Menanti Persib Juara: Saat Kota Bandung Menyulap Euforia Menjadi Berkah Hotel dan Ujian Aspal Berlubang

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Atmosfer Kota Bandung mendadak berubah menjadi panggung drama kolosal yang menegangkan sekaligus menggiurkan. Menjelang laga penentuan pekan ke-34 Liga Indonesia antara Persib Bandung melawan Persijap Jepara pada Sabtu (23/5/2026), Pemerintah Kota Bandung kini sibuk bersolek sekaligus memasang barikade.

​Bagi dinas pariwisata, ini adalah masa panen raya. Bagi aparat keamanan, ini adalah momen “siaga satu” tanpa jatah libur akhir pekan. Sementara bagi warga, ini adalah pesta pora yang harus ditebus dengan kesabaran menghadapi potensi macet total.

​Panen Raya Okupansi Hotel: Persib Milik Jawa Barat

​Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, tersenyum lebar melihat pergerakan angka-angka bisnis perhotelan. Antusiasme Bobotoh dari berbagai penjuru Jawa Barat yang berbondong-bondong menuju Kota Kembang sukses mendongkrak tingkat hunian hotel, terutama di sepanjang rute yang digadang-gadang akan menjadi jalur konvoi kemenangan.

​”Dari liputan teman-teman, ini menunjukkan Persib itu memang bukan hanya milik Kota Bandung, tapi milik Jawa Barat,” ujar Adi saat berada di SLBN Cicendo, Jumat (22/5/2026).

​Jika pada long weekend sebelumnya tingkat okupansi sudah bertengger di angka 75 hingga 90 persen, momentum potensi juara ini diprediksi akan melampaui angka tersebut. Meski belum mengantongi data resmi mengenai hotel yang penuh 100 persen, Adi meyakini gelombang booking kamar terus mengalir deras. Menariknya, meski lonjakan tamu sudah di depan mata, Disbudpar merasa tidak perlu mengeluarkan instruksi khusus. Industri perhotelan Bandung tampaknya dianggap sudah cukup khatam dalam urusan menyambut tamu dengan ramah, tanpa perlu disetir arahan resmi.

Baca juga:  Tahun 2023 sebanyak 1.097 orang, Dominasi Purna Tugas Di Kota Bandung adalah Guru

​”Skenario Terburuk” di 30 Kecamatan

​Guna mencegah lautan manusia tumpah ruah di satu titik pusat kota, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengambil strategi desentralisasi euforia. Alih-alih memusatkan keramaian, Pemkot Bandung memutuskan untuk absen menggelar nonton bareng (nobar) di Balai Kota. Sebagai gantinya, layar lebar akan dibentangkan di 30 kecamatan di seluruh penjuru kota.

​”Di semua kecamatan, 30 kecamatan pasti ada nobar. Lembaga-lembaga juga bikin nobar sendiri-sendiri,” kata Farhan di Pendopo, Jumat (22/5/2026).

​Strategi memecah konsentrasi massa ini bukan tanpa alasan. Pemkot Bandung tampaknya sangat paham bahwa mengelola emosi ribuan suporter pasca-pertandingan adalah urusan sensitif. Farhan menegaskan bahwa pengawasan ketat akan dilakukan terhadap pergerakan Bobotoh sebelum dan sesudah laga demi menjaga kondusivitas.

​”Nah, makanya ada skenario terbaik dan skenario terburuk. Dua-duanya sudah siap dijalankan,” tambah Farhan, sebuah pernyataan diplomatis yang menyiratkan bahwa kota ini sedang bersiap menghadapi segala kemungkinan, termasuk yang paling karut-marut sekalipun.

​Antisipasi Jalur Pawai: Antara JPO Modifikasi dan Berburu Lubang Jalan

Baca juga:  Persib Kalah di Laga Pembuka Piala Presiden 2025, Erwin: "Insyaallah Bangkit" – Tapi Sampai Kapan?

​Jika Persib berhasil mengunci gelar juara, sebuah pesta rakyat berupa konvoi besar-besaran telah dirancang untuk hari Minggu. Rute sementara akan dimulai dari Gedung Sate, melintasi Jalan Banda, Riau, Merdeka, Asia Afrika, dan berakhir di Pendopo Kota Bandung.

​Namun, di balik romantisme arak-arak trofi tersebut, Pemkot Bandung harus berkejaran dengan realitas infrastruktur kota yang belum sepenuhnya paripurna. Dalam rapat koordinasi lintas sektoral, Wali Kota Farhan secara khusus meminta jajarannya untuk memeriksa kondisi jalan di jalur konvoi, terutama menambal titik-titik jalan berlubang yang berpotensi mencoreng jalannya perayaan atau bahkan membahayakan keselamatan warga. Pesta juara tampaknya menjadi stimulan efektif agar perbaikan jalan yang biasa dikeluhkan warga bisa dikebut dalam semalam.

​Tak hanya urusan aspal, kekuatan infrastruktur penunjang pun diuji. Kepala Disciptabintar Kota Bandung, Rulli Subhanudin, menyatakan bahwa Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Asia Afrika—yang direncanakan menjadi panggung seremoni trofi—telah melalui serangkaian tes teknis mulai dari uji beban hingga tes kelenturan. Hasilnya diklaim aman, walau kapasitas penonton di atas JPO tetap harus dibatasi secara ketat agar struktur tidak ambruk oleh beban euforia.

Baca juga:  HKN: Lebih dari Sekadar Seragam dan Upacara Tanggal 17

​Untuk menambah syahdu suasana panggung rakyat nanti, Pemkot juga menyiapkan hiburan musik serta pemutaran video dokumenter mengenang tokoh suporter legendaris, Ayi Beutik.

​Seluruh aparatur kota, mulai dari petugas kebersihan, pertamanan, hingga tenaga kesehatan dipastikan dilarang libur pada hari Minggu nanti. Semua dikerahkan demi memastikan transisi berjalan lancar, karena seperti yang diingatkan oleh Wali Kota Farhan: “Warga datang untuk lihat piala dan pemain. Ini pestanya Persib, bukan pestanya pemerintah kota.”

​Kini, nasib kenyamanan akhir pekan Kota Bandung berada di tangan hasil pertandingan di lapangan hijau dan seberapa kuat aspal serta JPO menahan beban kegembiraan warga. (porosmedia)