Porosmedia.com – Dalam dinamika kehidupan modern yang serba cepat, manusia seringkali terjebak dalam dilema antara pencapaian hasil dan kemurnian proses. Al-Qur’an, melalui Surah Al-Isra ayat 80-81, memberikan sebuah kompas moral yang sangat relevan untuk menjaga stabilitas spiritual dan profesionalisme kita, terutama di tengah arus informasi yang kerap bias.
Doa Keberkahan Awal dan Akhir
Ayat ke-80 dari Surah Al-Isra mengajarkan sebuah doa yang sangat substansial:
“Ya Tuhanku, masukkan aku dengan cara yang benar, keluarkan (pula) aku dengan cara yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong.”
Secara tafsir, para ulama seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini turun saat Rasulullah SAW diperintahkan untuk berhijrah. Namun, secara kontekstual bagi kita saat ini, “Mudkhala Shidqin” (masuk dengan cara yang benar) dan “Mukhraja Shidqin” (keluar dengan cara yang benar) adalah manifestasi dari integritas total.
Masuk dengan Benar: Memulai setiap urusan—baik itu pekerjaan, jabatan, maupun hubungan—dengan niat yang tulus dan cara yang legal (syar’i).
Keluar dengan Benar: Mengakhiri tugas atau meninggalkan suatu tempat tanpa meninggalkan jejak keburukan, pengkhianatan, atau beban moral.
Ini adalah standar tertinggi dalam etika profesi: memulai tanpa ambisi buta, dan mengakhiri tanpa rasa malu.
Kekuasaan yang Menolong (Sulthanan Nashira)
Permohonan akan “Sulthanan Nashira” (kekuasaan yang menolong) menunjukkan bahwa dalam berbuat baik, kita membutuhkan dukungan. Dalam konteks modern, ini bisa berarti:
- Regulasi yang Adil: Hukum yang melindungi kebenaran.
- Dukungan Sosial: Ekosistem lingkungan yang mendukung nilai-nilai positif.
- Kekuatan Argumen: Ilmu pengetahuan yang kokoh untuk membela hak-hak yang benar.
Karakter Hakiki Kebenaran: “Zahaqal Bathil”
Memasuki ayat ke-81, Allah SWT menegaskan sebuah hukum alam semesta (sunnatullah):
“Katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.”
Di era post-truth, di mana hoaks dan manipulasi informasi seringkali tampak lebih mendominasi daripada fakta, ayat ini adalah penguat mental. Kebatilan (kepalsuan) memiliki sifat “Zahuqa”—sesuatu yang rapuh, tidak berakar, dan pasti akan runtuh pada waktunya.
Fakta dan Realita Sosial
Secara sosiologis, institusi atau personalitas yang dibangun di atas kebohongan mungkin akan bersinar sesaat, namun sejarah membuktikan bahwa skandal dan ketidakjujuran selalu memiliki “tanggal kedaluwarsa”. Kebenaran mungkin memerlukan waktu untuk muncul ke permukaan, tetapi sifatnya substansial dan tahan lama.
Implementasi untuk Pembaca Poros Media
Sebagai entitas yang bergerak di ruang publik, mengadopsi semangat Al-Isra 80-81 berarti:
- Verifikasi (Tabayyun): Memastikan setiap informasi yang kita konsumsi dan bagikan adalah “Benar saat masuk dan benar saat keluar”.
- Independensi Moral: Tidak takut berdiri di pihak yang benar meskipun tampak minoritas, karena kebatilan secara esensi adalah entitas yang akan kalah.
- Profesionalisme Berbasis Wahyu: Menjadikan kejujuran bukan sekadar kebijakan perusahaan, melainkan fondasi spiritual.
Kebenaran bukan sekadar slogan, melainkan sebuah perjalanan yang dimulai dari niat yang jujur hingga akhir yang terhormat. Dengan memegang teguh prinsip Surah Al-Isra ini, kita tidak hanya menjadi pemenang di mata manusia, tetapi juga mendapatkan pertolongan langsung dari sisi-Nya (min ladunka sulthanan nashira).
Mari jadikan setiap langkah kita sebagai langkah yang jujur (Shidq), agar setiap hasil yang kita tuai membawa keberkahan yang abadi.
Diterbitkan khusus untuk Porosmedia.com – Mengulas Realita dengan Cahaya Kebenaran.







