Sumitro Djojohadikusumo: Begawan Ekonomi Indonesia dan Relevansinya di Era Hilirisasi

Avatar photo

Porosmedia.com – Nama Sumitro Djojohadikusumo sulit dipisahkan dari sejarah pembangunan ekonomi Indonesia. Dikenal luas sebagai “Begawan Ekonomi Indonesia”, ia bukan hanya seorang ekonom visioner, tetapi juga politikus, birokrat, dan akademisi yang gagasannya masih relevan hingga hari ini.

Pemikirannya berfokus pada tiga hal utama: industrialisasi sebagai jalan menuju kemandirian, pembangunan berimbang antara sektor pertanian dan industri, serta peran aktif negara dalam mengarahkan ekonomi nasional.

Konsep dan Sumbangsih Utama

1. Pembangunan Berimbang

Bagi Sumitro, industrialisasi adalah kunci kemajuan bangsa. Namun ia menolak gagasan bahwa sektor pertanian bisa diabaikan begitu saja. Konsep pembangunan berimbang yang ia gagas menegaskan bahwa keberhasilan industrialisasi hanya mungkin tercapai bila ketahanan pangan nasional terjamin.

“Industri tidak akan mampu berdiri kokoh jika perut rakyat masih lapar,” demikian salah satu pandangan Sumitro yang hingga kini masih dikutip oleh banyak ekonom.

2. Peran Negara dalam Ekonomi

Di tengah perdebatan klasik antara pasar bebas dan perencanaan negara, Sumitro berdiri di posisi tengah. Ia melihat negara harus tampil sebagai agen aktif pembangunan, terutama pada tahap awal ketika sektor swasta domestik belum cukup kuat.

Baca juga:  Dankodiklatad Pimpin Exit Meeting BPK RI, Kodiklatad Berkomitmen Tindaklanjuti Secara Cepat dan Konsisten

Negara, menurutnya, harus berani berinvestasi di sektor vital dan strategis, sekaligus memastikan kepemilikan nasional atas industri-industri kunci. Hal ini menjadi penegasan bahwa kedaulatan ekonomi tidak boleh dibiarkan jatuh ke tangan asing.

3. Gerakan Benteng

Sebagai Menteri Perekonomian pada awal 1950-an, Sumitro meluncurkan Program Sistem Ekonomi Gerakan Benteng. Program ini bertujuan melahirkan kelas pengusaha pribumi yang tangguh dengan fasilitas kredit serta dukungan pemerintah.

Walaupun dalam praktiknya program ini menghadapi berbagai tantangan, ide dasarnya tetap monumental: membongkar warisan ekonomi kolonial yang timpang dan membangun struktur ekonomi nasional yang mandiri.

4. Investasi dan Hilirisasi

Jauh sebelum istilah “hilirisasi” populer di era pemerintahan Jokowi, Sumitro sudah menekankan pentingnya pengolahan sumber daya alam di dalam negeri. Ia mengkritik keras praktik ekspor bahan mentah karena hanya menjadikan Indonesia sebagai “penyedia bahan baku murah” bagi industri asing.

Bagi Sumitro, investasi—baik asing maupun domestik—dibutuhkan. Namun ia memberi catatan: investasi asing harus diarahkan agar memberi nilai tambah nyata bagi perekonomian nasional, bukan sekadar eksploitasi.

Baca juga:  Duel Dingin di Gedung Sate: Ketika Sekda Jabar Dinilai “Meninggalkan Ring” dan Wagub Meradang

5. Perintis Pendidikan Ekonomi

Kontribusi Sumitro tidak berhenti di ranah kebijakan. Ia juga dikenal sebagai pelopor pendidikan ekonomi modern di Indonesia. Sebagai dekan pertama Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) (1951–1957), ia merintis kurikulum ekonomi nasional dan melahirkan generasi awal ekonom Indonesia.

Pada 1955, ia turut menggagas berdirinya Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), wadah para ekonom untuk ikut memberi masukan dalam kebijakan negara.

Relevansi Pemikiran Sumitro Hari Ini

Lebih dari setengah abad berlalu, pemikiran Sumitro tetap hidup. Konsep hilirisasi, proteksionisme terukur, serta dominasi negara atas sektor strategis kembali menjadi diskursus utama dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

Ekonom senior Didik J. Rachbini pernah mengatakan:

“Banyak ide Sumitro yang baru terasa relevansinya saat ini. Hilirisasi yang sekarang digalakkan sebenarnya sudah diwacanakan beliau puluhan tahun lalu.”

Di sisi lain, kebijakan industrialisasi nasional saat ini juga menghadapi tantangan yang tidak jauh berbeda dengan era Sumitro: ketimpangan antarwilayah, ketergantungan pada bahan mentah, dan dominasi asing dalam rantai pasok global.

Baca juga:  30 Tahun Dibiarkan Terbengkalai, Lahan DJKN di Arcamanik Jadi Teror Ular dan Banjir

Meski dihormati sebagai begawan, Sumitro bukan tanpa kritik. Program Gerakan Benteng, misalnya, dianggap gagal karena pengusaha pribumi yang dibina tidak siap bersaing dan banyak yang terjerat praktik rente. Namun, kegagalan itu bukan semata pada konsep, melainkan juga pada lemahnya eksekusi kebijakan dan kondisi politik yang belum stabil.

Hal ini memberi pelajaran penting: sekuat apa pun konsep pembangunan ekonomi, tanpa tata kelola yang bersih dan politik yang stabil, implementasinya akan sulit berhasil.

Sumitro Djojohadikusumo telah meninggalkan jejak intelektual yang dalam bagi bangsa ini. Pemikirannya tentang industrialisasi, kemandirian ekonomi, dan peran strategis negara masih menjadi referensi penting bagi perumusan kebijakan ekonomi hingga hari ini.

Ketika pemerintah saat ini berbicara tentang hilirisasi, proteksi industri strategis, dan kedaulatan pangan, sesungguhnya gema gagasan Sumitro kembali terdengar. Ia tidak hanya seorang ekonom, melainkan juga arsitek pemikiran ekonomi yang jauh melampaui zamannya.

Video ini mengulas lebih jauh gagasan Sumitro yang menekankan kemandirian, industrialisasi, dan kesejahteraan rakyat—sebuah warisan intelektual yang tetap aktual.