Porosmedia.com – Nurnaningsih (5 Desember 1925 – 21 Maret 2004) adalah salah satu aktris legendaris Indonesia yang dikenal karena keberaniannya dalam menembus batas-batas norma sosial di masanya. Ia kerap dianggap sebagai figur perempuan pertama di perfilman Indonesia yang tampil progresif dan penuh kontroversi, terutama terkait dengan kebebasan berekspresi dalam seni.
Lahir di Surabaya, Hindia Belanda, Nurnaningsih mengenyam pendidikan hingga tingkat SMA sebelum memutuskan berhenti di kelas satu. Karier filmnya dimulai dengan peran dalam film Krisis (1953) karya maestro perfilman Usmar Ismail. Film bergenre komedi sosial ini menjadi salah satu yang paling populer pasca kemerdekaan, menyusul kesuksesan film Terang Boelan (1937).
Pada tahun 1954, namanya semakin mencuat lewat perannya dalam film Harimau Tjampa karya D. Djajakusuma, di mana ia berani tampil dalam adegan yang pada masa itu dianggap cukup berani. Tindakan ini memicu perdebatan publik dan menjadi bagian dari pertarungan antara semangat kebebasan berekspresi para seniman dengan ketatnya aturan sensor. Nurnaningsih kemudian menyatakan kepada media bahwa niatnya bukan untuk merusak nilai seni, melainkan untuk menghapus pandangan kolot yang masih membelenggu dunia kesenian Indonesia.
Kontroversi tidak berhenti di sana. Pada pertengahan tahun 1954, beredar foto-foto Nurnaningsih yang memeragakan busana modern bergaya Barat. Peredaran foto tersebut memancing respons keras dari sebagian masyarakat dan pejabat hukum. Ia sempat diperiksa oleh kepolisian dan menjadi sorotan kejaksaan, sementara sejumlah bioskop di beberapa daerah memboikot film-filmnya karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai moral yang berlaku saat itu.
Setelah merilis film Kebun Binatang (1955), Nurnaningsih sempat menghilang dari dunia hiburan dan menjalani kehidupan sebagai seniman keliling. Selama sekitar dua belas tahun, ia menjelajahi berbagai daerah di Indonesia sambil menekuni beragam profesi, seperti pengajar Bahasa Inggris, penjahit, penyanyi, pemain sandiwara, dan bahkan sempat menjadi penjaga gawang sepak bola selama enam tahun.
Ia kembali ke dunia film pada tahun 1968 melalui peran kecil dalam film Djakarta, Hongkong, Macao dan kemudian membintangi Seribu Janji Kumenanti pada 1972. Hingga dekade 1980-an, Nurnaningsih tetap aktif di dunia seni peran dan dikenal sebagai aktris yang membentuk narasi berbeda tentang peran perempuan dalam industri perfilman Indonesia.







