Mengejar Efisiensi, Mengabaikan Keselamatan: Potret Buram Kebijakan Jalan Sukajadi

Avatar photo

Porosmedia.com – Rekayasa lalu lintas di kawasan Jalan Sukajadi yang diubah menjadi satu arah kini tak lagi sekadar kebijakan teknis—ia telah menjelma menjadi perbincangan hangat yang menyentuh denyut kehidupan masyarakat. Reaksi publik kian kentara, bukan hanya berupa keluhan sesaat, melainkan akumulasi kegelisahan yang tumbuh dari hari ke hari.

Di satu sisi, kebijakan ini mungkin lahir dari niat menata arus kendaraan agar lebih tertib dan mengurai kemacetan. Namun di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan konsekuensi yang tak sederhana. Para pelaku usaha kecil hingga menengah di sepanjang ruas jalan tersebut mulai merasakan dampak yang nyata. Akses yang semakin terbatas, perubahan arah arus kendaraan, hingga berkurangnya lalu lintas pelanggan telah membuat roda ekonomi tersendat. Toko-toko yang dulu ramai kini tampak lengang, seolah kehilangan denyut kehidupannya.

Lebih dari sekadar persoalan ekonomi, kekhawatiran yang lebih besar muncul dari aspek keselamatan. Perubahan pola lalu lintas yang belum sepenuhnya dipahami pengguna jalan kerap memicu kebingungan, bahkan berujung pada kecelakaan. Tidak sedikit insiden yang terjadi diduga akibat kurangnya sosialisasi, rambu yang tidak memadai, atau adaptasi yang terlalu dipaksakan dalam waktu singkat. Jalan yang semestinya menjadi ruang mobilitas justru berubah menjadi titik rawan yang menelan korban.

Baca juga:  BKSDA Bali 'Tabuh Genderang Perang' Lawan Bisnis Gajah Tunggang: Patuh atau Cabut Izin!

Di tengah situasi ini, masyarakat mulai mempertanyakan: apakah kebijakan ini telah melalui kajian yang matang dan menyeluruh? Apakah suara warga dan pelaku usaha telah cukup didengar sebelum keputusan diambil? Sebab pada akhirnya, kebijakan publik bukan hanya tentang efisiensi lalu lintas, melainkan juga tentang keberlangsungan hidup masyarakat yang terdampak di dalamnya.

Narasi yang berkembang bukan lagi sekadar penolakan, tetapi harapan akan evaluasi yang bijak dan terbuka. Masyarakat tidak menutup diri terhadap perubahan, namun mereka menginginkan kebijakan yang hadir dengan empati, berbasis data, serta mempertimbangkan dampak jangka panjang. Jalan Sukajadi hari ini menjadi cermin bahwa setiap rekayasa ruang publik harus berpijak pada keseimbangan—antara keteraturan, keselamatan, dan keberlanjutan ekonomi.

Jika tidak, maka kebijakan yang dimaksudkan untuk memperbaiki justru berpotensi menciptakan persoalan baru yang lebih kompleks—dan pada akhirnya, masyarakatlah yang harus menanggung beban terbesarnya.

Ditulis : Bambang Sudaryanto.