Porosmedia.com, Bandung – Krisis yang melanda Bandung Zoo kian menunjukkan kompleksitasnya. Di tengah beredarnya informasi bahwa karyawan patungan membeli pakan satwa, Aliansi Pecinta Satwa Liar Indonesia (APECSI) menilai kondisi tersebut tidak menyelesaikan masalah, justru mencerminkan persoalan internal yang belum terselesaikan.
Koordinator APECSI, Singky Soewadji, saat dikonfirmasi lewat telepon selular, Minggu, 14 Desember 2025, menyebut bahwa sejumlah relawan dan aktivis satwa yang sebelumnya terlibat membantu Bandung Zoo kini sudah menarik diri. Hal itu dipicu oleh sikap pengelola yang dinilai tidak membuka ruang kerja sama secara sehat dan berkelanjutan.
“Ketika muncul kabar karyawan harus patungan beli pakan, itu bukan lagi soal simpati, tapi justru memperlihatkan masalah serius dalam pengelolaan. Ini mempermalukan institusi, bukan menyelesaikan akar persoalan,” ujar Singky saat dikonfirmasi.
Upaya Bantuan Berulang, Respons Tetap Tertutup
Kronologi terbaru bermula pada Jumat pagi, ketika Prof. Henry menghubungi APECSI untuk menanyakan kondisi Bandung Zoo. Dalam komunikasi tersebut kembali disampaikan bahwa sejak awal, pihak Yayasan Bandung Zoo seakan tidak ingin dibantu dan memilih menempuh cara sendiri.
Percakapan kemudian dilanjutkan melalui panggilan bersama via WhatsApp. Dari diskusi tersebut, APECSI menyimpulkan bahwa kasus Bandung Zoo justru semakin rumit, bukan semakin mendekati solusi.
Menurut Singky, persoalan Bandung Zoo tidak bisa diselesaikan hanya dengan donasi atau solidaritas sesaat. Ada masalah struktural dan hukum yang belum dituntaskan.
“Menyelamatkan Zoo Harus Selamatkan Sri dan Bisma”
APECSI menilai bahwa upaya penyelamatan Bandung Zoo tidak bisa dilepaskan dari nasib Sri dan Bisma, dua gajah Sumatera yang menjadi simbol krisis berkepanjangan di kebun binatang tersebut.
“Kalau Sri dan Bisma tidak diselamatkan, upaya apa pun akan percuma. Dan saat ini, secara realistis, penyelamatan mereka sudah terlambat. Satu-satunya jalan yang tersisa adalah menunggu putusan kasasi di Mahkamah Agung,” tegas Singky.
Ia menambahkan, keputusan kini sepenuhnya berada di tangan pihak terkait, dan tidak ada lagi jalur alternatif yang bisa ditempuh oleh relawan maupun aktivis satwa.
Dalam perjalanan pendampingan selama ini, sikap pengurus Bandung Zoo juga membuat banyak pihak yang sebelumnya aktif membantu akhirnya memilih untuk tidak lagi ikut campur.
711 Satwa Bertahan dengan Sisa Pakan dan Donasi Publik
Di sisi lain, kondisi faktual di lapangan menunjukkan situasi yang kian memprihatinkan. Sejak Jumat, 12 Desember 2025, sebanyak 711 satwa Bandung Zoo bertahan hidup dari sisa pakan terakhir serta bantuan donasi masyarakat.
Krisis ini terjadi lebih dari empat bulan setelah penutupan total Bandung Zoo pada 6 Agustus 2025. Seluruh dana cadangan dan tabungan telah habis terserap untuk biaya operasional, mulai dari pakan harian hingga gaji karyawan. Posisi kas kini berada di angka nol.
“Kami dihadapkan pada dua pilihan pahit, meminta bantuan publik atau membiarkan satwa kelaparan,” ujar Humas Bandung Zoo, Sulhan Syafi’i, yang akrab disapa Aan.
Karyawan Bertahan, Strategi Darurat Dijalankan
Di tengah keterbatasan ekstrem, para karyawan tetap bertahan merawat satwa. Mereka kini tidak hanya bekerja sebagai perawat, tetapi juga harus berinovasi agar setiap satwa tetap mendapat asupan nutrisi.
Beberapa langkah darurat pun ditempuh. Untuk satwa pemakan ikan seperti berang-berang dan burung, pengelola memanfaatkan hasil panen ikan dari kolam internal. Pakan karnivora dimodifikasi secara signifikan dengan mengganti sebagian daging sapi menggunakan daging domba atau kambing.
“Dalam sebulan terakhir kami memotong tujuh ekor domba. Setiap satwa karnivora mendapat lima kilogram ayam dan satu kilogram daging domba,” jelas Aan.
Untuk herbivora, rumput lapang dan rumput gajah hasil tanam sendiri menjadi sumber utama pakan. Kebutuhan buah dipenuhi dari dua kebun pisang internal, meski sebagian tetap harus dibeli dari luar.
Krisis Konservasi yang Tak Bisa Dianggap Biasa
APECSI menilai situasi ini telah melampaui persoalan operasional semata. Krisis Bandung Zoo telah menjelma menjadi krisis konservasi dan moral publik, karena ratusan satwa—sebagian besar dilindungi—berada dalam kondisi rentan.
“Gajah Sumatera, Harimau Jawa, Owa Jawa, itu bukan sekadar koleksi kebun binatang. Mereka adalah aset hayati bangsa. Jika dibiarkan bergantung pada donasi tanpa solusi struktural, ini kegagalan bersama,” tegas Singky.
Hingga kini, ratusan satwa Bandung Zoo masih menunggu kepastian. Donasi publik mungkin memberi napas sementara, namun tanpa pembenahan mendasar dan keputusan hukum yang jelas, masa depan Bandung Zoo tetap berada di ujung tanduk.







