Marius J. Hulswit — Arsitek Belanda yang Namanya Terekam di Katedral Jakarta

Menelisik jejak prasasti dan makam sang perancang neo-gotik di ibukota

Avatar photo

Porosmedia.com – Marius Jan Hulswit (lahir 2 Januari 1862, Amsterdam — wafat 10 Januari 1921, Batavia) adalah salah satu arsitek Belanda yang aktif di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Nama Hulswit tercatat dalam sejumlah bangunan kolonial penting di Nusantara; yang paling menonjol adalah keterlibatannya dalam penyelesaian Gereja Katedral Jakarta (Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga) yang bergaya neo-Gothic dan diresmikan pada 1901. Data biografis dan periode hidupnya tercantum dalam sumber-sumber arsip Belanda dan ensiklopedi sejarah arsitektur kolonial.

Peran Hulswit pada Katedral Jakarta

Rancangan awal katedral ini dibuat oleh pastor/arsitek Antonius Dijkmans SJ pada 1891, namun pembangunan sempat terhenti karena keterbatasan dana dan permasalahan administrasi. Pekerjaan disambung kembali pada akhir dekade 1890-an, dan M. J. Hulswit tercatat mengambil alih pelaksanaan konstruksi/penyelesaian pada periode 1899–1901 sehingga bangunan yang kita lihat sekarang dapat diselesaikan dan dikonsekrasi pada 21 April 1901. Peran Hulswit lebih banyak pada aspek pelaksanaan teknis dan supervisi konstruksi ketika gereja dilanjutkan.

Prasasti / Batu Peringatan Hulswit di Katedral

Di bagian dalam Katedral Jakarta terdapat sebuah batu kecil peringatan (memorial stone) yang menyebutkan nama Marius Hulswit — sebuah bentuk pengakuan sebagai sosok yang berjasa menyelesaikan bangunan katedral pada akhir abad ke-19. Foto dan keterangan tentang keberadaan memorial stone ini terdokumentasi dalam arsip foto publik serta koleksi gambar yang dapat diakses umum. Kehadiran prasasti kecil di dalam gereja menunjukkan penghormatan lokal terhadap peran teknis Hulswit, kendati rancangan awal bersumber dari pastor Dijkmans.

Baca juga:  27 Hari Neraka di Ruang Interogasi: Kapten I Wayan Dipta, Pemuda 20 Tahun yang Rela Dicabik daripada Berkhianat

Makam Hulswit: dari Batavia ke Museum Taman Prasasti

Marius J. Hulswit meninggal di Batavia pada 10 Januari 1921. Makamnya kini berada di lokasi yang dulunya adalah pemakaman Kerkhoflaan Kebon Jahe Kober, yang kemudian dialihfungsikan menjadi Museum Taman Prasasti (di Jakarta Pusat). Beberapa tulisan cagar budaya dan liputan lokal mendeskripsikan nisan dan jirat makam Hulswit — termasuk inskripsi nama, tanggal lahir-wafat, motif hias pada nisan, serta kondisi fisik makam yang saat ini menjadi bagian koleksi prasasti/monumen di museum tersebut. Kondisi makamnya pernah menjadi perhatian penulis dan konservator lokal karena adanya masalah pelapukan dan kerusakan pada nisan.

Koneksi Profesional: biro Hulswit — Fermont — Eduard Cuypers

Nama Hulswit juga terkait dengan biro arsitek besar yang beroperasi di Hindia Belanda — Hulswit, Fermont & Ed. Cuypers — yang menghasilkan sejumlah bangunan penting di Jawa dan kota-kota lain (mis. Bank Indonesia/Museum Bank Mandiri, beberapa gedung pemerintahan dan swasta di Surabaya dan Medan). Reputasi biro ini menempatkan Hulswit sebagai bagian dari gelombang arsitek Eropa yang memengaruhi wajah kota kolonial pada masa itu.

Baca juga:  Mang Koko: Tak Pernah Pensiun dari Tawa, Tak Pernah Lelah Menghibur

Mengapa prasasti dan makam Hulswit penting untuk dicatat hari ini?

1. Warisan arsitektural — Nama Hulswit melekat pada proses penyelesaian Katedral Jakarta, salah satu ikon arsitektur religius kolonial di pusat kota Jakarta. Menelusuri prasasti dan makamnya membantu mengaitkan personae historis dengan bangunan yang masih hidup fungsi dan bentuknya hingga kini.

2. Penelusuran historiografi kolonial — Dokumen dan prasasti fisik seperti nisan atau memorial stone adalah sumber primer penting untuk merekonstruksi proses pembangunan, relasi patron-kontraktor, dan pergantian peran antara perancang dan pelaksana.

3. Konservasi dan narasi publik — Kondisi fisik makam Hulswit di Museum Taman Prasasti yang pernah dilaporkan mengalami kerusakan membuka diskursus tentang prioritas konservasi situs-situs kolonial yang kini menjadi bagian museum dan ruang publik.

Rekomendasi sumber primer dan lanjutan untuk penelitian lebih mendalam

Arsip Belanda (Nationaal Archief / arsitek-ensiklopedia Belanda) untuk data kelahiran, pendidikan, dan arsip biro.

Dokumen dan publikasi resmi Katedral Jakarta / Museum Katedral (buku panduan museum, katalog restorasi) untuk catatan proses konstruksi dan adanya memorial stone.

Baca juga:  di era 60-an Chevrolet Suburban pernah rajai Jalanan Bandung - Jakarta

Koleksi foto arsip (Wikimedia Commons, koleksi museum lokal) dan laporan konservasi Museum Taman Prasasti untuk dokumentasi visual nisan/makam.

Kajian arsitektur kolonial (makalah/tesis dan PDF akademik) yang membahas jaringan biro arsitek Belanda di Hindia Belanda, termasuk Hulswit-Fermont-Cuypers.

Marius J. Hulswit bukan sekadar nama di nisan atau prasasti kecil; ia bagian dari narasi panjang transformasi ruang urban Batavia–Jakarta. Menelusuri prasasti dan makamnya mengingatkan kita bahwa bangunan ikonik kota menyimpan lapisan-lapisan cerita — arsitek, pastor, tukang, patron, hingga kondisi konservasi yang kini perlu perhatian bersama. Untuk pembaca dan peneliti lokal, jejak-jejak material seperti memorial stone di Katedral dan nisan di Museum Taman Prasasti adalah pintu kecil yang membuka catatan sejarah yang lebih besar.