Porosmedia.com – Dunia hari ini seolah berubah menjadi arena pacu yang bising. Di jalan raya, kita menyaksikan ego yang saling beradu tanpa adab; di pemukiman, sapaan hangat kini kalah telak oleh dinding kesibukan yang kaku. Kita sedang mengalami pergeseran ruang hidup, di mana rasa dan asa perlahan tergerus oleh mekanisasi gaya hidup.
Kritik tajam patut diarahkan pada sistem pendidikan kita. Sekolah kini cenderung terjebak dalam rutinitas teknis: membaca, menulis, dan berhitung. Kita berhasil mencetak tenaga kerja, namun sering kali gagal membangun jati diri. Nilai-nilai karakter yang seharusnya menjadi fondasi manusia Indonesia justru terpinggirkan oleh mengejar angka di atas kertas.
Kondisi ini menjalar ke dunia kerja. Hubungan fungsional yang dulu didasari semangat gotong royong, kini bergeser menjadi hubungan transaksional yang dingin. Semua diukur dengan untung-rugi. Kerja bukan lagi pengabdian atau aktualisasi diri, melainkan sekadar pertukaran materi yang menghilangkan sisi kemanusiaan dalam berorganisasi.
Kemajuan teknologi memang tak terelakkan. Digitalisasi transaksi finansial, misalnya, telah menghapus penggunaan uang tunai. Namun, ada yang luput dari perhatian: uang tunai bukan sekadar alat bayar, melainkan simbol interaksi sosial yang nyata. Transaksi tunai melibatkan kontak mata, senyum, dan pengakuan atas keberadaan orang lain. Saat semuanya menjadi otomatis dan digital, interaksi manusiawi itu pun sirna.
Bagi penganut perubahan absolut, fenomena ini dianggap sebagai evolusi yang lumrah. Namun, bagi penjaga nilai, ini adalah pelunturan identitas bangsa. Kita merindukan masa ketika sapaan “Kulo nuwun”, “Punten”, “Horas”, hingga “Piye kabare” menjadi perekat sosial. Identitas warga yang saling menyanjung dan menghargai inilah yang membedakan kita di mata dunia.
Indonesia pernah sangat disegani karena keramah-tamahannya, sebagaimana Swiss dikenal karena ketaatannya menjaga alam dan kebebasan beragama. Keunggulan ini berakar pada satu prinsip universal: saling menghargai dan memahami.
Dalam kearifan Sunda, hal ini terangkum indah dalam filosofi:
- Silih Asah: Saling mempertajam pikiran dan pengetahuan.
- Silih Asih: Saling menyayangi dengan ketulusan.
- Silih Asuh: Saling membimbing dan menjaga.
Narasi ini selaras dengan jargon global seperti “Live together, make somebody happy, make somebody strong.” Esensinya sama: kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam kecepatan teknologi atau tumpukan materi, melainkan dalam kerangka ikatan sosial yang harmonis.
Kekayaan budaya Indonesia bukanlah sekadar artefak masa lalu, melainkan kompas untuk menavigasi masa depan. Saatnya kita berhenti sejenak dari perlombaan tanpa ujung ini untuk kembali merajut keserasian sosial yang mulai koyak.
Ir. Irwan Nurwansyah (Pengamat Sosial)







