Filosofi “Umarell”: Menemukan Makna Pengabdian di Balik Debu Pembangunan

Avatar photo

Oleh : Adaptasi pemikiran: Bambang Sudaryanto

​Porosmedia.com– Di tengah hiruk-pikuk modernitas kota-kota tua di Italia, terselip sebuah fenomena sosiologis yang unik sekaligus menyentuh. Di balik deru alat berat dan debu proyek konstruksi, sering kali terlihat sosok-sosok pria lansia yang berdiri tenang dengan tangan terlipat di belakang punggung. Mereka adalah “Umarell”—istilah dialek Bologna yang kini menjadi simbol budaya tentang keterhubungan sosial dan makna hidup di masa senja.

​Secara harfiah, Umarell mungkin hanya tampak seperti sekumpulan pensiunan yang menghabiskan waktu luang. Namun, jika ditelaah melalui kacamata sosiokultural, kehadiran mereka merepresentasikan esensi yang lebih dalam: sebuah saksi bisu atas perubahan jaman.

​Para lansia ini tidak sekadar menonton; mereka sedang “menyaksikan” proses pertumbuhan lingkungan mereka. Ada rasa kepemilikan (sense of belonging) yang kuat terhadap setiap bata yang tersusun dan setiap fondasi yang tertanam. Meskipun tangan mereka tak lagi memegang sekop atau mengemudikan mesin, kehadiran mereka secara emosional menegaskan bahwa mereka tetap menjadi bagian integral dari pembangunan peradaban.

Baca juga:  Memaknai Purnabakti: Menemukan Kedamaian dalam Filosofi Jawa

​Dalam perspektif lokal, fenomena ini berkelindan erat dengan kearifan lokal masyarakat kita, yakni filosofi “Sepi ing pamrih, rame ing gawe”. Masa purnabakti bagi para Umarell bukanlah akhir dari sebuah peran, melainkan transformasi cara berkontribusi—dari tenaga fisik menjadi keterlibatan batin dan kepedulian sosial yang tulus.

​Lebih dari sekadar hobi, aktivitas ini menjadi katarsis bagi tantangan isolasi sosial di usia senja. Di lokasi proyek, tercipta ruang interaksi alami—tempat bertukar sapa dan cerita yang mampu mengusir kesepian. Menariknya, masyarakat dan otoritas setempat di Italia merespons hal ini dengan penuh rasa hormat. Beberapa pengembang proyek bahkan menyediakan area khusus yang aman agar para lansia ini dapat memantau pekerjaan dengan nyaman.

​Ini adalah bentuk pengakuan publik bahwa lansia bukanlah beban sosial, melainkan bagian dari ekosistem kehidupan yang memberikan warna dan perspektif sejarah.

​Fenomena Umarell mengajarkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu bersumber dari pencapaian besar, melainkan dari kesediaan untuk tetap hadir dan terhubung dengan dunia di sekitar kita. Keterlibatan batin ini membuktikan bahwa peran seseorang dalam kehidupan tidak dibatasi oleh usia produktif secara formal.

Baca juga:  Satgas Yonif 323 Buaya Putih Berikan Sembako Sebagai Wujud Peduli Dengan Tokoh Masyarakat

​Di balik tatapan teduh para lansia tersebut, tersirat sebuah pesan universal: Selama nurani masih memiliki kepedulian terhadap pertumbuhan dunia, maka sejatinya eksistensi hidup seseorang tidak akan pernah padam.