Menjahit Harapan di Balik Seragam Robek: Potret Perjuangan Rafi dan Tamparan bagi Kepedulian Kita

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Kemiskinan seringkali tak hanya merampas isi perut, tapi juga harga diri seorang anak manusia. Di SDN Sarimanah 048, Bandung, seorang bocah bernama Muhammad Rafi Candra harus menelan pil pahit setiap hari: bersekolah dengan seragam yang sudah tak layak sebut.

​Bagi Rafi, pagi hari bukanlah tentang semangat baru, melainkan tentang keberanian menghadapi cemoohan. Seragamnya kusam, robek di bagian pundak, dan sesak karena tubuhnya yang kian tumbuh. Di sudut kelas, ia seringkali meringkuk, mencoba menutupi lubang di kain bajunya dengan tas usang agar tak menjadi sasaran rundung teman-temannya.

​”Seragamnya jelek,” celetuk kawan sebayanya. Kalimat itu sederhana, namun efeknya menghujam jantung Rafi. Ia hanya mampu menunduk, menyembunyikan genangan air mata di balik meja kayu yang rapuh.

​Di balik penderitaan Rafi, ada sosok ibu yang luar biasa. Seorang penjahit rumahan yang bergelut dengan mesin jahit tua bersuara parau. Ayah Rafi telah lama pergi tanpa kabar, meninggalkan beban hidup sepenuhnya di pundak sang ibu.

Baca juga:  Pangdam III/Slw Resmikan Koramil 0624-17/Baleendah

​Puncaknya, didorong rasa cinta yang amat sangat, sang ibu nekat mendatangi kediaman Gubernur Jawa Barat di Lembur Pakuan. Ia hanya ingin satu hal: sepasang seragam baru agar anaknya tak lagi malu. Namun sayang, takdir berkata lain. Gubernur tidak berada di tempat. Ia terpaksa pulang dengan langkah gontai, mendekap kekecewaan di balik jilbabnya yang basah oleh air mata.

​Harapan yang nyaris padam itu kembali menyala saat seorang kawan menuntunnya ke Rumah Relawan Pendidikan Anak Bangsa Indonesia (RPABI). Tanpa birokrasi yang rumit, para relawan menyambutnya dengan tangan terbuka.

​Ketua Umum RPABI, Rahmien Liomintono, turun langsung menyerahkan bantuan seragam dan alat tulis di sekolah Rafi.

​”Anak ini luar biasa. Di tengah segala keterbatasan dan tekanan mental dari lingkungannya, semangat belajarnya tidak boleh padam hanya karena sepotong kain,” tegas Rahmien.

​Kini, Rafi berdiri tegak. Tak ada lagi lubang di pundaknya. Tak ada lagi alasan bagi teman-temannya untuk tertawa. Namun, kisah Rafi hanyalah puncak gunung es dari ribuan “Rafi” lain di pelosok negeri yang masih berjuang melawan rasa malu demi secercah ilmu.

Baca juga:  Menilik Transparansi Seleksi Pimpinan PDAM Tirtawening: Profesionalisme atau Akomodasi Politik?

​Kisah ini adalah pengingat bahwa kepedulian tidak boleh menunggu birokrasi. Bagi Anda yang tergerak untuk memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang menangis karena seragam robek, mari salurkan dukungan Anda:

  • Layanan Informasi (WhatsApp): 085864747775
  • Sekretariat RPABI: Jl. Cipedes Hegar 1 No. 38B, Pajajaran – Cicendo, Bandung
  • Donasi Pendidikan: Bank Mandiri 132-00-3170931-5 (a.n. Rumah Relawan Pendidikan Anak Bangsa Indonesia)

Satu seragam dari Anda, adalah satu alasan bagi mereka untuk tetap bermimpi.