Porosmedia.com, Jakarta – Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu), Dr. Aris Adi Leksono, M.Pd, menilai sosok Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A. merupakan figur yang tepat untuk mengemban amanah sebagai Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di masa mendatang.
Dukungan moral ini disampaikan sebagai bagian dari aspirasi jam‘iyyah dalam menjaga kesinambungan kepemimpinan ulama yang berintegritas, mandiri, dan berakar kuat pada tradisi pesantren. Menurut Dr. Aris, ada empat pilar utama yang menjadikan Kiai Asep sebagai kandidat yang kredibel untuk memimpin tertinggi di jajaran syuriyah PBNU.
1. Akar Historis: Dzurriyah Pendiri NU
Dr. Aris menegaskan bahwa Kiai Asep adalah putra dari KH. Abdul Chalim Leuwimunding, salah satu tokoh kunci pendiri Nahdlatul Ulama. Hubungan nasab ini dinilai melahirkan sense of belonging (rasa memiliki) yang mendalam terhadap organisasi.
”Sebagai dzurriyah pendiri, beliau memiliki tanggung jawab moral yang melampaui sekadar posisi formal. Ini adalah dedikasi yang lahir dari loyalitas historis untuk menjaga marwah dan khittah jam‘iyyah,” ujar Aris di Jakarta.
2. Kapasitas Mengelola Basis Kultural Pesantren
Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Kiai Asep telah membuktikan keberhasilannya mengelola institusi pendidikan dengan puluhan ribu santri dan jaringan alumni internasional. Pergunu menilai, kemampuan menyinergikan manajemen modern dengan tradisi salaf adalah modal strategis bagi masa depan NU.
3. Kemandirian Ekonomi dan Integritas Etis
Salah satu poin krusial yang disoroti Pergunu adalah kemandirian ekonomi Kiai Asep. Sebagai ulama yang juga dikenal sebagai pengusaha sukses dan dermawan, kemandirian ini dianggap sebagai jaminan independensi kepemimpinan.
”Kemandirian ekonomi memberi jaminan etik bahwa kepemimpinan ulama akan tetap objektif, tidak mudah terintervensi kepentingan pragmatis, dan murni fokus pada kemaslahatan umat,” tegas Aris.
4. Perpaduan Akademisi dan Pengakuan Negara
Kiprah Kiai Asep tidak hanya diakui di internal NU, tetapi juga secara nasional melalui penganugerahan Bintang Mahaputera Narayana. Gelar Guru Besar yang disandangnya menunjukkan kapasitas intelektual yang mumpuni, namun beliau tetap mampu merangkul kiai-kiai di tingkat akar rumput (kiai kampung).
Menjaga Tradisi Organisasi
Pergunu menegaskan bahwa pandangan ini disampaikan dalam semangat musyawarah dan khidmah (pengabdian) kepada organisasi. Pihaknya tetap menghormati sepenuhnya mekanisme organisatoris dan tradisi luhur yang berlaku di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Melalui kepemimpinan yang kuat dalam aspek keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan, Pergunu optimis NU akan semakin kokoh dalam menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri pesantrennya.







