Nathanael Matanick, Sutradara Asal Amerika Serikat, Kagum pada Alam Santosa: “Film Runaway Cocok Sekali di Sini”

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – 7 Oktober 2025, Sutradara peraih penghargaan asal California, Nathanael Matanick, mengaku terpesona dengan keindahan dan keaslian alam di Eko Wisata dan Budaya Alam Santosa, Cimenyan, Kabupaten Bandung. Lokasi tersebut menjadi tempat pengambilan gambar film terbarunya berjudul Runaway, yang dibintangi oleh Christine Hakim dan Dony Damara.

Kawasan yang dikelola oleh tokoh lingkungan Eka Santosa itu tampak hidup dan semarak. Area sekitar Bale Alit disulap menjadi perkampungan khas Jawa Barat, lengkap dengan aktivitas anak-anak yang berlarian di sekitar lokasi syuting.

“Saya juga kaget, Alam Santosa dianggap paling ideal untuk lokasi syuting film karya sutradara Amerika bernama Nathanael Matanick,” ujar Eka Santosa saat ditemui di lokasi.

Menurut Eka, tim produksi film Runaway menata kawasan Alam Santosa dengan sangat rinci dan profesional.

“Bale Alit bahkan diubah menjadi Balai Belajar. Film ini kabarnya dibintangi oleh Christine Hakim dan Dony Damara. Peralatannya canggih, jumlah pemain dan kru pun banyak sekali. Bagi kami, ini bukan hanya soal lokasi syuting, tapi juga sarana belajar tentang standar produksi film internasional,” tambahnya.

Baca juga:  Sinergi Jabar Corporate University: Kompetensi ASN Jawa Barat Capai Skor 37,11 Persen, Mendekati Angka Maksimal

Runaway: Cinta Kasih Ayah dan Anak dalam Latar Indonesia

Dalam perbincangan sore hari bersama redaksi, Eka Santosa dan Nathanael Matanick menjelaskan bahwa Runaway masih merupakan judul sementara dari proyek film drama tersebut.

“Masih mungkin berubah, nanti akan disesuaikan dengan pihak distribusi dan promosi,” ujar Matanick, yang akrab disapa Heschle.

Matanick mengaku senang bekerja sama dengan kru dan talenta film dari Indonesia.

“Selain ramah, mereka juga sangat disiplin dan terampil. Saya merasa cocok sekali bekerja di sini,” tuturnya.

Film Runaway direncanakan akan diputar di berbagai festival film internasional di Eropa, Amerika, dan kawasan lainnya.

“Selain untuk ajang festival, film ini juga menjadi sarana memperkenalkan budaya serta kehidupan masyarakat Indonesia kepada dunia,” jelasnya.

Menurut sang sutradara, Runaway mengangkat tema universal tentang hubungan kasih sayang antara ayah dan anak.

“Konflik keluarga, perbedaan, dan rekonsiliasi adalah hal yang bisa dirasakan siapa saja di berbagai budaya. Kami mencoba menampilkan sisi kemanusiaan itu dalam konteks Indonesia,” ungkap Matanick.

Baca juga:  Eka Santosa Soroti Inkonsistensi Bupati Pangandaran Terkait KJA: “Pemkab Harus Hadir dengan Solusi, Bukan Mencla-Mencle”

Dari ReMoved ke Runaway

Nama Nathanael Matanick sebelumnya dikenal melalui film pendek ReMoved, berdurasi 13 menit, yang bercerita tentang perjalanan emosional seorang anak berusia 9 tahun yang harus hidup di sistem keluarga asuh (foster care) karena kondisi rumah tangga yang tidak stabil.

Film tersebut memenangkan sejumlah penghargaan di berbagai festival film internasional dan sempat viral secara global. Kini, ReMoved banyak digunakan sebagai bahan edukasi dan advokasi bagi lembaga sosial serta psikologi keluarga di Amerika Serikat.

“Sarah Tsunami” dan Inspirasi Baru

Menariknya, Eka Santosa juga menceritakan pertemuannya kembali dengan Sarah Tsunami, bayi korban selamat bencana tsunami Pangandaran tahun 2006 yang sempat dikenal luas publik.

“Saya baru bertemu lagi dengan Sarah setelah lama tak berkomunikasi karena pandemi. Sekarang usianya 19 tahun, baru lulus dari SMKN 2 Pangandaran, dan Insyaallah akan kuliah di Unpad tahun depan,” ungkap Eka.

Mendengar kisah tersebut, Nathanael Matanick menunjukkan ketertarikannya.

“Silakan kirim data tentang Sarah. Siapa tahu bisa menjadi inspirasi untuk film dokumenter atau proyek sosial bersama,” ujarnya.

Baca juga:  HPN di Taman Musik bukti Peran Pers memberikan penghargaan kepada Tokoh Kota Bandung

Bagi Matanick, Alam Santosa bukan sekadar lokasi syuting, melainkan ruang refleksi budaya yang penuh makna.

“Tempat ini luar biasa. Saya bisa merasakan kedamaian sekaligus kekuatan nilai budayanya. Runaway terasa hidup di sini,” tutupnya.

 

Reporter: Hari Safiari/Algivon
Foto: ALGIVON.ID