Aneh, Kata Korupsinikus: Tawanan Belum Tertangkap, Namun Sudah Diumumkan

Avatar photo

Esai Kontemplatif: Harri Safiari

Porosmedia.com – Di sebuah zaman yang aneh, ketika itu kebenaran harus antre di belakang sensasi. Mahfumnya, kabar tentang tentara Amerika yang ditangkap Iran pada paruh akhir Maret 2026 lebih cepat daripada peluru yang ditembakkan.
Padahal pelurunya sendiri belum tentu dilepas.
Di layar-layar ponsel, narasi sudah menangkap siapa saja. Tentara elite, pasukan bayangan, bahkan mungkin bayangan itu sendiri—semuanya sudah “tertangkap”, lengkap dengan foto yang dramatis, ekspresi kalah, dan caption penuh kemenangan yang gegap gempita.
Sementara di dunia nyata, pihak Pentagon masih sibuk menyangkal, dan media seperti Reuters menggaruk kepala, mencari bukti yang tak kunjung muncul.

 

Reaksi Korupsinikus

Menanggapi fenomena ganjil ini, Korupsinikus di Negeri Konoha Raya (NKR) hanya bisa tersenyum kecil.
“Perang itu sekarang bukan soal siapa yang menembak duluan,” katanya, sambil menyeruput kopi pahit tanpa gula, “tapi siapa yang lebih dulu mengumumkan kemenangan. Mengobral kemenangan…”
Di NKR. yakni negeri yang jauh dari medan tempur, rakyat sudah ikut bersorak duluan. Ada yang percaya sepenuh hati, ada yang ragu setengah mati, dan ada pula yang tak peduli—asal kuota internet masih cukup demi menyebarkan kabar berikutnya. Perkara sebaran ini menjadi hoax, taklah peduli.
Lucunya, di tengah semua itu, yang benar-benar tertangkap justru bukan tentara, melainkan sang akal sehat.

Baca juga:  'Imlek' Ternyata Cuma ada di Indonesia, Bermula dari Fobia China

Rekayasa …

Korupsinikus melanjutkan, kali ini dengan nada lebih pelan, hampir seperti berbisik:
“Dulu, tawanan perang diikat dengan tali. Sekarang, tawanan publik diikat dengan narasi.”
Ia lalu menunjuk layar ponsel seseorang yang sedang menonton video “penangkapan dramatis” yang entah dari mana asalnya.
“Kalau gambar bisa dibuat, suara bisa ditiru, dan cerita bisa direkayasa… maka yang paling mudah ditawan memang bukan musuh,” katanya.
“Melainkan kepercayaan.”
Di ujung percakapan, Korupsinikus berdiri, merapikan bajunya yang kusut seperti logika yang terlalu sering dipelintir.
“Perang ini aneh,” tutupnya.
“Belum tentu ada tawanan di medan tempur…”
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum sinis.
“…tapi sudah banyak tawanan di kepala kita.”(Selesai).