Menjaga Kebugaran Pemain di Masa Transisi: Tantangan Persib Menuju Pentas Asia

Avatar photo

Porosmedia.com –  Dinamika jadwal kompetisi sepak bola di Indonesia kerap kali menghadirkan tantangan tersendiri bagi klub-klub profesional, terutama dalam menyiasati masa transisi atau jeda antar-musim. Kebijakan regulasi dan keputusan pemangku kebijakan yang dinamis sering kali berdampak pada durasi libur pemain yang fluktuatif.

​Secara umum, jeda kompetisi idealnya berkisar antara 4 hingga 6 minggu (Silva et al., 2015). Namun, dalam realitas sepak bola nasional, waktu lowong tersebut bahkan bisa membentang hingga 3 sampai 4 bulan (Harsono, 2015). Rentang waktu yang panjang ini menjadi ujian konsistensi bagi profesionalisme seorang pesepak bola.

​Saat ini, sejumlah pilar Maung Bandung seperti Beckham Putra mungkin beruntung karena kondisi fisik mereka tetap terjaga berkat pemanggilan dan rutinitas intensif bersama Tim Nasional Indonesia. Namun, bagi para pemain lain yang murni menjalani masa libur, situasinya tentu akan sangat berbeda.

Mitigasi Risiko Fisik Pemain

​Secara historis, menjaga berat badan ideal dan kebugaran selama libur kompetisi selalu menjadi tantangan klasik. Persib pernah memiliki memori unik saat bomber andalannya di masa lalu, Julio Lopez—yang ikonik dengan gaya kaus kaki pendeknya—harus menjalankan porsi latihan ekstra menggunakan jaket khusus demi menurunkan berat badan demi mencapai level kebugaran ideal.

Baca juga:  Ombudsman RI Ungkap Temuan Maladministrasi Program Pensiun BPJS Ketenagakerjaan, SBNI Bogor Soroti Perlindungan Pekerja Informal

​Potensi penurunan kondisi fisik selama masa transisi ini sudah sepatutnya dimitigasi oleh manajemen dan tim pelatih. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan menyediakan program latihan mandiri terstruktur (jeda transisi), khususnya bagi para pemain yang terikat kontrak jangka panjang. Langkah ini krusial untuk mengontrol persentase lemak tubuh agar tidak melonjak drastis selama masa liburan.

(Paling kanan) Rizki Mulyawan (Kimul) ketika berada di National Institute of Fitness and Sport (NIFS) Kanoya, Kagoshima, Japan

​Sejumlah studi ilmiah menunjukkan bahwa tanpa pemantauan yang ketat, kadar lemak atlet dapat meningkat hingga 20% selama masa antar-musim (Reilly, 1994; Shephard, 1999). Ironisnya, akumulasi lemak tersebut cenderung sulit dikikis dengan cepat dan rata-rata hanya berkurang sekitar 10% saat kompetisi berjalan (Mangine et al., 1990; Shephard, 1999). Risiko inilah yang harus dihindari oleh para pemain profesional demi menjaga performa top mereka.

Fokus Fasilitas dan Target Asia

​Memasuki tahun 2026, Persib Bandung telah menjelma menjadi kekuatan yang disegani dengan komposisi skuad Grade A dan B yang mumpuni. Visi klub kini telah bergeser; tidak sekadar membidik takhta Liga 1 domestik, melainkan melangkah lebih jauh untuk bersaing di level tertinggi kompetisi Asia.

​Sebagai salah satu klub besar, momentum ini menjadi waktu yang tepat bagi Pangeran Biru untuk melakukan introspeksi positif. Manajemen perlu terus memberikan dukungan penuh terhadap fasilitas penunjang serta mengakomodir kebutuhan staf pelatih dalam upaya mendongkrak performa tim.

Baca juga:  Tahan Imbang Persib, Barito Putera Terhindar Degradasi

​Setelah sempat menghadirkan kejutan melalui perekrutan pemain bintang dunia seperti Layvin Kurzawa pada musim lalu, pergerakan Persib dalam bursa transfer diyakini masih akan berlanjut. Namun, manajemen tentu wajib berkaca pada pengalaman sebelumnya. Saat pertama kali bergabung, Kurzawa membutuhkan waktu adaptasi fisik sekitar 2 hingga 4 minggu sebelum akhirnya bisa melakoni debut akibat kondisi yang belum bugar sepenuhnya. Meski ia menunjukkan kelasnya dalam beberapa laga, durasi kontrak pendek (5 bulan) dengan kondisi fisik yang belum optimal di awal menjadi catatan penting dalam kebijakan perekrutan pemain ke depan.

Profesionalisme Tanpa Batas

​Menatap musim depan, tantangan yang dihadapi Persib dipastikan jauh lebih berat. Skuad asuhan Bojan Hodak ini diproyeksikan akan berkompetisi di 4 hingga 5 ajang paralel, termasuk kompetisi Asia. Dengan jadwal yang super padat, fleksibilitas dan kesiapan fisik pemain menjadi harga mati.

​Masa transisi yang terlalu lama tanpa aktivitas terukur berisiko memperpanjang waktu pemulihan (recovery period) saat pramusim dimulai kembali. Oleh karena itu, euforia juara Three-Peat yang menggenapkan koleksi 5 trofi Persib harus segera disudahi untuk mulai fokus pada persiapan fisik.

Baca juga:  Pj Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin Resmi Lantik Pj Wali Kota Cimahi Dicky Saromi.

​Langkah paling mendasar yang bisa dilakukan pemain secara mandiri adalah menjaga kadar lemak tubuh tetap berada di angka ideal, yakni berkisar antara 10% hingga 15%. Komitmen ini dapat dibuktikan melalui kedisiplinan menjalankan latihan kardiovaskular serta latihan kekuatan (strength training) secara mandiri.

​Bahkan, di era sepak bola modern saat ini, opsi untuk merekrut pelatih kebugaran pribadi (private fitness coach) secara mandiri oleh pemain patut dipertimbangkan. Pada akhirnya, seluruh upaya ini bermuara pada satu tujuan: memastikan penggawa Persib selalu dalam kondisi siap tempur, membuktikan profesionalisme total, dan menjaga mentalitas agar tetap “haus” akan gelar juara. (Kimul)

Penulis : Rizki Mulyawan (Kimul)
Pakar Kebugaran Jasmani
Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan UNY
Pengamat Sepakbola dan Futsal Indonesia​