Porosmedia.com – Satu tahun kepemimpinan Mohammad Farhan terasa seperti menyaksikan lakon superhero dalam panggung realisme politik. Tokoh utamanya datang membawa “jubah” integritas, namun lawan yang dihadapi bukanlah monster raksasa, melainkan labirin birokrasi, rapat koordinasi yang alot, hingga desakan lobi anggaran yang seringkali senyap namun mematikan.
Secara kritis, Farhan tampak berusaha memposisikan diri sebagai pemimpin yang bersih dan rasional. Namun, realita politik lokal ibarat kolam renang publik; sejauh apa pun ia ingin berenang dengan gaya bebas yang elegan, cipratan “air kotor” dari tepi kolam—alias kepentingan kelompok dan elite—tetap tak terhindarkan.
Menariknya, istilah “fondasi integritas” yang kerap didengungkan seringkali berbenturan dengan persepsi publik. Jika tidak hati-hati, narasi integritas ini bisa senasib dengan proyek trotoar: tampak estetik di brosur perencanaan, namun masih menyisakan lubang di implementasi lapangan.
Menegakkan integritas di tengah badai kepentingan politik lokal bukan sekadar prestasi administratif. Jika Farhan berhasil menjaga tangannya tetap bersih hingga akhir, itu adalah “keajaiban” politik yang setara dengan menemukan ruang parkir kosong di kantor pemerintahan saat jam sibuk—langka dan hampir mustahil.
Satu tahun pertama ini barulah episode pilot dari sebuah serial politik yang penuh intrik. Farhan telah menunjukkan idealismenya, namun publik tetap bertanya-tanya: Apakah di musim kedua nanti judulnya akan tetap “Integritas yang Bertahan”, atau justru perlahan bergeser menjadi “Kompromi di Tengah Badai”?
Waktu yang akan menjawab apakah Farhan adalah sang pendobrak, atau sekadar aktor yang akhirnya harus beradaptasi dengan naskah lama yang usang.
Rahmien Liomintono| Porosmedia







