Porosmedia.com | Tasikmalaya | MADINAH, di bawah terik yang menusuk tulang. Seorang pemuda, wajahnya masih belia, berlari dengan napas tersengal. Di tangannya, sebilah pedang tergenggam erat, matanya berkobar-kobar. Rumor telah sampai ke telinganya: Rasulullah ﷺ telah dibunuh. Darahnya mendidih. Sumpahnya satu: ia akan membasmi siapa pun yang berani mencelakai kekasih Allah itu. Ia adalah Zubair bin Awwam, baru berusia belasan tahun.
Di perbukitan utara Mekah, ia berhadapan dengan sosok yang justru ia cari. Rasulullah ﷺ berdiri dengan tenang. “Ada apa denganmu, Zubair?” tanya Nabi. “Aku mendengar engkau telah dibunuh, wahai Rasulullah!” jawab Zubair, napasnya masih berat. “Lalu apa yang akan kau lakukan?” sambung Nabi. Dengan mantap Zubair menjawab, “Aku akan memerangi mereka yang membunuhmu!”
Rasulullah ﷺ tersenyum, lalu mendoakannya. Dalam riwayat itu, tercatat: Dialah orang pertama yang menghunuskan pedangnya di jalan Allah. Sebuah gelar kehormatan yang melekat padanya sepanjang hayat.
Sang “Hawari”: Pembela Inti yang Dijamin Surga
Zubair bukan sekadar sahabat. Ia adalah Al-Hawari—sang pembela setia. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Setiap Nabi memiliki hawari (pembela setia), dan hawari-ku adalah Az-Zubair.” (Muttafaqun ‘alih). Ia juga termasuk dalam kelompok elit ‘Asyarah al-Mubasyarah—sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga sejak masih hidup.
Darah bangsawan Quraisy mengalir deras dalam nadinya. Ibunya, Shafiyyah binti Abdul Muthalib, adalah bibi Rasulullah ﷺ. Bibinya sendiri adalah Khadijah al-Kubra, istri pertama Nabi. Namun, darah bangsawan itu tak lantas memberinya kemudahan. Justru, ketika berita keislamannya yang dini menyebar, sang paman, Naufal bin Khuwailid, murka. Zubair yang masih remaja digulung dalam tikar, lalu disiksa dengan asap api yang menyengat. “Tinggalkan agama Muhammad, niscaya kau selamat!” hardik sang paman. Dari balik siksaan, jawaban Zubair tegas: “Tidak. Demi Allah, aku tidak akan kembali kepada kekafiran untuk selamanya!”
Prajurit Dua Pedang: Keberanian yang Membuat Nabi Bangga
Di medan perang, namanya adalah legenda. Bersama Khalid bin Walid, hanya mereka berdua yang sanggup bertempur dengan dua pedang sekaligus, bahkan saat menunggang kuda. Kepahlawanannya terukir sejak Perang Badar, pertempuran besar pertama umat Islam.
Saat itu, musuh mengerahkan juara mereka: Ubaidah bin Sa’id, kesatria Quraisy yang bertubuh besar dan bersenjata lengkap dengan baju zirah dari ujung kepala ke kaki. Zubair, dengan perlengkapan seadanya, maju menghadapinya. Dalam duel yang sengit, dengan kelincahan yang luar biasa, Zubair berhasil menikamkan tombaknya tepat di mata Ubaidah, menusuk hingga ke belakang kepala. Prajurit kebanggaan Quraisy itu tumbang.
Dalam Perang Uhud, ketika pembawa bendera musuh, Talhah bin Abi Talhah, menantang duel dan tak seorang pun berani maju, Zubair kembali melompat ke arena. Ia berhasil menjatuhkan Talhah dari untanya dan menuntaskan pertarungan. Atas aksinya ini, Rasulullah ﷺ bersabda dengan bangga, “Seandainya Zubair tidak maju, pasti aku yang akan maju melawannya.”
Tubuhnya menjadi peta perjuangan. Putranya, Urwah, bercerita, “Ayahku memiliki sekitar tiga puluh luka pedang dan tombak. Dua di antaranya ada di Badar, dan satu lagi di Perang Yarmuk.” Seorang sahabat yang melihat bekas lukanya berkata takjub, “Demi Allah, aku belum pernah melihat tubuh seseorang seperti tubuhmu.” Zubair menjawab dengan rendah hati, “Semua luka ini aku dapatkan bersama Rasulullah ﷺ di jalan Allah.”
