Porosmedia.com, Bandung – Di balik meriahnya lampu-lampu stan dan gemerlap dekorasi mal, Pasar Kreatif Bandung 2025 yang resmi dibuka di D’Botanica Mal, Jumat (8/8/2025), menyimpan cerita lebih dari sekadar ajang belanja. Menggandeng delapan mal dan melibatkan 331 pelaku usaha—termasuk UMKM dari Sumedang, Bandung, dan Garut—agenda ini bukan hanya parade produk, melainkan juga indikator kesehatan ekosistem ekonomi kreatif di Bandung dan sekitarnya.
Agenda yang berlangsung hingga awal Oktober ini menjadi bagian dari Bulan Belanja Bandung, program pemerintah kota yang menggabungkan promosi dagang, hiburan, dan narasi pemulihan ekonomi pascapandemi. Tahun lalu, acara serupa berhasil mencatat omzet Rp9,6 miliar. Tahun ini, target lebih tinggi dipasang, meski angka resmi tidak diungkap secara detail.
Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, menyebut Pasar Kreatif sebagai bukti nyata bahwa pemerintah bisa bekerja sama dengan swasta dan pelaku usaha kecil dalam menghadapi fluktuasi ekonomi global.
“Kita tidak bisa menunggu ekonomi pulih dengan sendirinya. Kolaborasi lintas sektor adalah kuncinya,” ujarnya saat pembukaan.
Namun, keberhasilan event seperti ini tidak hanya diukur dari omzet atau jumlah stan. Di lapangan, tantangan lain muncul: keberlanjutan usaha setelah event usai, kemampuan pelaku UMKM beradaptasi dengan sistem pemasaran digital, dan akses modal yang sering kali tersendat.
Kepala Disdagin Kota Bandung, Ronny Ahmad Nurudin, mengakui perluasan peserta dari luar daerah adalah strategi untuk memperluas jejaring.
“Kita ingin menciptakan rantai pasok yang lebih luas dan sinergi antardaerah. Harapannya, efeknya terasa di luar masa event,” katanya.
Tidak bisa dipungkiri, event seperti Pasar Kreatif juga menjadi panggung seremonial yang menarik kamera media dan agenda para pejabat. Kehadiran tokoh publik, sambutan, hingga seremoni pembukaan adalah bagian tak terpisahkan.
Pertanyaannya, seberapa jauh promosi ini bertransformasi menjadi transaksi nyata yang menghidupi pelaku usaha, bukan hanya sekadar window shopping bagi pengunjung mal?
Beberapa pelaku UMKM yang ditemui Porosmedia.com mengaku senang mendapat kesempatan tampil di mal besar, namun berharap pendampingan tidak berhenti pada momen pameran.
“Kalau hanya 10 hari jualan di mal, itu bagus untuk branding. Tapi setelah itu, kami perlu akses pasar, pelatihan, dan modal. Kalau tidak, ya balik lagi ke pasar biasa,” ujar Dini, pengrajin tas kulit asal Cibaduyut.
Tahun ini, Pasar Kreatif meluncurkan situs resmi yang memuat katalog dan kanal transaksi daring. Langkah ini penting, mengingat perilaku belanja masyarakat semakin digital. Tetapi, tidak semua pelaku UMKM siap dengan platform daring.
Beberapa masih gagap teknologi, kesulitan mengelola foto produk berkualitas, atau belum terbiasa dengan manajemen pesanan online. Tanpa pendampingan intensif, kanal digital hanya akan menjadi etalase statis.
Ketua Dekranasda Kota Bandung, Aryatri Farhan, menekankan kurasi produk sebagai upaya menjaga kualitas dan identitas budaya.
“Pasar Kreatif bukan sekadar jualan, tapi juga ruang edukasi dan apresiasi,” ujarnya.
Namun, tanpa strategi pemasaran pascaevent, kurasi berkualitas sekalipun bisa kehilangan momentum.
Bandung dan Branding Kota Kreatif
Bandung sudah lama memposisikan diri sebagai kota kreatif, baik melalui industri fesyen, kuliner, maupun kerajinan tangan. Event seperti Pasar Kreatif memperkuat citra ini di mata wisatawan domestik dan internasional. Tetapi branding saja tidak cukup; yang dibutuhkan adalah ekosistem ekonomi kreatif yang tangguh, dari hulu (produksi) hingga hilir (penjualan dan distribusi).
Kunci keberhasilan bukan hanya berapa banyak mal yang terlibat atau berapa besar omzet, tetapi seberapa luas dampak yang dirasakan pelaku usaha kecil. Tanpa kesinambungan, Pasar Kreatif berisiko menjadi festival tahunan yang meriah di permukaan, namun dangkal dalam hasil.
Catatan Kritis Porosmedia.com
Penguatan kapasitas digital UMKM harus menjadi prioritas, bukan sekadar bonus.
Evaluasi dampak ekonomi pascaevent perlu dilakukan secara terbuka agar publik tahu apakah program ini efektif.
Dukungan lintas sektor (perbankan, logistik, e-commerce) harus dilibatkan sejak awal, bukan hanya saat seremoni.
Pasar Kreatif Bandung 2025 memiliki potensi menjadi lokomotif ekonomi kreatif di Jawa Barat. Tetapi, tanpa konsistensi pendampingan dan strategi jangka panjang, event ini bisa terjebak menjadi perayaan musiman yang setiap tahun mengulang format yang sama.
Bandung butuh lebih dari sekadar pasar—Bandung butuh keberlanjutan.







