Redefinisi “Sehat”: Antara Standar Klinis dan Kesehatan Holistik dalam Tinjauan Sosial

Avatar photo

Oleh: Irwan Nurwansyah (Pemerhati Sosial)

​Porosmedia.com – Selama ini, masyarakat terjebak dalam dikotomi sempit mengenai definisi sehat: jika tidak di rumah sakit, berarti sehat; jika tidak demam, berarti bugar. Namun, narasi yang berkembang di tengah disrupsi mental pascapandemi menunjukkan bahwa standar kesehatan klinis tidak lagi cukup untuk memotret realitas manusia seutuhnya.

​Pemerhati Sosial, Irwan Nurwansyah, memberikan perspektif kritis mengenai fenomena “kesehatan semu” yang sering menghantui masyarakat modern. Menurutnya, konsep sehat yang otentik—sebagaimana yang diajarkan dalam literatur kenabian—mencakup tiga dimensi yang saling berkelindan: fisik, hati (psikologis), dan iman (spiritual).

​Irwan menyoroti adanya paradoks sosial di mana fisik seseorang tampak prima (atletis), namun secara fungsional mental mengalami “kelumpuhan” akibat penyakit hati seperti dengki, kecemasan berlebih, dan hilangnya arah hidup.

​”Orang di rumah sakit jiwa badannya sehat secara klinis, tapi hatinya sakit. Sebaliknya, sejarah mencatat banyak pribadi yang fisiknya terbatas namun memiliki dampak sosial yang luas karena ‘kesehatan’ iman dan mentalnya,” ujar Irwan.

​Secara kritis, Irwan membedah “Rumus Sehat” yang sering dilupakan dalam kebijakan kesehatan publik maupun gaya hidup personal:

  1. Kesehatan Fisik sebagai Instrumen (Bukan Tujuan): Standar fisik yang kuat dalam perspektif sosial-keagamaan bukan untuk kesombongan, melainkan untuk kebermanfaatan (altruisme). Menjadi sehat secara fisik berarti memiliki energi untuk menjalankan kewajiban sosial dan ibadah secara mandiri.
  2. Kesehatan Hati (Resiliensi Mental): Hati yang sehat adalah hati yang terbebas dari beban dendam dan iri. Dalam tinjauan sosiologis, masyarakat yang memiliki kesehatan hati kolektif cenderung memiliki tingkat konflik sosial yang rendah.
  3. Kesehatan Iman (Visi Hidup): Ini adalah tingkat kesehatan tertinggi, di mana individu memiliki kepastian arah (sense of purpose). Tanpa ini, manusia hanya akan menjadi mesin yang bergerak tanpa makna.
Baca juga:  Ale Rasa Beta Rasa, Satgas 623 Menghadiri Peringatan Hari Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura ke-207

​Irwan Nurwansyah merujuk pada hadis riwayat Tirmidzi sebagai indikator kesehatan yang paling objektif dan aman bagi mental: Aman di tempat tinggal, sehat badan, dan memiliki kecukupan pangan untuk hari itu.

​”Jika ketiga unsur ini terpenuhi, maka secara substantif seseorang telah memiliki ‘dunia’ di tangannya. Masalahnya, standar sosial kita seringkali dipaksa untuk melampaui kebutuhan dasar tersebut (overconsumption), yang justru merusak kesehatan hati dan iman,” jelasnya.

​Bagi individu yang sedang dalam kondisi sulit, lupa, atau bingung, Irwan menegaskan bahwa kesadaran untuk bertanya dan merasa “ada yang kurang” adalah tanda bahwa akal dan hati masih berfungsi normal.

​Seringkali, stigma “sakit” atau “hancur” muncul dari tekanan eksternal atau media sosial. Padahal, selama seseorang masih memiliki napas dan kesadaran untuk bersyukur, ia masih berada dalam koridor sehat.

​Kesehatan bukan tentang ketiadaan masalah, melainkan tentang bagaimana kita merespons masalah tersebut dengan perangkat fisik, hati, dan iman yang tersisa. Jangan menunggu sehat yang sempurna untuk mulai berkarya atau berbuat baik. Sebab, pada akhirnya, definisi sehat yang paling fundamental adalah kemampuan manusia untuk kembali kepada Tuhan-nya dalam keadaan tenang, tanpa “terengah-engah” oleh beban duniawi yang tak perlu.

Baca juga:  Prajurit Yonif 323 Buaya Putih Kostrad Berprestasi Tugas Operasi Papua dapatkan Reward KPLB

​Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan wawancara dan tinjauan perspektif dari Irwan Nurwansyah. Substansi tulisan mengedepankan edukasi moral dan penguatan mental masyarakat tanpa mendiskreditkan pihak manapun.