Berita  

Harga Minyak Senin (4/4) Terkoreksi, Genjatan Senjata di Timur Tengah Jadi Pemicu

Harga Minyak Senin (4/4) Terkoreksi, Genjatan Senjata di Timur Tengah Jadi Pemicu
Harga minyak pagi ini (04/04/2022) terkoreksi, dipicu oleh genjatan senjata di Timur Tengah. (Foto: Shutterstock)

Porosmedia.com Harga minyak pada perdagangan Senin (04/04/2022) pagi terkoreksi, diduga genjatan senjata yang terjadi di Timur Tengah menjadi pemicunya. Pada pagi ini pukul 06.00 WIB, harga minyak jenis west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei 2022 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 98,46 per barel, dimana turun 0,81% dari akhir pekan lalu yang tercatat di US$ 99,27 per barel.

Mengutip Reuters, Senin (04/04/2022), harga minyak terkoreksi setelah Uni Emirat Arab dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyambut gencatan senjata yang akan menghentikan operasi militer di perbatasan Saudi-Yaman, mengurangi beberapa kekhawatiran tentang masalah pasokan potensial.

Pekan lalu, harga minyak turun 13%, penurunan mingguan ini menjadi yang terbesar dalam dua tahun ketika Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengumumkan rilis cadangan minyak AS terbesar yang pernah ada.

Kantor Berita Uni Emirat Arab WAM memberitakan, Uni Emirat Arab (UEA) menyambut baik pengumuman gencatan senjata yang dijembatani oleh PBB di Yaman. Di samping itu, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran, yang telah memerangi koalisi termasuk UEA di Yaman, juga turut menyambut baik gencatan senjata tersebut.

Baca juga:  NATO Prediksi Perang Ukraina-Rusia Akan Berlangsung Lama

Seorang utusan PBB mengatakan, gencatan senjata nasional ini merupakan yang pertama selama bertahun-tahun dalam konflik yang telah terjadi selama tujuh tahun di Yaman dan akan memungkinkan impor bahan bakar ke daerah-daerah yang dikuasai Houthi dan beberapa penerbangan beroperasi dari bandara Sanaa, Yaman.

“Ini adalah ancaman terhadap pasokan, dan gencatan senjata akan mengurangi ancaman itu terhadap pasokan,” ungkap Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group.

Pelaku pasar khawatirkan pasokan global sejak terjadinya invasi Rusia ke Ukraina pada akhir Februari lalu. Sanksi yang dikenakan pada Rusia atas invasi itu mengganggu pasokan minyak dan mendorong harga minyak di angka hampir $140 per barel, tertinggi dalam sekitar 14 tahun.

Pada Kamis lalu, Biden mengumumkan pelepasan 1 juta barel per hari (bph) minyak mentah selama enam bulan mulai dari Mei, dengan sekitar 180 juta barel ini menjadi rilis terbesar yang pernah ada dari Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS.

Jumat nya, negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) atau Badan Energi Internasional berkomitmen untuk pelepasan minyak terkoordinasi lainnya dalam pertemuan luar biasa, menurut kementerian industri Jepang.

Baca juga:  Papua Sayang Papua Malang, Dalam Kendali Kapitalisme

Namun, “ketika Anda melihat rilis dari SPR, masih ada banyak pertanyaan tentang bagaimana mereka akan mengeluarkan semua minyak itu dari sana,” beber Flynn.

“Kita harus menunggu dan melihat.” lanjutnya.

Sementara itu, raksasa energi milik Rusia Gazprom mengatakan pada hari Minggu lalu bahwa pihaknya terus memasok gas alam ke Eropa melalui Ukraina dimana hal ini sejalan dengan permintaan dari konsumen Eropa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *