Dari Reruntuhan Tsunami Menuju Sekolah Kejuruan: Jejak Hidup Syarah Sunami

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Pangandaran, 17 Juli 2006
Pada siang hari yang seolah tenang itu, warga tengah merayakan libur nasional dengan mengunjungi pesisir selatan Jawa. Tanpa terasa, gempa tektonik—dengan magnitudo 7,7—mengguncang lepas pantai dekat Pangandaran pada sekitar pukul 15.19 WIB . Intensitasnya yang rendah membuat guncangan tak terlalu terasa, menjadikan tsunami yang datang sesudahnya benar-benar tak terduga . Gelombang besar menghantam dalam hitungan menit—dengan ketinggian umum 5–8 meter dan bahkan mencapai hingga 21 meter di Nusa Kambangan.

Dari Atas Pematang Sawah, Suara Bayi Menggugah Harapan Bayangkan, seorang bayi yang baru berusia satu hari, bernama Syarah—artinya “reruntuhan”—lepas dari pelukan sang ibu yang tuna netra, Juju Juarsih. Ia terseret oleh gelombang dahsyat, namun ditemukan beberapa jam kemudian oleh warga dalam keadaan selamat dan menangis di pematang sawah. Momen itu menjadi titik balik antara keputusasaan dan harapan baru sebuah keluarga.

Tumbuh Bersama Sebuah Janji Moral
Eka Santosa, anggota DPR RI yang kala itu datang meninjau lokasi bencana, menyentuh begitu dalam oleh kisah bayi mungil yang selamat itu—hingga kemudian mengangkatnya sebagai anak angkat . Nama “Sunami” kemudian ditambahkan di belakangnya, sebagai simbol gelombang dahsyat yang membentuk nasibnya.

Baca juga:  Eka Santosa Soroti Penunjukan Susi Pudjiastuti di Bank BJB: Jangan Jadi Alat Manuver Kepentingan

Perjalanan Hidup yang Tak Pernah Enteng

Sejak kecil, Syarah tumbuh dengan kondisi penglihatan yang terganggu—mungkin akibat trauma pasca-tertimbunya tubuhnya dengan pasir dan air laut. Ia menjalani operasi dan sejak itu selalu bergantung pada kacamata tebal . Dalam satu laporan pada tahun 2021, sang ayah menyatakan keprihatinannya: “Kacamata Sarah sudah nggak cukup, harus diganti kacanya. Saya belum punya uang untuk membeli.”
Keluarga mereka termasuk penerima Program Keluarga Harapan (PKH) sejak tahun 2016.

Sekarang: Lan…jut SMK dan Bertahan Dengan Harapan

Kini, lebih dari 19 tahun sejak peristiwa itu, Syarah telah menamatkan pendidikan SMK. Cerita ini belum pernah diangkat secara mendalam di media lain—ia bukan hanya sekadar survivor tsunami, tetapi pribadi dengan mimpi, tekad, dan perjuangan. Ia berharap bisa mandiri—membangun usaha kecil sambil terus belajar seumur hidup. “Bahagia itu ketika bisa mensyukuri setiap langkah,” ujarnya penuh syukur, saat ditemui di kediaman Bapak Asuhnya Eka Santosa, di Pasir Impun, Alam Santosa, Rabu, 9 September 2025.

Dimensi Baru & Sudut Pandang Humanis

Baca juga:  Eka Santosa Angkat Bicara Soal Polemik KJA Unpad di Pangandaran: “Tak Perlu Ada Cacian, Mari Saling Menghormati”

1. Antara Amukan Alam dan Rahmat yang Terlupakan

Tragedi tsunami ini, meski menewaskan ratusan jiwa (sekitar 668 tewas, 65 hilang, dan hampir 9.300 luka-luka) , menyisakan cerita-cerita kecil yang luar biasa—seperti Syarah. Ada gesekan antara kekuatan alam dan keberlangsungan manusia yang ingin terus bermakna.

2. Trauma Tak Sekedar Fisik

Kesehatan mata Syarah yang terganggu membuka dimensi lain: efek jangka panjang bencana yang sering luput dari sorotan. Lebih dari itu, keluarga mereka hidup di bawah kondisi ekonomi sederhana, menghadapi kebutuhan mendasar seperti kacamata yang layak dan modal sekolah—bukan cuma fasilitas infrastruktur.

3. Ada Sosok Biar Tak Banyak Bicara, Namun Berdampak

Peran Eka Santosa menjadi simbol kepedulian sosial yang sederhana tapi monumental. Bukan hanya bantuan materi, namun ibarat “orang tua kedua” bagi seorang anak yang dilahirkan kembali dari reruntuhan bencana—memberi nama, pengakuan, dan semangat hidup.

4. Generasi Tumbuh dari Tragedi

Saat Syarah melangkah ke jenjang SMK dan kini menatap masa depan—bukan hanya sebagai survivor, tapi individu dengan cita-cita wajar—itulah esensi harapan yang menggelora dari reruntuhan.

Baca juga:  Dendam, Identitas, dan Kekerasan: Bedah Kasus Rivalitas Persib-Persija dari Perspektif Hukum, Sosial, dan Psikologis

Kisah Syarah Sunami bukan sekadar kabar inspiratif semata; ia adalah narasi hidup yang menggugah: bahwa dari kehilangan yang paling mematikan sekalipun, bisa muncul kekuatan luar biasa—pada diri seorang anak yang tumbuh dengan mata penuh harapan. Dari “Syarah” (reruntuhan) lahirlah janji baru. Semoga kisah ini menjadi pengingat abadi bahwa dari tragedi terbesar pun bisa disulam harapan paling nyata.