Di luar medan tempur, Zubair adalah seorang saudagar yang sangat sukses. Kekayaannya melimpah. Namun, kehidupan pribadinya sangat sederhana. Hampir tak ada harta yang ia simpan untuk diri dan keluarganya. Semua dialirkan untuk jihad fi sabilillah.
Ka’ab bin Malik menggambarkannya, “Az-Zubair memiliki seribu budak (aset kekayaan), dan tidak satu dirham pun darinya yang masuk ke rumahnya.” Artinya, semua kekayaannya ia infakkan. Bahkan, ketika ajal menjemput, ia justru meninggalkan hutang yang sangat besar.
Mengapa orang sekaya Zubair bisa berhutang? Inilah keagungan pengorbanannya. Ia berhutang bukan untuk kemewahan, tetapi untuk membiayai pasukan, membeli senjata, dan membangun kekuatan umat Islam. Sebelum wafat, ia berpesan kepada putranya, Abdullah, “Wahai anakku, lunasilah hutang-hutangku. Jika engkau tak mampu, mintalah pertolongan kepada Maulana (Pelindung kami).” Abdullah bertanya, “Siapa Maulana itu?” Zubair menjawab, “Allah. Dialah sebaik-baik Pelindung dan Penolong.” Dan ajaibnya, setiap Abdullah kesulitan melunasi, ia selalu berdoa, “Wahai Pelindung Zubair, lunasilah hutangnya.” Maka, selalu ada jalan keluar yang datang dari arah yang tak terduga.
Akhir Hayat yang Pilu
Zubair mengakhiri hidupnya dalam tragedi memilukan,Perang Jamal. Sebuah fitnah besar yang mengadu domba sesama sahabat utama. Zubair, yang sebelumnya bersemangat menuntut balas atas kematian Utsman, akhirnya teringat sebuah nasihat Rasulullah ﷺ. Beliau pernah bertanya kepadanya, “Apakah engkau mencintai Ali?” “Tentu,” jawab Zubair. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, “Engkau akan memeranginya, dan dalam hal itu engkau berlaku zalim.”
Mengingat hadits itu, di tengah berkecamuknya perang, hati Zubair berubah. Ia memutuskan untuk mundur dan meninggalkan medan pertempuran. Namun, dalam perjalanan pulang, saat sedang sujud dalam shalat di Wadi as-Siba’, seorang pengkhianat bernama Amr bin Jurmuz membunuhnya dari belakang.
Kabar pembunuhan itu dibawa ke Khalifah Ali bin Abi Thalib. Ali tidak bergembira. Wajahnya berlinang air mata. Ia berkata dengan sedih, “Beritahukanlah kepada si pembunuh putra Shafiyyah, bahwa neraka baginya. Sungguh, Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadaku, “Pembunuh Az-Zubair adalah penghuni neraka.”Sebuah akhir yang tragis bagi seorang pahlawan yang sepanjang hidupnya hanya membela Islam.
Warisan yang Tak Terukur, Bukan Harta, Tapi Teladan
Zubair wafat pada 36 H dalam usia 66 tahun. Ia meninggalkan warisan yang bukan berupa tanah atau dirham, melainkan sebuah teladan paripurna, kesetiaan tanpa syarat, keberanian tanpa pamrih, dan kedermawanan tanpa batas.
Ia mengajarkan bahwa kekayaan sejati adalah apa yang kita infakkan, bahwa keberanian tertinggi adalah mengendalikan nafsu saat amarah membara, dan bahwa nama yang harum di langit lebih berharga daripada kemasyhuran di bumi.
Dari kisahnya, kita belajar, terkadang, jalan menuju surga itu tidak lurus. Terkadang ia berliku, penuh dengan keputusan berat dan air mata penyesalan. Tetapi bagi orang seperti Zubair, yang sejak remaja telah menghunus pedang pertama untuk Nabinya, satu jaminan sudah cukup: “Selamat datang, wahai Hawari, Tempatmu telah disiapkan di surga.”







