Sukiyat dan Masjid Puluhan: Ikatan Batin yang Mengalirkan Banyak Kebaikan

Deretan aksi sosial Sukiyat memberi dampak langsung bagi warga dan jamaah Masjid Puluhan.

Avatar photo
(Foto: Dok./ist/porosmedia.com)

Porosmedia.com, Klaten – Kiprah sosial H. Sukiyat menjadi sorotan positif masyarakat Desa Puluhan, Kecamatan Trucuk, Klaten. Sosok H. Sukiyat dikenal memiliki kedekatan emosional dan spiritual dengan Masjid Agung Puluhan, hubungan yang disebut-sebut telah terjalin sejak masa kecilnya.

Ketua Takmir Masjid Agung Puluhan, Hardiman, mengisahkan bahwa H. Sukiyat pernah dimandikan dengan air masjid saat masih kecil dan belum bisa berjalan. Peristiwa itu kemudian diyakini menjadi titik perubahan dalam kehidupannya.

“Setelah dimandikan dengan air masjid, atas izin Allah beliau bisa berjalan. Kisah ini menjadi cerita yang memperkuat keyakinan masyarakat tentang ikatan batin Pak Sukiyat dengan masjid ini,” ujar Hardiman.

Keyakinan akan kisah penuh berkah tersebut dipandang menjadi salah satu alasan kuat H. Sukiyat konsisten terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.

Sumbangsih H. Sukiyat tidak hanya terlihat pada dukungannya untuk program Jumat Berkah yang dijalankan Ngatini Waraswati bersama ibu-ibu jamaah. Program ini digerakkan oleh Ngatini dengan dukungan 15 personel ibu-ibu yang setiap pekan bergotong royong menyiapkan hidangan untuk masyarakat. Menu yang mereka sajikan pun bervariasi, mulai dari soto, bakso, hingga mie jawa, sehingga warga dapat menikmati hidangan yang berbeda setiap Jumat.

Baca juga:  Dunia Sibuk Bela Ukraina, Kezaliman di Palestina Semakin Merajalela
Ibu Ngatini Waraswati Koordinator aksi sosial di Masjid Agung Puluhan Trucuk

“Ibu-ibu bekerja gotong royong menyiapkan semuanya. Dukungan Pak Sukiyat sangat membantu kelancaran Jumat Berkah dan manfaatnya langsung dirasakan warga,” tutur Ngatini.

Selain program tersebut, bentuk kepedulian H. Sukiyat juga hadir dalam aksi sosial lainnya. Ia kerap menyalurkan bantuan sembako kepada warga yang membutuhkan, serta membantu berbagai keperluan masjid hingga mendukung kegiatan ibadah maupun sosial yang diselenggarakan takmir.

Hardiman menyampaikan apresiasi atas keberlanjutan dukungan tersebut. “Kontribusi Pak Sukiyat tidak hanya pada satu kegiatan. Beliau sering memberikan sembako dan membantu kebutuhan masjid. Dampaknya sangat bermanfaat bagi jamaah dan masyarakat sekitar,” katanya.

Di balik rangkaian aksi sosial itu, Masjid Agung Puluhan memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat dakwah pada masa Sunan Kalijaga. Masjid yang dikenal juga sebagai Masjid Tiban Puluhan ini diyakini berdiri sejak abad ke-15, ketika wilayah tersebut masih berupa hutan.

Peninggalan bersejarah seperti amben kayu, padasan tanah liat, mimbar khotbah kuno, serta mustaka berbahan tanah liat masih tersimpan dan dirawat sebagai ciri khas masjid warisan Wali Songo.