Mengenang Sarwono Kusumaatmadja: Teknokrat Berintegritas di Balik Metafora “Cabut Gigi”

Avatar photo

Porosmedia.com – Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya pada 26 Mei 2023, namun warisan pemikirannya tetap abadi. Sarwono Kusumaatmadja (1943–2023) bukan sekadar birokrat yang melintasi berbagai era kekuasaan; ia adalah simbol intelektualitas yang tenang namun memiliki keberanian moral di atas rata-rata.

​Lahir dengan latar belakang akademis yang kuat, Sarwono merupakan alumnus Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1974. Semangat teknokratis yang ia bawa dari “Kampus Ganesha” tersebut mewarnai gaya kepemimpinannya yang efisien dan berbasis data.

​Karier politiknya tergolong fenomenal. Di usia yang relatif muda, ia dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Golkar, sebelum akhirnya mengabdi di tiga pos kementerian strategis: ​Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (1988–1993), Menteri Negara Lingkungan Hidup (1993–1998), Menteri Eksplorasi Kelautan (1999–2001.

​Dalam catatan sejarah politik Indonesia, nama Sarwono akan selalu lekat dengan istilah “Cabut Gigi”. Metafora ini ia lontarkan dalam sebuah wawancara ikonik di televisi nasional sesaat sebelum tumbangnya Orde Baru.

​Di tengah tekanan politik yang mencekam, Sarwono dengan lugas menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan perlunya pengunduran diri massal kabinet serta mundurnya Presiden Soeharto demi keselamatan bangsa. Keberaniannya menyuarakan kritik dari dalam lingkaran kekuasaan menjadikannya salah satu tokoh kunci dalam transisi demokrasi Indonesia.

Baca juga:  KDM Akui Air Aqua dari Mata Air Pegunungan Subang: Klarifikasi, Ketelitian, dan Krisis Kepercayaan Publik dalam Komunikasi Pejabat

​Hubungan unik Sarwono dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga menjadi legenda tersendiri. Jauh sebelum menjabat sebagai Presiden, Gus Dur sempat berseloroh bahwa jika ia memimpin negara, Sarwono adalah sosok yang harus mengurusi laut.

​Ramalan itu menjadi kenyataan. Di bawah kepemimpinan Gus Dur, Sarwono didapuk sebagai Menteri Eksplorasi Kelautan pertama di Indonesia. Perannya sangat krusial; ia adalah arsitek utama yang meletakkan fondasi kebijakan maritim, menyadarkan bangsa bahwa kekayaan sejati Indonesia justru terletak pada birunya samudra, bukan sekadar daratan.

​Hingga akhir hayatnya, Sarwono tetap menjadi pribadi yang bersahaja namun tetap kritis. Meski sempat masuk dalam bursa kepemimpinan daerah seperti Pilgub DKI Jakarta 2007, ia memilih jalur pengabdian lain yang jauh dari hiruk-pikuk perebutan kursi kekuasaan.

​Di masa senjanya, ia tetap produktif mengawal isu energi dan lingkungan melalui perannya sebagai Komisaris Utama PT Energy Management Indonesia.

​”Sarwono Kusumaatmadja membuktikan bahwa seorang pejabat negara bisa tetap memiliki nurani yang tajam dan integritas yang tak tergoyahkan, bahkan ketika berada di pusat badai kekuasaan.”

Baca juga:  Helikopter TNI AD Distribusikan Logistik dari Udara untuk Warga Terisolasi di Sibolga

Kepergiannya di Malaysia pada usia 79 tahun meninggalkan pesan mendalam bagi generasi muda: bahwa politik bukan sekadar tentang posisi, melainkan tentang keberanian untuk menyatakan kebenaran demi kepentingan publik.