diajaknya berjalan-jalan dengan hati-hati. Bukan sekali atau dua kali, melainkan menjadi pemandangan yang khas darinya.

Mata orang-orang pun tertuju. “Ya Aba Hurairah!” seru mereka, setengah heran, setengah kagum. “Wahai, Bapak si Kucing Kecil!” Panggilan itu bergema, dari mulut ke mulut, hingga akhirnya melekat lebih kuat daripada nama pemberian orang tuanya. Julukan yang di dunia lain bisa jadi dianggap remeh, justru menjadi mahkota keunikan baginya.

Baca juga:  Polemik Desa Wadas, Bukti Kegagalan Demokrasi Kapitalisme

Rasulullah, Senyum, dan Sebuah Julukan yang Diberkati

Yang menakjubkan, Rasulullah ﷺ—yang selalu memilih kata dan panggilan terbaik—ternyata juga memanggilnya demikian. “Ya Aba Hurairah,” panggil Sang Nabi dengan lembut. Dalam panggilan itu, tersirat pengakuan dan penerimaan. Nabi tidak pernah menegur kegemarannya itu, karena Islam sendiri memuliakan kucing. Kucing diistimewakan dalam Islam, tetapi kotoran dan air kencingnya tetap najis, sementara bulu dan air liurnya dimaafkan dalam jumlah sedikit karena sulit dihindari.

Saat Nabi melihat Abu Hurairah datang dengan ‘anak’ kesayangannya, yang terpancar adalah senyum, bukan celaan. Di sini, julukan itu bertransformasi, dari sekadar panggilan masyarakat, menjadi kunyah yang disahkan dan diberkahi oleh Rasulullah sendiri. Ia bukan lagi ejekan, melainkan gelar kehormatan yang menandai seorang penyayang.

Hati yang Lembut, Gudang Ilmu yang Kuat

Kisahnya dengan kucing bukan sekadar cerita lucu pengisi waktu. Itu adalah jendela menuju karakternya. Kelembutan yang ditunjukkannya kepada makhluk kecil adalah cerminan dari kelembutan hatinya yang siap menerima cahaya Ilahi. Hati yang penuh kasih adalah tanah subur tempat benih-benih hikmah dan ilmu bisa tumbuh dengan kokoh.

Baca juga:  Pemkab Purwakarta Peringati Isra Mi'raj 1443 H 2022 M

Allah SWT kemudian menganugerahinya karunia yang luar biasa, hafalan yang kuat dan tajam. Karunia ini lahir dari doa Rasulullah ﷺ, yang melihat kesungguhan dan kemiskinannya. Abu Hurairah pernah kelaparan hingga pingsan di serambi masjid, disangka kesurupan. Setelah Nabi mengetahui, beliau mendoakannya agar ilmu yang didengar tidak terlupa. Sejak saat itu, memori Abu Hurairah menjadi seperti bejana yang tak pernah luber, menyimpan setiap kata, setiap senyum, dan setiap teladan Nabi.

Dia meriwayatkan lebih dari 5.000 hadis, menjadi sahabat dengan kontribusi terbesar dalam periwayatan, meski masa bersamanya dengan Nabi relatif singkat (hanya sekitar 4 tahun). Semua itu berawal dari sebuah hati yang tulus—hati yang sama yang tergerak oleh kucing kecil yang terlantar.

Warisan yang Bergema, Nama, Kasih Sayang, dan Ilmu

Abu Hurairah wafat di Madinah, meninggalkan warisan abadi, lautan hadis yang hingga hari ini menjadi pedoman hidup miliaran muslim. Namun, warisan lain yang tak kalah penting adalah teladan kasih sayang yang universal.

Dalam panggilan “Bapak Kucing”, kita diingatkan bahwa keagungan ilmu tidak harus kaku dan angker. Ia bisa berjalan beriringan dengan kelembutan dan kepedulian kepada makhluk Tuhan yang paling kecil sekalipun. Namanya mengajarkan bahwa kemuliaan sejati terletak pada hati yang mudah tersentuh, jiwa yang rendah hati, dan kesediaan untuk merawat—baik ilmu maupun makhluk.

Baca juga:  Simfoni Kasih dalam Riuh Perang Ajnadayn

Maka, setiap kali kita membaca hadis yang diriwayatkannya, atau mendengar namanya disebut, ingatlah tidak hanya pada sang ahli hadis, tetapi juga pada lelaki dengan anak kucing di lengan bajunya. Lelaki yang namanya, berkat kelembutannya, justru bergema lebih luas dan abadi melewati zaman, Abu Hurairah, sang Bapak Kucing, sang Penjaga Cinta dan Ilmu Nabi.