Porosmedia.com | Tasikmalaya |Di hamparan tanah yang jauh dari cahaya kota Madinah, Nabi Muhammad ﷺ mengutus para “duta hati”. Mereka adalah sahabat-sahabat pilihan, berbekal ilmu dan akhlak, untuk menjadi imam dan penuntun bagi komunitas Muslim baru. Di antara mereka, ada satu sosok yang namanya mungkin tak terukir besar dalam sejarah, namun kesannya terpatri dalam di dalam riwayat-riwayat emas.
Dia dikenal dengan keramahan yang meneduhkan dan ketelitian dalam beribadah. Tetapi, ada satu hal yang lebih dari itu, dia sangat dicintai jamaahnya. Cinta itu bukan karena kata-kata indah atau kisah heroik, melainkan lahir dari sebuah ritual khusyuk di dalam shalat berjamaah.
Ritual Rahasia di Balik Ruku’ dan Sujud
Para makmum mulai memperhatikan sebuah pola. Seusai Al-Fatihah, sang imam tidak pernah absen. Di rakaat pertama, kedua, ketiga, hingga keempat—selalu saja suara lirihnya melantunkan Qul huwallāhu aḥad. Surat Al-Ikhlas. Baru setelah itu, dia menyambung dengan surat lain.
Hari berganti pekan. Keunikan itu berubah menjadi tanda tanya kolektif. Ada yang mengira ini adalah sebuah dzikir khusus yang diajarkan Rasul secara rahasia. Ada pula yang penasaran, jangan-jangan ada makna tersembunyi dari pengulangan itu. Di tengah ruang hati yang dipenuhi tanya, akhirnya seorang jamaah memberanikan diri.
“Wahai Imam,” bisiknya penuh hormat seusai shalat, “mengapa engkau selalu menyertakan Al-Ikhlas di setiap rakaat? Engkau tak pernah melewatkannya. Ada apakah?”
Sang imam tidak terkejut. Senyumnya mengembang, lembut seperti embun pagi. Jawabannya singkat, namun menyimpan kedalaman samudera.
“Karena di dalamnya terkandung sifat-sifat Ar-Rahman,” ujarnya, “dan aku sungguh mencintai-Nya.”
Kalimat itu menggantung di udara, menembus relung kesadaran para pendengar. Saat itu mereka baru menyadari, yang diulang-ulang sahabat itu bukan sekadar rangkaian huruf. Itu adalah deklarasi cinta. Sebuah upaya untuk mendekatkan diri dengan mengenal-Nya, berulang-ulang, dalam setiap kesempatan bersujud.
Kabar Gembira dari Langit Madinah
Tak lama kemudian, para utusan itu kembali ke pusat dakwah, Madinah. Dalam sebuah kesempatan, mereka menceritakan keunikan sahabat imam itu kepada Rasulullah ﷺ. Mereka mungkin mengharapkan penjelasan hukum, atau justru koreksi jika hal itu keliru.
Namun, respons Sang Nabi ﷺ justru memancarkan cahaya kebahagiaan. Wajahnya berseri, seolah mendapat kabar terindah.
“Sampaikan kepadanya,” sabda Rasulullah ﷺ dengan penuh keyakinan, “bahwa Allah mencintainya, sebagaimana ia mencintai surat itu.”
Kalimat itu, yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab sahihnya, bukan sekadar pujian. Itu adalah janji. Sebuah konfirmasi ilahi bahwa cinta hamba kepada Tuhannya—yang diekspresikan melalui kecintaan pada Kalam-Nya—tidak akan pernah luput dari perhatian-Nya.
Al-Ikhlas, Bukan Hanya Panjangnya yang Sama
Kisah ini, meskipun singkat, membawa gelombang makna yang tak pernah usang. Surat Al-Ikhlas seringkali dipandang sebagai “surat pengantar” bagi pemula atau pengganti surat panjang. Namun, sahabat ini mengajarkan kita untuk melihat melampaui itu.
“Dia sedang melakukan ta’alluq (penghubungan hati) yang intens dengan Allah melalui sifat-sifat-Nya yang fundamental,” ujar seorang ulama tafsir kontemporer. “Dengan membaca ‘Dia Allah, Yang Maha Esa’, ‘Allah tempat meminta’, ‘tidak beranak dan tidak diperanakkan’, dan ‘tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia’—dia sedang membangun pondasi tauhidnya di setiap gerakan shalat.”
Cinta sang imam bukan cinta yang pasif. Itu adalah cinta yang diaktifkan, diulang, dan diintegrasikan ke dalam ritme ibadahnya yang paling intim. Dan Allah membalasnya dengan cara yang paling didambakan setiap hamba, cinta (mahabbah) dari Dzat yang dicintai.
Warisan Cinta yang Terus Bergema
Hari ini, di sudut-sudut masjid di seluruh dunia, masih banyak Muslim yang mengikuti sunnah membaca Al-Ikhlas, terutama di rakaat ketiga atau keempat. Tetapi, kisah ini mengajak kita untuk melangkah lebih jauh, menjadikan pembacaan itu sebagai cermin kecintaan, bukan hanya sebagai kebiasaan.
Sahabat itu mungkin tidak meninggalkan nama. Namun, warisannya abadi, sebuah pengajaran bahwa dalam hubungan dengan Allah, konsistensi dalam cinta—sekecil apa pun bentuknya—akan sampai kepada-Nya. Dan balasannya adalah sesuatu yang tak terbayarkan, mahabbatullah, cinta Allah.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain, “Barangsiapa yang ingin dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka hendaklah ia membaca Kitabullah.” Sahabat kita itu telah membuktikannya, satu rakaat, dan satu surat Al-Ikhlas, pada suatu waktu. Cintanya terekam dalam sahih Bukhari, dan terus bergema hingga akhir zaman.







