Porosmedia.com | Tasikmalaya | Kairo, Abad ke-10 Hijriah. Suatu pagi di bulan Muharram, Kota Kairo seakan kehilangan warna bagi Athiyah bin Khalaf. Lelaki yang dulu dikenal sebagai saudagar kurma terkaya di kotanya itu, kini hanya tersisa selembar kain yang melekat di tubuhnya. Kebangkrutan telah menyapunya menjadi fakir, menyisakan luka dan sebuah pilihan berat di Hari Asyura—hari yang diagungkan dalam Islam, penuh kisah tentang pengorbanan dan keajaiban rahmat Ilahi.
Hari itu, sebagaimana tradisi di Masjid Agung ‘Amr bin ‘Ash, ruang utama hanya diperuntukkan bagi perempuan. Athiyah mencari sudut sepi, mencoba menyembunyikan kemiskinannya di balik tiang masjid yang kokoh. Dalam heningnya doa setelah shalat Subuh, tiba-tiba hadir seorang perempuan dengan sejumlah anak kecil menggantung di jubahnya. Matanya memancarkan kepayahan yang dalam.
“Wahai Tuanku, demi Allah, tolonglah kami,” bisik perempuan itu, suaranya parau oleh tangis yang tertahan. “Anak-anak ini telah menjadi yatim. Ayah mereka tiada, tak meninggalkan secuil dinar pun. Aku adalah seorang syarifah (keturunan Nabi), dan rasa maluku telah habis. Hari ini keadaan memaksaku keluar meminta.”
Athiyah terdiam. Hatinya bagai diiris. Ia tak memiliki apa-apa kecuali kain yang menutupi auratnya. Memberikannya berarti telanjang. Menolak berarti mengingkari tangisan anak yatim di hari yang mulia. Dalam dilema itu, bayangan Nabi Muhammad SAW, yang selalu mengedepankan belas kasih, menghampirinya. Sebuah pertanyaan menggema dalam kalbu, “Apa alasanmu di hadapan Rasulullah kelak jika kau tolong mereka?”
Dengan ketenangan yang mengejutkan dirinya sendiri, Athiyah berkata, “Ikutilah aku, Bu. Aku akan memberimu sesuatu.”
Perempuan itu mengikutinya hingga ke depan rumahnya yang bersahaja. Athiyah memintanya menunggu. Di balik pintu, dengan hati berdebar, ia melepas satu-satunya kain yang dimilikinya, menggantinya dengan selembar kain penutup pintu (hordeng) yang usang untuk menutupi auratnya. Kemudian, dari celah pintu yang hanya terbuka sedikit, ia menyodorkan pakaiannya—harta terakhirnya—kepada perempuan asing itu.
“Semoga Allah memakaikanmu pakaian dari perhiasan-perhiasan surga,” doa perempuan itu meluncur penuh haru, sebelum ia berlalu bersama anak-anaknya.
Malam itu, Athiyah menghabiskan waktu dengan berdzikir. Dalam tidurnya, ia dihampiri mimpi yang sangat nyata. Seorang bidadari dengan cahaya wajah memancarkan keteduhan surgawi mendatanginya, membawa buah apel yang wanginya memenuhi seluruh ruang. Sang bidadari membelah apel itu, dan dari dalamnya terpancarlah perhiasan cahaya. Dengan lembut, ia mengalungkannya ke leher Athiyah dan mendudukkannya di pangkuannya.
“Siapakah engkau?” tanya Athiyah, takjub.
Sang bidadari tersipu, “Aku adalah Asyura, istrimu di surga.”
“Bagaimana aku bisa mendapatkannya?”
“Karena doa perempuan yang kau santuni anak-anaknya kemarin,” jawabnya lugas.
Athiyah terbangun dengan tubuh menggigil bahagia. Aroma wangi apel surgawi masih melekat di udara kamarnya. Ia segera bersujud syukur. Dalam doanya, ia memohon, “Ya Rabbi, jika mimpi ini benar dan ia adalah istriku di akhirat, maka wafatkanlah aku sekarang untuk segera bertemu dengannya.”
Doanya terkabul seketika. Athiyah bin Khalaf berpulang dalam keadaan tenang, mengakhiri kisah dunianya yang miskin harta, namun kaya dengan pengorbanan yang dibeli dengan harga selembar kain.
Merenungkan Makna, Keberkahan di Balik Pengorbanan
Kisah yang disadur dari kitab “Irsyad al-Ibad” karya Syekh Zainuddin Al-Malibari ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ia adalah narasi simbolik yang dalam tentang esensi Hari Asyura. Dalam tradisi Islam, tanggal 10 Muharram adalah hari keselamatan Nabi Musa dan Bani Israil dari Fir’aun, hari Nabi Nuh turun dari bahtera, dan hari di mana Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara. Hari ini dianjurkan untuk memperbanyak sedekah, menyantuni anak yatim, dan berpuasa.
Seorang ulama kontemporer, Dr. Muhammad Ratib an-Nabulsi, dalam sebuah ceramahnya menyebut, “Sedekah di Hari Asyura memiliki keutamaan yang besar. Ia dapat menghapus dosa setahun, mengangkat derajat, dan menjadi sebab turunnya keberkahan yang tak terduga.” Athiyah bin Khalaf mengajarkan bahwa sedekah tertinggi bukanlah memberi dari kelebihan, tetapi memberi dari kekurangan. Ia adalah kepasrahan total bahwa di balik kehilangan harta dunia, ada ganjaran yang tak terbayangkan.
Sosiolog dan pemikir Muslim, Prof. Hamid Dabashi, dalam tulisannya tentang spiritualitas dalam Islam, menegaskan, “Kisah-kisah para wali dan orang saleh seringkali berpusat pada momen ‘kehancuran’ yang justru menjadi pintu gerbang menuju pencerahan spiritual. Ketika segala atribut duniawi runtuh, yang tersisa adalah esensi kemanusiaan, empati dan pengorbanan.”
Kisah Athiyah juga menyentuh sisi gender yang menarik. Di masjid yang pada hari itu dikhususkan untuk perempuan—sebuah ruang aman bagi mereka—justru dari sanalah datang pertolongan bagi seorang lelaki yang sedang terpuruk. Perempuan syarifah itu, dengan martabatnya yang hampir hilang, menjadi perantara turunnya rahmat Ilahi. Ia adalah simbol ketabahan dan keimanan yang tersembunyi.
Dalam dunia yang semakin individualistik, kisah ini mengingatkan kita pada pesan abadi, kebaikan sekecil apa pun, yang diberikan dengan ikhlas di saat yang tepat, dapat mengubah takdir—bahkan melampaui batas-batas kehidupan dunia. Athiyah tidak lagi dikenang sebagai pedagang kurma yang bangkrut, tetapi sebagai orang yang membeli surga dengan harga selembar kain, berkat sebuah doa tulus di Hari Asyura.
Semoga di setiap Asyura yang kita lalui, kita dapat menangkap semangat pengorbanan itu—tidak harus dengan harta, tetapi dengan waktu, perhatian, dan kasih sayang kepada sesama. Sebab, siapa tahu, di balik senyuman anak yatim yang kita usap, atau makan malam yang kita bagikan, tersimpan doa yang akan menjadi bekal kita kelak, “Semoga Allah memakaikanmu pakaian dari perhiasan-perhiasan surga.” Amin.







