Porosmedia.com, Bandung – Di sudut Regol, tepatnya di Jalan Ciateul Kidul, suara riuh rendah anak-anak mengeja huruf hijaiyah menjadi napas harian bagi Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Al-Kahfi. Berdiri sejak tahun 1997, lembaga ini bukan sekadar tempat belajar; ia adalah benteng karakter bagi generasi muda di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung.
Namun, di balik semangat syiar Islam tersebut, tersimpan perjuangan sunyi para pendidiknya. Zain Nasrul Aziez, salah satu sosok kunci di MDTA Al-Kahfi, membagikan realita yang dihadapi sekolahnya. Sebagai lembaga yang menggratiskan biaya pendidikan demi membantu orang tua murid yang secara ekonomi terbatas, Al-Kahfi kini beroperasi dengan segala keterbatasan.
”Kami bertanggung jawab memastikan program sekolah tetap berjalan, namun keterbatasan fasilitas dan alat penunjang mengaji menjadi tantangan nyata setiap harinya,” ujar Zain.
MDTA Al-Kahfi yang telah terdaftar resmi dengan nomor registrasi 311232730656, kini sangat membutuhkan uluran tangan. Mulai dari perbaikan ruang mengaji, renovasi masjid, hingga perlengkapan belajar mengajar bagi anak-anak. Prosedur birokrasi yang rumit seringkali menjadi penghalang bagi bantuan formal untuk sampai ke akar rumput tepat waktu
Bukan hanya soal infrastruktur, Zain juga menyuarakan kegelisahan mendalam mengenai nasib rekan sejawatnya. Fenomena ketimpangan kesejahteraan guru mengaji di daerah, khususnya di Kota Bandung, menjadi poin krusial yang perlu mendapat perhatian publik dan pemerintah daerah.
”Saatnya masyarakat dan pihak terkait menoleh kembali pada mereka yang menanamkan nilai moral sejak dini. Kesejahteraan guru mengaji adalah investasi jangka panjang bagi kualitas akhlak bangsa,” tambahnya.
Pihak MDTA Al-Kahfi membuka pintu seluas-luasnya bagi para donatur, dermawan, maupun instansi yang ingin berkontribusi dalam perjuangan syiar ini. Zain menyatakan kesiapannya untuk memaparkan transparansi kebutuhan melalui proposal resmi bagi pihak yang berminat membantu.
Melalui tulisan ini, diharapkan ada titik terang bagi anak-anak di Ciateul agar tetap bisa mengaji dengan fasilitas yang layak, serta apresiasi yang lebih baik bagi para ustadz yang telah mewakafkan waktunya untuk umat.







