Abah Kusye D’Bodors: Menjaga Api Tawa di Usia Senja

Avatar photo

Porosmedia.com, Jatinangor –Di balik riuh tawa panggung hiburan dekade 70-an hingga 90-an, terselip kisah kesetiaan seorang seniman pada jalurnya. Ujang Kusmana Wiryadi, atau yang lebih karib disapa Abah Kusye, bukan sekadar nama dalam daftar komedian lawas. Ia adalah kepingan sejarah kejayaan grup lawak legendaris D’Bodors yang hingga kini masih memegang teguh marwah seni komedi tanah air.

​Lahir di Jakarta pada 21 Agustus 1953, pria berusia 73 tahun ini memiliki garis hidup yang unik. Meski besar di panggung hiburan, Abah Kusye sempat mencicipi stabilitas sebagai Abdi Negara. Pada tahun 1980, ia tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Bandung. Namun, panggilan jiwa sebagai seniman nyatanya jauh lebih kuat.

​Selama 15 tahun (1980–1995), Abah Kusye menjadi pilar penting bagi D’Bodors. Masa itu adalah era di mana lawakan bukan sekadar banyolan, melainkan harmoni antara gerak tubuh, ekspresi, dan kecerdasan verbal. Kenangan pahit-manis pun terekam jelas dalam ingatannya.

Selasa, 24 Maret 2026, Menengok Abah Kusye yang sedang sakit di Kediamannya daerah Perumahan Cipacing, Jatinangor, Kab. Sumedang, Jawa Barat.

​“Sukanya kalau dibayar mahal, dukanya kalau tidak dibayar,” selorohnya Abah Kusye dengan nada bercanda yang masih kental, mencerminkan realitas jujur seorang seniman panggung.

Baca juga:  Cimindi Terendam: Menagih Tanggung Jawab Nyata Pemkot Cimahi Atas Banjir Tahunan

​Kehilangan sosok karib sekaligus mentornya, almarhum Abah Us Us (Achmad Yusuf) pada 2010, menjadi salah satu titik melankolis dalam perjalanan karirnya. Bagi Abah Kusye, generasi seniman dulu dan sekarang memiliki jurang perbedaan yang besar dalam hal kedalaman rasa dan proses kreatif.

​Saat ini, Abah menetap di kediamannya di Perumahan Puskopad, Desa Cipacing, Jatinangor. Meski fisiknya tak lagi semuda saat ia berlarian di atas panggung, semangatnya tak kunjung padam. Bagi sang istri, Misyu, serta putra mereka, Arif Angga Kusuma dan sibungsu Ajania Putri, Abah adalah sosok yang tangguh.

​Satu pesan mendalam yang selalu ia titipkan bagi para penerus adalah tentang konsistensi.

“Tingkatkan terus dalam seni apa pun, terutama dalam seni lawak,” tuturnya. Pesan ini bukan sekadar kalimat klise, melainkan sebuah wasiat dari seorang yang telah mendedikasikan lebih dari separuh hidupnya untuk membuat orang lain tersenyum.

​Prestasi Abah Kusye juga tercatat secara kolektif dalam sejarah hiburan Indonesia. Melalui keterlibatannya dalam industri kreatif, termasuk dalam ekosistem sinetron seperti Tukang Ojek Pengkolan, ia menjadi bagian dari pencapaian rekor MURI sebagai sinetron dengan jumlah episode terpanjang.

Baca juga:  Letkol Inf Henggar Tri Wahono Resmi sebagai Dandim 0621/Kabupaten Bogor

​Abah Kusye adalah bukti nyata bahwa menjadi seniman bukan hanya soal popularitas sesaat, melainkan soal bagaimana menjaga integritas dan cinta terhadap profesi hingga usia senja. Di sela waktu istirahatnya, ia tetaplah sang “Bodor” yang kita kenal—sosok yang mampu mengubah getirnya hidup menjadi tawa yang menghangatkan.

https://youtube.com/@aagawirchannel8463?si=miVzeD_DVyD1uFJ-