Porosmedia.com, Bandung – Langkah konkret dalam mengatasi persoalan sampah dari hulu terus digalakkan. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) dari Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial Telkom University kembali menggelar diskusi lanjutan guna memperkuat program “Edukasi dan Kampanye GASLAH” (Gerakan Sadar Lingkungan dan Olah Sampah dari Rumah).
Kegiatan edukasi pemilahan sampah ini dilangsungkan di Graha Merkuri, Balai RW 08 Kelurahan Manjahlega, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, pada Jumat (3/7/2026).
Pertemuan ini dihadiri langsung oleh Ketua RW 08 Kelurahan Manjahlega, Omas Satia Darma, S.E., beserta jajaran perwakilan warga dan unsur Posyandu. Agenda ini merupakan kesinambungan dari program kick-off yang telah sukses diinisiasi pada 16 April 2026 lalu, yang kala itu turut melibatkan struktur wilayah yang lebih luas, termasuk sepuluh Ketua RT, perwakilan PKK, serta petugas lapangan GASLAH.
Strategi Komunikasi Terpadu dan Edukasi Hulu
Sebagai representasi dari Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial, Tim Abdimas Telkom University memfokuskan pendampingan pada penguatan strategi komunikasi publik. Fokus utamanya adalah membangun kesadaran kolektif warga melalui konten kampanye yang tak hanya edukatif, tetapi juga aplikatif dan mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.
Ketua Tim Abdimas Telkom University, Dr. Nur Atnan, S.I.P., M.Sc., menegaskan bahwa indikator utama keberhasilan program GASLAH sangat bergantung pada komitmen pengelolaan di tingkat hulu. Menurutnya, paradigma pengelolaan sampah harus diubah; tidak bisa lagi dibebankan secara sepihak kepada petugas di hilir.
”GASLAH memiliki probabilitas keberhasilan yang tinggi jika warga bersedia terlibat aktif memilah sampah sejak dari rumah. Kampanye yang kami formulasikan ini menekankan bahwa pemisahan kategori organik, anorganik, dan residu merupakan regulasi mandiri berskala kecil yang menjadi determinan utama keberhasilan pengelolaan sampah di tingkat RW,” ujar Nur Atnan di sela-diski.
Dalam forum tersebut, Tim Abdimas merumuskan narasi utama (core message) kampanye: “GASLAH Dimulai dari Rumah Kita: RW 08 Manjahlega Siap Memilah Sampah.” Pesan strategis ini kemudian diturunkan menjadi tiga poin edukasi krusial bagi warga:
- Memahami GASLAH sebagai instrumen tata kelola sampah terintegrasi dari sumbernya.
- Mengklasifikasikan sampah domestik secara mandiri menjadi tiga kategori: organik, anorganik, dan residu.
- Memberikan dukungan penuh terhadap kinerja petugas GASLAH dengan mematuhi jadwal pengangkutan serta tidak mencampur kembali sampah yang telah dipilah.
Akselerasi Keterampilan Berbasis Teknologi AI
Guna memastikan keberlanjutan (sustainability) program, anggota Tim Abdimas, Muhammad Al Assad Rohimakumullah, S.I.Kom., M.I.Kom., mengusulkan adanya program akselerasi berupa pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendukung kerja tim GASLAH dan pengurus RW.
”Pemanfaatan instrumen AI diproyeksikan dapat mengoptimalkan produksi konten visual kampanye secara lebih simultan, kreatif, dan responsif terhadap dinamika di lapangan. Transformasi digital ini penting agar edukasi publik mengenai GASLAH tetap berjalan secara mandiri dan berkelanjutan, bahkan pasca-program Abdimas ini selesai,” jelas Al Assad.
Merespons terobosan tersebut, Ketua RW 08 Manjahlega, Omas Satia Darma, S.E., menyatakan dukungannya terhadap rencana taktis penyusunan materi kampanye visual ini.
”Materi publikasi seperti banner, edukasi audiovisual, dan infografis visual lainnya sangat strategis. Ini menjadi media mitigasi sekaligus edukasi agar warga memahami secara utuh bahwa tata kelola lingkungan melalui GASLAH adalah tanggung jawab kolektif, bukan sekadar tugas rutin petugas kebersihan,” tutur Omas.
Komitmen Jangka Panjang Pengelolaan Lingkungan
Melalui sinergi akademisi dan warga ini, RW 08 Manjahlega diproyeksikan mampu menjadi pilot project bagi kawasan lain di Kota Bandung dalam hal kemandirian pengelolaan lingkungan.
Ke depan, implementasi program akan dilanjutkan secara berkesinambungan melalui tahapan produksi materi kampanye, pembuatan video edukasi terstruktur, hingga pelatihan teknis bagi pengurus wilayah. Langkah ini diharapkan mampu mengintervensi perubahan perilaku sosial masyarakat demi mewujudkan target Kota Bandung bebas sampah dari sumbernya.







