Porosmedia.com – Jakarta, 13 September 2025, Nama Marius Jan Hulswit (1862–1921) mungkin asing bagi publik Indonesia. Namun jejak arsiteknya begitu nyata, berdiri megah di depan mata: Katedral Jakarta, salah satu landmark Katolik terpenting di negeri ini. Di serambi katedral, sebuah prasasti pualam menyebut peran Hulswit sebagai arsitek yang menyelesaikan pembangunan gereja pada periode 1899–1901.
Warisan ini bukan sekadar batu atau dinding, melainkan bagian dari sejarah panjang hubungan Hindia Belanda dengan Gereja Katolik, misi pendidikan, dan arsitektur kolonial yang hingga kini masih hidup dalam lanskap kota Jakarta maupun Bogor.
Hulswit dan Penyelesaian Katedral Jakarta
Awal pembangunan Katedral Jakarta sejatinya dirancang oleh Pastor Antonius Dijkmans SJ, seorang imam sekaligus arsitek. Namun, setelah berbagai kendala, pengerjaan tahap akhir dipercayakan kepada M. J. Hulswit, arsitek Belanda yang kemudian dikenal luas lewat biro arsitektur Hulswit-Fermont & Ed. Cuypers.
Bukti konkret peran Hulswit terdapat pada prasasti di pintu masuk Katedral Jakarta yang menuliskan namanya sebagai arsitek yang menuntaskan gereja megah itu. Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga akhirnya diberkati pada 21 April 1901, tepat di hari Minggu Paskah, dan sejak itu menjadi pusat kehidupan Katolik di Batavia.
Tidak berhenti di Jakarta, Hulswit juga menorehkan karyanya di berbagai kota kolonial. Ia meninggal pada 1921 dan dimakamkan di Kerkhoflaan Kebon Jahe Kober, yang kini dikenal sebagai Museum Taman Prasasti. Nisan Hulswit masih dapat dijumpai di sana, menjadi pengingat akan sosok arsitek yang meninggalkan warisan monumental.
Jejak Neo-Gothic di Bogor: Dari Misi ke Pendidikan
Selain di Jakarta, gaya arsitektur Hulswit juga mewarnai Bogor, khususnya pada kompleks gereja dan sekolah yang berdiri di jantung kota.
Catatan sejarah menyebut bahwa pada 1886, Mgr. Adam Carel Claessens, Vikaris Apostolik Batavia, mengundang para suster Ursulin ke Buitenzorg (nama lama Bogor). Mereka merintis karya pendidikan dan mendirikan panti asuhan untuk puteri, melengkapi panti asuhan putera Vincentius Gesticht yang lebih dahulu hadir.
Bangunan biara dan sekolah yang kemudian berkembang dikenal dengan nama Regina Pacis berdiri megah di Jalan Ir. H. Juanda No.2, persis di depan Istana Bogor. Gaya arsitektur Neo-Gothic dengan ciri khas jendela lancip, atap tinggi, dan detail batu bata yang kuat, membuat kompleks ini senada dengan katedral Bogor maupun Jakarta.
Seiring waktu, pengelolaan pendidikan di kompleks tersebut berpindah dari Ursulin kepada Fransiskanes Misionaris Maria (FMM) pada 1930-an. Hingga kini, SMA Regina Pacis Bogor tetap eksis sebagai lembaga pendidikan Katolik bergengsi, dengan bangunan kolonial yang masih terawat.
Katedral Bogor dan Keuskupan Baru
Hubungan erat Bogor dengan misi Katolik juga terwujud lewat berdirinya Gereja Bunda Hati Kudus pada 1905. Gereja ini akhirnya ditetapkan sebagai Katedral Bogor pada 1961, ketika Bogor diangkat menjadi keuskupan mandiri dengan Uskup pertamanya, Mgr. N. J. C. Geise OFM.
Menariknya, gaya arsitektur katedral ini memiliki kemiripan dengan kompleks Regina Pacis: sama-sama bergaya Neo-Gothic, dan menurut sejumlah arsip juga melibatkan tangan Hulswit dalam rancangan maupun pengaruh desainnya. Di atas gerbang utama Katedral Bogor, hingga kini masih berdiri patung Bunda Hati Kudus, simbol yang mengikat sejarah dengan umat Katolik di kota hujan.
Dari Arsitektur Kolonial ke Jejak Kontemporer
Warisan arsitektur Hulswit bukan hanya soal estetika, melainkan juga bagian dari dinamika sosial-politik. Gedung-gedung yang ia rancang awalnya dibangun untuk kepentingan misi kolonial, namun kemudian bertransformasi menjadi ruang publik, simbol iman, dan lembaga pendidikan yang melahirkan generasi baru Indonesia.
Salah satu contoh nyata adalah Dr. Ir. Purbaya Yudhi Sadewa, PhD, MSc, Menteri Keuangan RI yang baru dilantik pada September 2025. Ia adalah alumnus SMA Regina Pacis Bogor angkatan 1983. Dari gedung kolonial bergaya Neo-Gothic itulah, ia menapaki jalan panjang hingga meraih gelar doktor di bidang ekonomi dari Purdue University, Amerika Serikat, setelah sebelumnya menuntaskan studi di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Fakta ini menegaskan bahwa bangunan warisan kolonial seperti Regina Pacis bukan sekadar artefak sejarah, melainkan ruang pembentukan karakter dan pendidikan yang melahirkan pemimpin bangsa masa kini.
Refleksi
Dari prasasti di Katedral Jakarta, nisan di Museum Taman Prasasti, hingga bangunan sekolah Katolik di Bogor, jejak Marius J. Hulswit menghubungkan benang merah antara masa kolonial dan Indonesia modern.
Di Jakarta, karyanya menjadi simbol iman Katolik nasional. Di Bogor, arsitekturnya melahirkan institusi pendidikan yang melahirkan generasi baru, termasuk tokoh-tokoh bangsa. Semua ini membuktikan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi yang masih berbicara pada masa kini.
Warisan Hulswit adalah cermin: bagaimana sebuah karya kolonial bisa bertransformasi menjadi bagian integral dari identitas lokal, menyatu dengan perjalanan bangsa, dan bahkan membentuk jalan hidup para pemimpin kontemporer Indonesia.
Editor: Porosmedia Research Desk
Sumber: Arsip Katedral Jakarta, Museum Taman Prasasti, Keuskupan Bogor, SMA Regina Pacis Bogor, publikasi sejarah arsitektur kolonial Belanda.







