Oleh: Ir. Irwan Nurwansyah ( Pengamat Sosial)
Porosmedia.com – Kita sering mendengar dogma lama: “Hukum pasar itu mutlak.” Ada permintaan, ada penawaran. Namun pada kenyataannya, hukum pasar di tengah masyarakat kita hari ini telah bergeser menjadi hukum rimba yang dibungkus dengan angka statistik. Ketika uang dianggap sebagai tujuan akhir, manusia sebenarnya sedang mengalami “degradasi akal” yang sangat parah.
Ekonomi modern seringkali terjebak dalam logika matematika yang dingin—seolah-olah seluruh masalah bangsa bisa tuntas hanya dengan menambah angka nol dalam anggaran atau bantuan sosial. Padahal, ekonomi yang hakiki adalah Hukum Sebab-Akibat.
Sebab: Ketika karakter bangsa—seperti kejujuran, amanah, dan gotong royong—terkikis habis.
Akibat: Sistem distribusi rusak, monopoli merajalela, dan korupsi dianggap sebagai “pelumas” wajib dalam roda ekonomi.
Fakta sosiologis menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi suatu bangsa tidak hanya diukur dari Produk Domestik Bruto (PDB), melainkan dari Social Capital atau tingkat kepercayaan antar warga. Ketika integritas hilang, biaya ekonomi menjadi sangat mahal (high-cost economy). Kita menjadi bangsa yang saling curiga, bukan lagi saling mendukung.
Penulis pernah menekankan bahwa manusia dibekali empat senjata utama: Akal, Pikiran, Hati Nurani, dan Panca Indra. Celakanya, sistem kehidupan hari ini memaksa kita untuk “melumpuhkan” tiga senjata utama demi memuaskan satu hal: Panca Indra.
Kita hanya berpikir bagaimana cara panca indra terpuaskan—makan enak, rumah mewah, gaya hidup wah—meskipun harus membunuh hati nurani dalam prosesnya. Inilah yang disebut sebagai Hilangnya Karakter Bangsa. Ketika akal hanya digunakan untuk mencari celah hukum (manipulasi), dan pikiran dikerahkan untuk memperdaya sesama, sebenarnya kita sedang menggali kuburan peradaban kita sendiri.
“Uang memang alat tukar, tetapi jika karakter sudah ditukar dengan uang, kita sebenarnya tidak lagi memiliki apa-apa.”
Kita harus berani menyatakan bahwa persoalan ekonomi di masyarakat bukan semata-mata karena kurangnya sumber daya alam, melainkan akibat krisis mentalitas.
Uang Sebagai ‘Agama’ Baru: Banyak orang yang lebih takut melanggar aturan pasar daripada aturan Tuhan. Standar moral dikesampingkan demi mengejar target finansial.
Karakter Dianggap Beban: Dalam dunia bisnis dan politik praktis, orang jujur seringkali dianggap “tidak bisa kerja” atau “terlalu kaku”. Ini adalah penyakit sistemik yang menghambat kemajuan nyata.
Hukum Sebab-Akibat yang Pasti: Jika karakter terus dipinggirkan, jurang antara si kaya dan si miskin tidak akan pernah bisa dijembatani oleh kebijakan ekonomi apa pun.
Masalah utama bangsa kita bukanlah kekurangan ahli ekonomi bertitel mentereng, melainkan kekurangan manusia yang memiliki karakter. Kita memerlukan gerakan “Ekonomi Berbasis Nurani”, di mana akal dan pikiran digunakan untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk saling menjatuhkan.
Uang akan menghampiri bangsa yang memiliki harga diri. Namun, uang akan lari—atau membawa petaka—bagi bangsa yang telah menjual karakternya ke pasar bebas demi keuntungan sesaat.







