Sosial  

Pasar Tradisional dan Ujian Keberpihakan Daerah

Ditulis oleh: Yoseph Heriyanto Penggiat advokasi kebijakan publik dan agraria

Avatar photo
Yoseph Heriyanto

Porosmedia.com, Karanganyar – Pasar Kwadungan hari ini bukan sekadar satu titik persoalan. Ia adalah sinyal, tanda bahaya bahwa ada yang tidak beres dalam cara kita memperlakukan pasar tradisional di Kabupaten Karanganyar.

Apa yang terjadi di Pasar Tradisonal Kwadungan—drainase yang bermasalah, infrastruktur yang menua, penataan yang belum rapi, serta nihilnya tindak lanjut pasca kunjungan lintas instansi—bukan cerita yang berdiri sendiri. Ia berpotensi menjadi gambaran yang lebih luas: wajah pasar-pasar tradisional lain yang pelan-pelan menua tanpa kepastian perbaikan.

Ketika alasan yang muncul adalah “keterbatasan anggaran”, publik sebenarnya tidak hanya mendengar soal kekurangan dana. Publik membaca sesuatu yang lebih dalam: soal prioritas.

Karena pada akhirnya, anggaran bukan semata angka. Ia adalah pilihan. Ia adalah keputusan tentang siapa yang didahulukan, dan siapa yang harus menunggu. Jika pilihannya pasar tradisional harus menunggu, sementara sektor lain terus berjalan, maka kita patut bertanya: apakah ruang ekonomi rakyat kecil memang belum dianggap mendesak?

Padahal, pasar tradisional bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah denyut ekonomi harian masyarakat. Di sanalah pedagang kecil bertahan, di sanalah roda ekonomi keluarga berputar, di sanalah interaksi sosial yang membentuk wajah lokal terus hidup.

Baca juga:  Satpol PP Kota Bandung Seret 33 Pelanggar ke Sidang Tipiring On The Street, "ini tindakan tegas kami"

Mengabaikan pasar tradisional berarti membiarkan fondasi ekonomi rakyat melemah secara perlahan.

Lebih jauh, ada pertanyaan yang tidak bisa terus dihindari: ke mana sebenarnya aliran kontribusi dari pasar itu sendiri?

Setiap hari, pedagang membayar retribusi. Setiap hari ada pemasukan ke kas daerah. Namun, berapa besar kontribusi seluruh pasar tradisional di Karanganyar?

Dan sejauh mana angka itu kembali dalam bentuk perbaikan dan pelayanan?

Retribusi ditarik rutin. Perbaikan datang tidak pasti. Di titik inilah kepercayaan publik mulai diuji.

Pasar Kwadungan seharusnya menjadi alarm, bukan sekadar laporan. Jika satu pasar yang sudah dikunjungi lintas instansi saja belum menunjukkan progres, maka bagaimana dengan pasar lain yang bahkan belum tersentuh perhatian?

Di sinilah peran Pemerintah Kabupaten dan DPRD diuji, bukan hanya sebagai pengelola anggaran, tetapi sebagai penentu arah kebijakan.

Keterbatasan anggaran memang nyata, tetapi bukan alasan untuk berhenti. Justru di situlah diperlukan keberanian untuk menggeser prioritas, menyusun langkah bertahap yang jelas, dan membuka ruang transparansi kepada publik.

Baca juga:  Kebun Percontohan Margo Mulyo, Langkah Nyata Menuju Kedaulatan Pangan Desa

Momentum ini seharusnya tidak berhenti di pasar Kwadungan. Ini saatnya melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh pasar tradisional di Karanganyar—memetakan persoalan, menetapkan skala prioritas, dan memastikan ada rencana aksi yang benar-benar berjalan, bukan sekadar direncanakan.

Karena pada akhirnya, cara sebuah daerah memperlakukan pasar tradisionalnya adalah cermin paling jujur tentang keberpihakan.

Dan dari pasar Kwadungan, kita belajar satu hal sederhana: jika ruang ekonomi rakyat harus selalu menunggu, maka yang sedang ditunda bukan hanya perbaikan—tetapi juga keadilan.